Kabupaten Bandung Bidik Atlet Terbaik Lewat Seleksi Antar Perguruan Silat

Kabupaten Bandung Nasional

Kabupaten Bandung, 16 Mei 2026. Riuh tepuk tangan dan suara aba-aba pelatih bergema di Gymnasium Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Sabtu, 16 Mei 2026. Ratusan atlet dari berbagai perguruan pencak silat bertanding dalam seleksi daerah cabang olahraga pencak silat tingkat Kabupaten Bandung.

Ajang yang diikuti 234 atlet itu menjadi pintu awal perebutan tiket menuju tim pencak silat Kabupaten Bandung untuk seleksi tingkat Jawa Barat. Meski dikemas dalam format pertandingan antarperguruan, panitia menegaskan kegiatan tersebut bukan sekadar kejuaraan biasa.

“Sebetulnya ini adalah seleksi pekan olahraga wilayah. Juara pertama nanti akan menjadi tim Kabupaten Bandung untuk diseleksikan lagi di tingkat Jawa Barat,” kata Wakil Sekretaris Umum IPSI Kabupaten Bandung, Dindin, saat ditemui di sela kegiatan.

Menurut Dindin, atlet yang lolos pada tahap ini akan kembali menjalani seleksi tingkat Jawa Barat yang direncanakan berlangsung pada Juni hingga Juli mendatang. Dari proses itu, atlet terbaik akan diproyeksikan memperkuat daerah dalam agenda olahraga tingkat provinsi.

Seleksi tahun ini memperlihatkan peningkatan partisipasi perguruan silat. Jika dua tahun lalu tercatat 34 perguruan ikut serta, kini jumlahnya bertambah menjadi 37 perguruan.

Perguruan yang ambil bagian antara lain Riska Diri, Tadjimalela, Sinar Pusaka Putra Majalaya, Sabuk Putih, Kujang Kencana, Balebat Nabawi, Macan Pusaka Nusantara, Seketunggal Medal Pusaka, Sindo Internasional, Gentra Mekar, Pusaka Sunda Perkasa, Riksa Budi Kiwari, Bela Diri Saya Rasa, Pager Kancana Gerak Raga Buana, Merpati Putih, Ciung Wanara, Perisai Diri, Marga Hurip Indonesia, Putra Sindangpanon, Raksa Budhi, Raga Langit, Riksa Diri, PSTD Indonesia, Sinar Banten, Persinas Asad, dan Si Macan Tutul Marga Asih.

Peningkatan jumlah peserta dinilai tidak hanya terlihat dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas pembinaan di tingkat perguruan. Setiap perguruan kini mampu mengirim lebih banyak atlet dibanding periode sebelumnya.

“Kalau dulu mungkin satu perguruan hanya tiga sampai empat atlet. Sekarang hampir maksimal karena kami membatasi 12 atlet per perguruan,” ujar Dindin.
Pembatasan itu dilakukan agar proses seleksi lebih kompetitif dan fokus pada pencarian atlet terbaik. IPSI Kabupaten Bandung menilai pembinaan di tingkat perguruan mulai menunjukkan hasil yang lebih merata.

Nomor pertandingan yang dipertandingkan terdiri atas kategori tanding dan jurus. Untuk kategori putra tersedia 23 kelas, sedangkan putri 21 kelas. Selain nomor tanding, terdapat pula nomor seni jurus seperti tunggal, ganda, dan regu.

“Total ada 44 kelas. Dari jurus ada tunggal satu orang, ganda dua orang, dan regu tiga orang,” kata Dindin.

Meski panitia menyediakan piala dan medali, perhatian utama atlet disebut bukan pada penghargaan simbolik. Mereka memburu status sebagai wakil resmi Kabupaten Bandung.

“Yang dinanti atlet itu lolos seleksi juara pertama dan jadi tim Kabupaten Bandung,” ujar dia.
Dalam beberapa tahun terakhir, pencak silat di Kabupaten Bandung berkembang sebagai salah satu cabang olahraga dengan basis perguruan yang cukup aktif. Kehadiran banyak perguruan membuat proses regenerasi atlet relatif berjalan dibanding sejumlah cabang olahraga lain yang masih bergantung pada pembinaan sekolah atau klub terbatas.

Namun, di balik tingginya antusiasme, persoalan pembinaan pascaseleksi masih menjadi perhatian. Dindin mengakui pihaknya berharap ada dukungan lebih lanjut terhadap atlet yang nantinya lolos menjadi bagian tim Kabupaten Bandung.

Ia menyebut IPSI Kabupaten Bandung berada di bawah pembinaan KONI dan mendapat pendampingan dari Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bandung. Dalam pertemuan bersama sekitar 65 cabang olahraga beberapa hari sebelumnya, Bupati Bandung disebut mendorong penguatan pembinaan atlet daerah.

“Memang diharapkan untuk membina para atlet-atlet yang support untuk Kabupaten Bandung. Tentunya ini akan membawa Kabupaten Bandung supaya lebih bedas lagi,” kata Dindin.

Meski demikian, ia mengisyaratkan harapan agar dukungan itu tidak berhenti pada dorongan moral. Menurut dia, atlet yang berhasil lolos seleksi memerlukan perhatian lanjutan, baik dalam bentuk pembinaan maupun dukungan kesejahteraan.

Saat ditanya mengenai kemungkinan uang pembinaan bagi atlet yang lolos seleksi, Dindin mengaku belum mengetahui secara pasti kebijakan yang akan diberikan. Namun ia berharap ada perhatian dari pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan olahraga.

“Mudah-mudahan ada, apakah dari KONI, Dispora, atau dari bupati sekaligus. Biar mereka semangat,” ujarnya.

Harapan serupa kembali ia sampaikan pada akhir wawancara. Menurut dia, keberhasilan seleksi akan lebih bermakna jika diikuti kesinambungan pembinaan yang jelas bagi atlet muda Kabupaten Bandung.

“Setidaknya ini menjadi barometer buat mereka ke depannya seperti apa,” kata Dindin.

Di tengah persaingan yang ketat, seleksi di Gymnasium Jalak Harupat bukan sekadar arena perebutan medali. Bagi para pesilat muda, gelanggang itu menjadi ruang pembuktian untuk menembus level yang lebih tinggi sekaligus menjaga tradisi pencak silat tetap hidup di Kabupaten Bandung. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *