Dedi Hernawan Dorong Petani Bandung Barat Siapkan Sayuran Berkualitas Ekspor

Bandung Barat Profil

https://liputan9news.com

Lembang, 4 Nov 2026 Potensi pertanian sayuran di Kecamatan Lembang, Cisarua, dan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, didorong untuk memiliki akses lebih luas ke pasar internasional. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan Desa Bisa Ekspor yang diinisiasi melalui komunikasi dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, selama 4-5 November 2026.

Program ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan petani dalam memahami kebutuhan pasar luar negeri, memenuhi standar kualitas produk, serta membangun kesiapan produksi dan pemasaran yang berkelanjutan.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Bandung Barat sekaligus anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bandung Barat, Dedi Hernawan, mengatakan pelaksanaan pelatihan tersebut berawal dari inisiatif untuk menghadirkan program pemerintah pusat bagi petani di kawasan sentra sayuran.

Menurut Dedi, Bandung Barat memiliki potensi pertanian yang cukup besar, khususnya di Kecamatan Lembang, Cisarua, dan Parongpong. Ketiga wilayah tersebut memiliki komoditas sayuran yang selama ini menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik.

“Ini sebetulnya permintaan kita ke Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Karena di sana ada program Desa Bisa Ekspor, kita berinisiatif meminta program ini untuk disosialisasikan atau dilaksanakan di Kecamatan Lembang,” ujar Dedi.

Ia menjelaskan, peserta pelatihan berasal dari kelompok tani di tiga kecamatan tersebut. Pelibatan petani lintas wilayah diharapkan membuka kesempatan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan yang memiliki peluang dipasarkan ke luar negeri.

Pelatihan berlangsung dengan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan petani. Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengetahuan ekspor, termasuk prosedur dan dokumen yang diperlukan dalam perdagangan internasional.

Selanjutnya peserta dijadwalkan bertemu dengan sejumlah pembeli dari perusahaan eksportir. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi ruang komunikasi untuk mengetahui kebutuhan pasar, jenis komoditas yang diminati, volume pasokan, serta persyaratan kualitas yang harus dipenuhi.

Bagi Dedi, kepastian pemasaran merupakan persoalan penting dalam keberlanjutan usaha pertanian. Petani membutuhkan informasi mengenai siapa yang akan membeli hasil panen, berapa jumlah yang dibutuhkan, serta kualitas seperti apa yang harus disiapkan.

“Jadi dengan pemasaran ekspor ini harga lebih terjamin, kuantitas dan kualitasnya juga lebih terjamin, karena para petani membutuhkan kepastian pasar,” katanya.

Namun, ia menilai peluang ekspor tidak dapat diwujudkan hanya melalui pelatihan. Diperlukan keterlibatan pemerintah daerah untuk memperkuat kebijakan, pembinaan, dan dukungan anggaran bagi sektor pertanian.

Dedi menempatkan sinergi pemerintah pusat dan daerah sebagai bagian penting dalam proses tersebut. Pemerintah pusat diharapkan membuka akses pengetahuan dan peluang perdagangan, sedangkan pemerintah daerah perlu menindaklanjutinya melalui program yang mendukung kebutuhan petani.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua KTNA dan anggota DPRD, Dedi juga menekankan pentingnya memperkuat kelembagaan kelompok tani. Kerja sama antarkelompok diperlukan agar petani dapat mengumpulkan hasil produksi dalam jumlah yang memadai, menjaga keseragaman kualitas, dan memenuhi permintaan pembeli secara berkelanjutan.

Menurut dia, kemitraan dengan perusahaan swasta maupun eksportir perlu dibangun agar petani tidak berjalan sendiri dalam menghadapi pasar internasional.


Ia bahkan melihat peluang pengembangan wilayah pemasok di luar tiga kecamatan tersebut. Gununghalu, misalnya, dapat dipertimbangkan sebagai salah satu kawasan pengembangan produksi karena memiliki kondisi iklim yang berpotensi mendukung kegiatan pertanian.

“Ke depannya, melalui peningkatan peran kelembagaan petani, mudah-mudahan terjadi kerja sama antara beberapa swasta atau eksportir dengan kelompok tani yang ada di tiga kecamatan ini,” ujar Dedi.

Kualitas Produk Menjadi Syarat Pasar Ekspor

Fasilitator pelatihan sekaligus asesor kompetensi ekspor bersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Nursyamsu Mahyuddin, menjelaskan bahwa petani Lembang sebenarnya telah memiliki modal berupa pengalaman budidaya dan kemampuan menghasilkan berbagai jenis sayuran berkualitas.

Komoditas seperti kol, sawi, tomat, kentang, lettuce, horenzo atau bayam Jepang, hingga cabai memiliki peluang untuk dikembangkan sesuai kebutuhan pasar internasional.


Nursyamsu menyebut Singapura, Malaysia, dan Taiwan sebagai beberapa negara yang memiliki peluang pasar bagi produk sayuran Indonesia.

“Kalau dibandingkan apakah lebih susah mencari pembelinya atau menyiapkan barangnya, pembelinya sebetulnya terhampar. Banyak peluangnya. Problemnya adalah bagaimana petani bersedia menyiapkan barang sesuai dengan yang disyaratkan pembeli,” katanya.

Dalam materi pelatihannya, ia menjelaskan bahwa perdagangan ekspor memiliki persyaratan yang lebih terperinci dibandingkan pemasaran biasa. Pembeli memperhatikan kesegaran, ukuran, warna, kebersihan, keamanan pangan, keseragaman, hingga ketepatan waktu pengiriman.


Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah penggunaan pestisida. Petani harus memahami batas maksimal residu pestisida atau Maximum Residue Limit (MRL), yaitu batas sisa pestisida yang diperbolehkan pada produk pertanian.

Selain itu, pencatatan penggunaan pestisida, waktu penyemprotan, dan jarak waktu antara penyemprotan terakhir dengan panen menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan produk.
Penanganan setelah panen juga menentukan kualitas sayuran. Proses tersebut mencakup penyortiran, pengelompokan berdasarkan ukuran dan mutu, pembersihan, pendinginan awal, pengemasan, serta penyimpanan pada suhu yang sesuai.

Nursyamsu menjelaskan, setiap komoditas memiliki karakteristik penyimpanan berbeda. Tomat, misalnya, tidak dapat diperlakukan sama dengan sayuran daun karena memiliki kebutuhan suhu yang berbeda.

Karena itu, fasilitas bersama seperti rumah kemas, tempat penyortiran, dan penyimpanan dingin perlu dikembangkan secara bertahap melalui kerja sama kelompok tani.

Ia menilai keberadaan kelompok tani di Lembang menjadi modal penting untuk membangun sistem produksi bersama. Petani dapat mengumpulkan hasil panen, menyamakan standar kualitas, serta memenuhi kebutuhan pembeli dalam jumlah yang lebih besar.

Nursyamsu juga menyampaikan bahwa program Desa Bisa Ekspor direncanakan berlanjut melalui pendampingan agar petani dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh hingga memiliki kesiapan memasuki pasar ekspor.

Membangun Kesiapan dari Lingkungan Kebun

Selain materi pembelajaran, Dedi menilai lokasi pelatihan di kawasan kebun Desa Cibodas memberikan suasana yang sesuai dengan karakter kegiatan pertanian.
Menurut dia, pembelajaran yang berlangsung dekat dengan lingkungan produksi memungkinkan peserta lebih mudah menghubungkan materi dengan kondisi yang mereka hadapi sehari-hari.

“Pelatihan-pelatihan pertanian ini alangkah baiknya dengan suasana yang didekatkan di kebun. Kita mengambil tempat di kebun yang ternyata memang antusias para peserta sangat respek sekali,” katanya.

Pelatihan yang diikuti perwakilan 25 kelompok tani tersebut dihadiri Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan RI Rifan Ardianto dan Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Jawa Barat Nining Yuliastiani.

Turut hadir anggota IKKD DPRD Kabupaten Bandung Barat Masayu, kepala Desa Cibodas Dindin Sukaya, serta para petani dari kawasan Lembang, Cisarua, dan Parongpong.

Melalui kegiatan ini, pengembangan pertanian berorientasi ekspor diharapkan dapat dibangun secara bertahap. Penguatan kelompok tani, perbaikan kualitas produksi, pemenuhan standar keamanan pangan, serta kemitraan dengan perusahaan eksportir menjadi sejumlah aspek yang perlu ditindaklanjuti.

Bagi Dedi, tujuan akhirnya adalah membuka kepastian pasar yang lebih baik bagi petani. Potensi sayuran Bandung Barat diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memiliki kesempatan untuk bersaing di pasar internasional melalui produksi yang berkualitas dan berkesinambungan. (aq-nk)

Berikut Presentasi Lengkap Nursyamsu, silakan klik Presentasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *