Dedikasi Kepsek Juarni Menjaga Nyala Edukasi SDN Sinarjaya di Ujung Masa Bakti

Bandung Barat Pendidikan

Batujajar, 3 Sept 2026 Deru mesin konstruksi dan debu material bangunan menjadi latar suasana di Sekolah Dasar Negeri Sinarjaya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Di tengah proses perbaikan fasilitas fisik sekolah secara menyeluruh, ritme pembelajaran tidak biarkan terhenti. Para guru dan siswa menyiasati keterbatasan ruang demi memastikan hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi.

​Tahun 2026 menjadi fase penting bagi SDN Sinarjaya yang menerima alokasi program revitalisasi bangunan dari pemerintah. Sebanyak sembilan ruang kelas dan satu ruang administrasi kini sedang menjalani perbaikan besar-besaran. Penataan ini melanjutkan pengerjaan fisik sebelumnya, setelah sekolah memperoleh alokasi Dana Alokasi Khusus APBD berupa perbaikan dua kelas pada 2024 dan satu kelas pada 2025.

​Perubahan fisik sekolah dengan total 12 rombongan belajar dan 503 murid tersebut menghadirkan tantangan tersendiri bagi pihak pengelola. Dari keseluruhan bangunan, praktis hanya tersisa dua ruang kelas yang dapat difungsikan secara aman untuk kegiatan belajar mengajar tatap muka. Meski demikian, aktivitas edukasi tetap berjalan dengan perpaduan metode tatap muka dan pembelajaran jarak jauh secara bergantian.

​Kepala SDN Sinarjaya, Juarni M.P.d, menjelaskan bahwa keputusan tidak meliburkan siswa atau memindahkan kelas belajar ke lokasi lain diambil berdasarkan pertimbangan matang demi menjaga mutu pendidikan. Pihak sekolah menyusun skema penjadwalan yang cermat agar seluruh tingkatan kelas tetap mendapatkan pendampingan belajar yang optimal tanpa mengabaikan aspek keselamatan.

​”Alhamdulillah, walaupun kami mendapatkan perbaikan bangunan, anak-anak tidak diliburkan. Ada sistem dalam jaringan dan ada luar jaringan. Kami sudah melapor ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat bahwa sekolah tetap berjalan menggunakan dua kelas yang tersedia,” ujar Juarni saat ditemui di lokasi sekolah.

​Pengaturan waktu belajar dirancang dengan membagi hari dan jam tatap muka. Untuk kelas tertentu, pembelajaran tatap muka dilakukan bergantian setiap hari. Namun, perlakuan khusus diberikan kepada peserta didik kelas 1 dan kelas 6 agar dapat terus menghadiri pembelajaran tatap muka setiap hari secara bergiliran.

​Pertimbangan mendasar mengenai kebijakan tersebut didasari oleh kebutuhan adaptasi dan persiapan akademis siswa. Siswa kelas 1 membutuhkan pendampingan langsung dalam pembentukan fondasi literasi dan numerasi dasar, sementara siswa kelas 6 memerlukan persiapan intensif menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.

​”Kenapa kelas 1 dan kelas 6 tidak ada pembelajaran jarak jauh penuh? Karena kelas 1 dan kelas 6 sangat krusial dalam pembelajaran. Jika kelas 1 harus belajar daring dalam waktu lama, siswa akan kesulitan menerima materi secara optimal. Kami mencari solusi terbaik agar mereka tetap bisa masuk belajar seperti biasa meski bergiliran,” kata Juarni.

​Dalam penerapannya, area dua kelas yang aman difungsikan nonstop sejak pagi hingga sore. Pembelajaran dibagi menjadi empat sesi tanpa jeda istirahat umum untuk menghindari penumpukan siswa di area proyek konstruksi. Sesi pertama dimulai untuk kelas 1 pada pukul 07.00 hingga 09.00 WIB, dilanjutkan sesi berikutnya hingga pukul 16.00 WIB untuk tingkatan kelas lainnya.

​Selain keterbatasan ruang kelas, aspek sanitasi juga menjadi perhatian mengingat rasio jumlah siswa mencapai 503 orang dengan ketersediaan tiga unit kamar mandi. Guna menjaga ketertiban dan higienitas, sekolah membagi penggunaan fasilitas toilet berdasarkan kelompok, seperti memanfaatkan toilet area kantin untuk siswa laki-laki, area tengah untuk siswa perempuan, serta toilet administrasi untuk staf pengajar.

​Seiring berjalannya proses revitalisasi, pihak sekolah berharap adanya kelanjutan peningkatan fasilitas publik, seperti penambahan toilet yang proporsional serta pembangunan gedung perpustakaan sekolah. Lahan untuk perpustakaan telah disiapkan setelah melalui proses penghapusan aset lama, tinggal menunggu perizinan dan penganggaran selanjutnya.

​Upaya menjaga kelangsungan belajar di tengah perbaikan fasilitas ini menjadi penutup kesan mendalam bagi perjalanan karier Juarni. Setelah puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan, Juarni dijadwalkan memasuki purna tugas sebagai kepala sekolah dalam delapan bulan mendatang. Dedikasi dalam mengawal transisi ini menjadi bagian dari warisan kepemimpinannya di SDN Sinarjaya.

​”Harapan ke depan, pengelolaan edukasi bisa lebih baik. Anak-anak diharapkan bisa menerima pelajaran dengan nyaman karena ruang kelasnya nanti sudah bagus dan representatif,” tutur Juarni menutup pembicaraan. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *