SPPG Pangauban Uji Kualitas Menu MBG di Mahardika, Hendrik Irawan: Standar Dapur Menentukan Kepercayaan Publik

Blog

Batujajar, 26 Juni 2026. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran atau luasnya jangkauan penerima manfaat. Keberhasilan program juga ditentukan oleh kualitas dapur, keamanan pangan, serta konsistensi para mitra dalam memenuhi standar operasional. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Demo Masak dan Edukasi Gizi yang dilaksanakan SPPG Pangauban di Kampus 2 SMP dan SMK Mahardika, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jumat, 26 Juni 2026.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengenalan menu MBG kepada siswa, orang tua, dan pihak sekolah sebelum program mulai berjalan di lingkungan SMP dan SMK Mahardika pada pertengahan Juli mendatang. Selain memperlihatkan proses memasak dalam skala besar, penyelenggara juga memperkenalkan standar penyediaan makanan yang diterapkan di dapur SPPG Pangauban.

Owner SPPG Pangauban, Hendrik Irawan, menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan itu bukan sekadar memperkenalkan menu, melainkan membangun keyakinan bahwa makanan yang disiapkan memenuhi standar kualitas. Menurut dia, kepercayaan masyarakat terhadap Program Makan Bergizi Gratis hanya dapat dibangun melalui pelayanan yang dapat diuji secara langsung.

“Saya ingin membuktikan bahwa makanan dan minuman yang kami sajikan berkualitas. Program ini harus dijalankan dengan baik oleh seluruh mitra yang benar-benar mendukung kebijakan pemerintah,” kata Hendrik.

Ia menyebut pengalaman hampir dua puluh tahun di industri katering dan penyediaan makanan menjadi modal penting dalam mengelola distribusi makanan dalam jumlah besar. Pengalaman tersebut, menurutnya, membantu memastikan setiap tahapan, mulai dari penyusunan menu, proses memasak, hingga penyajian, berjalan sesuai prosedur.

Di tengah berkembangnya perhatian publik terhadap pelaksanaan MBG di berbagai daerah, Hendrik menilai pengawasan terhadap dapur penyedia makanan merupakan langkah yang tidak dapat dihindari. Ia bahkan menilai evaluasi terhadap dapur yang belum memenuhi persyaratan justru diperlukan agar kualitas layanan tetap terjaga.

“Kalau ada dapur yang tidak layak atau kurang memenuhi standar, memang harus disesuaikan. Kualitas harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Pernyataan itu menjadi sorotan karena dalam beberapa waktu terakhir muncul evaluasi terhadap sejumlah dapur MBG di berbagai daerah. Hendrik memilih melihat kondisi tersebut sebagai proses pembenahan, bukan ancaman bagi keberlangsungan program. Baginya, standar yang ketat justru akan memperkuat kredibilitas MBG di mata masyarakat.

Ia juga mengajak seluruh mitra tidak menutup diri terhadap pengawasan. Menurut dia, dapur penyedia makanan harus siap diperiksa kapan pun sebagai bentuk akuntabilitas kepada masyarakat dan penerima manfaat.

“Kita jangan menutup akses apabila ada yang ingin mengecek dapur. Justru itu bagian dari tanggung jawab agar kualitas tetap terjaga,” katanya.

Kepala SMP Mahardika, H. Mamat Rahmatullah, menyatakan sekolah menyambut positif pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Ia mengatakan siswa akan mulai menerima manfaat program tersebut pada 13 Juli 2026 setelah masa libur sekolah berakhir.

Menurut Mamat, pemenuhan gizi merupakan bagian penting dalam mendukung proses belajar. Harapannya, peserta didik tidak hanya memperoleh asupan makanan yang lebih baik, tetapi juga memiliki kondisi fisik yang mendukung peningkatan prestasi akademik.

“Semoga kebutuhan gizi anak-anak dapat terpenuhi sehingga mereka lebih sehat, lebih semangat belajar, dan mampu berprestasi,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala SMK Mahardika, Hj. Nia Herdiani, berharap pelayanan yang diberikan SPPG Pangauban dapat berlangsung secara berkelanjutan. Ia menilai keberhasilan program akan sangat bergantung pada konsistensi kualitas pelayanan, bukan hanya pada tahap awal pelaksanaan.

Hendrik mengungkapkan, hingga saat ini SPPG Pangauban telah melayani lima sekolah tanpa kendala berarti. Ia juga mengklaim tingkat kepuasan terhadap menu yang diperkenalkan kepada pihak sekolah mencapai hasil yang menggembirakan. Namun, ia menegaskan bahwa kepuasan tersebut bukan alasan untuk mengurangi standar pelayanan.

Justru sebaliknya, setiap mitra dituntut terus meningkatkan kualitas dapur, peralatan, kemasan makanan yang telah memiliki sertifikasi, serta disiplin dalam menerapkan standar keamanan pangan.

Pada akhirnya, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak akan diukur dari banyaknya dapur yang beroperasi ataupun jumlah porsi yang didistribusikan setiap hari. Ukurannya terletak pada kemampuan seluruh penyelenggara menjaga mutu makanan, menjamin keamanan konsumsi, dan membangun kepercayaan publik melalui praktik yang transparan. Tanpa tiga unsur tersebut, program sebesar apa pun akan sulit mempertahankan legitimasi di tengah masyarakat. Sebaliknya, ketika kualitas dijadikan fondasi utama, MBG berpeluang menjadi salah satu investasi jangka panjang dalam membangun kesehatan dan kualitas generasi muda Indonesia. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *