Cililin, 4 Sept 2026 Sebanyak 16 siswa SD Negeri Budiharja, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, masih menggunakan rakit untuk menyeberangi Waduk Saguling setiap hari sekolah. Dari Sadang menuju Gombong, mereka menempuh jalur air karena akses darat menuju sekolah memutar hingga hampir 4 kilometer.
Penyeberangan itu dilakukan pagi dan siang hari, ketika siswa berangkat dan pulang sekolah. Rakit bambu bergerak dengan bantuan tali yang dibentangkan dari satu tepian ke tepian lainnya. Warga yang berada di atas rakit menarik tali tersebut agar rakit dapat bergerak melintasi perairan.
Dalam kondisi tertentu, Ketua RT setempat atau penjaga sekolah membantu menggerakkan rakit. Hal itu terjadi antara lain ketika siswa yang menaiki rakit tidak mampu menarik tali karena ukuran tubuh dan tenaga mereka belum memadai.
Kondisi tersebut kembali menjadi perhatian publik setelah aktivitas para siswa menyeberangi Waduk Saguling beredar luas di media sosial. Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail kemudian melakukan peninjauan lapangan untuk melihat kebutuhan akses penghubung yang lebih aman bagi siswa dan masyarakat.
Kepala SD Negeri Budiharja Taufik mengatakan sekolah menyambut perhatian pemerintah terhadap persoalan tersebut. Menurut dia, keselamatan siswa menjadi pertimbangan utama karena perjalanan menggunakan rakit berlangsung setiap hari.
“Yang penting mah anak-anak aman dalam perjalanannya karena kami pun sangat was-was kalau tiap hari anak-anak di atas rakit,” kata Taufik.
Saat ini, jarak penyeberangan dari tepian Kampung Sadang menuju Kampung Gombong diperkirakan sekitar 300 meter. Waktu tempuh menggunakan rakit berkisar 10 hingga 20 menit, bergantung pada kondisi perairan dan jalur yang dilalui.

Perjalanan di atas waduk juga tidak selalu berjalan lancar. Hamparan eceng gondok terkadang menghambat pergerakan rakit. Jaring nelayan yang berada di perairan dapat tersangkut sehingga harus dilepaskan. Rumah apung yang berada di jalur penyeberangan juga terkadang perlu dipindahkan terlebih dahulu agar rakit dapat melintas.
Kepala Desa Budiharja Ahmad Syarif Hidayat menyambut baik langkah Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail yang memberikan perhatian terhadap persoalan akses siswa SD Negeri Budiharja yang selama ini harus menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit. Ia menyampaikan terima kasih atas kepedulian dan langkah pemerintah dalam mencari solusi bagi siswa maupun masyarakat.
Ahmad berharap upaya tersebut dapat segera ditindaklanjuti sehingga persoalan penyeberangan dapat terselesaikan dengan cepat dan anak-anak memiliki akses menuju sekolah yang lebih aman dan nyaman.

Dari sisi waktu dan jarak, jalur air memang lebih singkat dibandingkan jalur darat. Jika menggunakan jalan darat, warga Kampung Sadang harus mengikuti jalur yang memutar. Untuk anak-anak, perjalanan tersebut dapat memakan waktu sekitar setengah jam dengan berjalan kaki.
Penggunaan rakit untuk menuju sekolah bukan persoalan yang baru muncul. Penyeberangan tersebut telah berlangsung sejak sekitar 1990, ketika pembangunan Waduk Saguling menyebabkan sejumlah kawasan yang sebelumnya terhubung melalui daratan menjadi terpisah oleh perairan.
Seiring waktu, rakit menjadi salah satu sarana yang digunakan warga, termasuk siswa SD Negeri Budiharja. Sekolah dan masyarakat mempertahankan cara tersebut karena jalur air merupakan akses yang lebih pendek menuju lokasi sekolah.

Taufik mengatakan, pembangunan jembatan akan memberikan manfaat yang lebih luas daripada hanya mempermudah perjalanan siswa. Akses tersebut juga akan membantu masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari serta memperpendek perjalanan menuju pusat pelayanan desa.
“Yang menerima manfaat masyarakat, baik pelayanan untuk ke desa itu lebih dekat,” ujar Taufik.
Menurut dia, apabila tersedia jembatan, perjalanan siswa menuju sekolah diperkirakan hanya membutuhkan sekitar lima hingga tujuh menit. Sementara itu, jalur alternatif yang selama ini harus ditempuh warga lebih panjang karena mengikuti kontur jalan yang memutar.
Rencana pembangunan jembatan masih perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kemampuan anggaran pemerintah. Titik penyeberangan yang saat ini digunakan memiliki jarak sekitar 300 meter, sedangkan pemerintah disebut akan mencari trase dengan jarak paling pendek. Salah satu perkiraan jalur yang dikaji berada di kisaran 150 meter.

Di tengah pembahasan mengenai jembatan, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menyiapkan solusi sementara berupa kendaraan antar-jemput bagi 16 siswa tersebut. Kebijakan ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan siswa terhadap rakit sembari menunggu keputusan mengenai pembangunan akses penghubung.
Kebijakan itu menjadi penting karena kebutuhan siswa untuk mencapai sekolah berlangsung setiap hari, sementara pembangunan infrastruktur membutuhkan kajian teknis, penentuan trase, koordinasi lintas pemerintahan, dan ketersediaan anggaran.
Taufik mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap kondisi anak didiknya. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah desa, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, serta pihak lain yang telah turun melihat kondisi penyeberangan.
“Harapan Bapak semoga terlaksana. Secepatnya terlaksana,” kata Taufik ketika menyampaikan harapannya mengenai pembangunan jembatan.

Ia juga menegaskan bahwa sekolah terbuka terhadap bentuk solusi yang dapat diberikan pemerintah. Namun, menurut dia, jembatan akan menjadi pilihan yang lebih berkelanjutan karena dapat digunakan tidak hanya oleh siswa, tetapi juga oleh masyarakat.
“Kalau jembatan kan sekali membangun sudah. Tidak memikirkan apa-apa. Manfaatnya banyak sekali,” ujarnya.
Persoalan akses di Kampung Sadang menunjukkan bahwa jarak geografis tidak selalu dapat diukur hanya dari panjang lintasan. Bagi siswa, jalur yang secara fisik hanya beberapa ratus meter melalui waduk dapat menjadi perjalanan yang membutuhkan sarana khusus dan pendampingan orang dewasa.
Untuk sementara, rakit masih menjadi bagian dari perjalanan sekolah 16 siswa SD Negeri Budiharja. Namun, perhatian pemerintah dan rencana penyediaan transportasi antar-jemput membuka pilihan yang lebih aman sambil menunggu kepastian mengenai akses penghubung permanen.

Bagi sekolah dan warga, penyelesaian persoalan itu diharapkan tidak berhenti pada pemindahan jalur perjalanan siswa. Akses yang lebih aman juga diharapkan memperbaiki hubungan antarkawasan, memudahkan aktivitas masyarakat, serta memastikan anak-anak dapat pergi dan pulang sekolah tanpa harus bergantung pada penyeberangan rakit di Waduk Saguling. (Nk)