​Sindy Amira Nur’ Alifah :Siswa Ma Nurul Falah Raih Juara dengan Busana Daur Ulang Bertema Merak Hijau

Bandung Barat Pendidikan Profil

Cililin, 30 Agustus 2026. Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia bergema hingga ke pelosok desa. Di Desa Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, perayaan sederhana namun sarat makna digelar, salah satunya melalui lomba peragaan busana (fashion show) yang unik. Alih-alih menampilkan koleksi desainer ternama, panggung justru menjadi saksi kreativitas para peserta dalam mengolah bahan limbah menjadi busana yang memukau. Di antara deretan peserta, Sindy Amira Nur’ Alifah, seorang pelajar kelas 2 Madrasah Aliyah (MA) Nurul Falah, tampil sebagai juara pertama, mencuri perhatian dengan busana bertema burung merak dari bahan daur ulang.

​Perayaan tahun ini di Desa Cililin memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Terbatasnya anggaran menyebabkan kemeriahan seperti karnaval ditiadakan, digantikan dengan kegiatan yang lebih sederhana. Meskipun demikian, antusiasme warga dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Ketua RT dan RW, menjaga semangat kemerdekaan tetap menyala. “Tahun kemarin bisa meriah dibanding peringatan hari ini. Mudah-mudahan tahun ke depan bisa kembali ramai seperti biasa. Akan tetapi tetap acara yang termeriah adalah di milangkala atau hari ulang tahun desa cililin pada bulan-bulan kemarin,” ujar Tedi Kusnadi, Kepala Desa Cililin.

​Kehadiran lomba peragaan busana ini bukan tanpa alasan. Irma Rachmawati, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Desa Cililin, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendukung talenta kreatif dan kepekaan lingkungan. “Fashion show ini menggunakan bahan daur ulang sehingga unik dan menjadikan kreativitas yang tak terhingga,” jelasnya. Dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar, para peserta didorong untuk berpikir kritis dalam melihat potensi dari setiap barang, sekaligus menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

​Sindy, mewakili RW 09 Desa Cililin, awalnya tidak berencana untuk ikut serta. Dorongan dari lingkungan membuatnya akhirnya memutuskan untuk menampilkan busana yang ia rancang dan buat sendiri. Siswi kelas 2 MA Nurul Falah ini bukanlah pemula dalam dunia pembuatan kostum. Ketertarikannya pada bidang seni, khususnya pembuatan kostum untuk karnaval atau perayaan 17 Agustus, telah ia asah sejak duduk di bangku kelas 9 Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Saya pikir-pikir lagi, saya pemahir di bidang seni, apalagi kostum. Saya sudah membuat kostum untuk karnaval atau perayaan 17 Agustus dari kelas 9 SMP, dan Alhamdulillah selalu juara,” kenangnya dengan nada syukur.

​Ketertarikan Sindy pada seni kostum tidak lepas dari kecintaannya pada budaya dan alam Indonesia. Hal ini tercermin dari tema burung merak yang ia pilih untuk busana rancangannya. “Untuk tema-nya, saya mengambil tema burung merak, karena saya pikir Indonesia ini harus dilestarikan dengan budaya alam dan agamanya,” ungkap Sindy. Bagi Sindy, burung merak, khususnya merak hijau, melambangkan keindahan alam Indonesia yang harus dijaga. Ia pun berusaha memadukan keindahan alam tersebut dengan konsep ball gown modern, menciptakan sebuah karya yang unik dan bermakna. “Saya mengambil nuansa alam, termasuk hewan, yaitu burung merak hijau. Jadi, saya menggabungkannya dengan konsep modern, yaitu gaun yang ball gown, agar memadukan antara perpaduan alam Indonesia dengan budaya modernnya,” tambahnya.

​Proses pembuatan busana daur ulang ini bukanlah hal yang mudah. Di balik keindahan yang ditampilkan di panggung, terdapat perjuangan dan kreativitas untuk mengubah limbah menjadi karya seni. Rangka ball gown yang ia kenakan terbuat dari kawat yang dibentuk bulat bertumpuk dan karung bekas yang ia minta dari peternak bebek. Karung-karung tersebut harus dicuci bersih sebelum digunakan. Untuk memberikan detail pada busana, Sindy menggunakan botol-botol air mineral bekas yang ia gunting spiral dan tempelkan dengan menggunakan stapler. “Untuk memberi warna, saya cat dengan cat semprot pylox, menggunakan warna hijau mint agar masuk ke warna burung merak-nya,” jelasnya.

​Bagian sayap dan ekor burung merak menjadi salah satu bagian yang paling detail. Sindy menggunakan plastik bening dan kayu sebagai kerangka, kemudian menutupinya dengan plastik berwarna hijau untuk menirukan keindahan bulu merak. Kreasi busana ini juga menampilkan kain batik sebagai bentuk penghormatan Sindy terhadap salah satu warisan budaya Indonesia. “Saya ingin di konsep gaun yang kali ini, saya ingin memadukan antara kain batik dengan burung merak, karena Indonesia identik dengan batiknya,” tutur Sindy. Sayap pada busana ini bahkan dirancang agar bisa terbuka atau mengembang, menambah keindahan saat ia berjalan di panggung.

​Kemenangan ini menjadi motivasi besar bagi Sindy untuk terus mengasah bakatnya di bidang pembuatan kostum. “Harapan saya ke depannya, semoga di bidang saya yang bisa membuat kostum ini, ingin di asah lebih dalam dan saya harap bisa mengikuti lomba-lomba yang begitu banyak dan menjadi juara,” harapnya. Ia pun bertekad untuk dapat mewakili daerahnya dalam ajang lomba di tingkat yang lebih tinggi. “Tentunya mewakili daerah sendiri,” tegasnya dengan semangat.

​Desa Cililin, tempat berlangsungnya perayaan ini, merupakan pusat pemerintahan dari Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Desa ini juga menjadi rumah bagi fasilitas-fasilitas penting seperti kantor Polsek Cililin dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cililin. Kecamatan Cililin sendiri membawahi 11 desa dan sering dianggap sebagai pusat kegiatan regional di bagian barat Kabupaten Bandung Barat. Di samping posisinya sebagai pusat administrasi, Cililin juga dikenal dengan kuliner khasnya, yaitu wajit cililin, yang merupakan jajanan tradisional berbahan dasar ketan, kelapa, dan gula merah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *