Padalarang. 24 Desember 2025. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus memperkuat upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui pembinaan Lingkungan Bersih dan Sehat (LBS). Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembinaan yang dilaksanakan di Ruang Pertemuan Abipraya Cahaya, Kawaluyaan, Kota Baru Parahyangan, Kecamatan Padalarang, Rabu (24/12/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta yang merupakan perwakilan dari 16 kecamatan se-Kabupaten Bandung Barat. Masing-masing kecamatan mengirimkan dua orang delegasi yang berasal dari unsur kader kesehatan dan penggerak masyarakat. Acara ini menjadi bagian dari kolaborasi strategis antara Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Bandung Barat.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan KBB, dr. Enung Masruroh, hadir sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Turut hadir Mawadah dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat selaku Tim Kerja Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga, serta sejumlah narasumber kompeten di bidang kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Dalam sambutannya, dr. Enung Masruroh menegaskan bahwa pembinaan LBS merupakan fondasi penting dalam upaya promotif dan preventif kesehatan. Ia menyebutkan bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan angka penyakit menular maupun tidak menular.

“Lingkungan yang bersih dan perilaku hidup sehat tidak bisa dibangun secara instan. Dibutuhkan edukasi berkelanjutan, keteladanan, dan peran aktif kader di tingkat kecamatan hingga desa,” ujar dr. Enung.

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan doa yang dipimpin oleh Faisal Firdaus. Selanjutnya, laporan ketua panitia disampaikan oleh Mawaddah, yang memaparkan tujuan kegiatan sebagai upaya meningkatkan kapasitas kader dalam mengedukasi masyarakat terkait perilaku hidup sehat dan pengelolaan lingkungan.

Materi pertama disampaikan oleh Euis Yanti Supartika, S.KM., M.M.Kes., selaku Ketua Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) Cabang Bandung Barat. Dalam paparannya bertajuk Perilaku Hidup Sehat (PHS) 2025, ia menjelaskan indikator kinerja program PHS periode 2025–2029.

Menurut Euis, indikator kinerja program meliputi persentase penduduk yang menerapkan perilaku hidup sehat, seperti aktivitas fisik, cuci tangan pakai sabun, konsumsi buah dan sayur, tidak merokok, serta pemeriksaan tekanan darah dan gula darah minimal satu kali dalam setahun. “Target PHS dimulai dari baseline 15 persen pada 2025 dan diharapkan meningkat hingga 25 persen pada 2029,” jelasnya.
Ia juga menyoroti penguatan Posyandu Siklus Hidup, dengan target minimal 75 persen Posyandu aktif di kabupaten/kota. Selain itu, peningkatan kapasitas kader Posyandu strata madya ditargetkan naik signifikan dari 1,6 persen pada 2025 menjadi 50 persen pada 2029.

Euis menambahkan bahwa PHS merupakan tindakan sadar untuk menjaga kesehatan tubuh, pikiran, dan lingkungan. Enam indikator utama PHS meliputi aktivitas fisik minimal 30 menit per hari, cuci tangan pakai sabun, konsumsi buah dan sayur setiap hari, pemeriksaan tekanan darah dan gula darah, serta tidak merokok.

Ia juga mengaitkan PHS dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang bertujuan menekan penyakit menular dan tidak menular secara berkelanjutan. Prinsip Isi Piringku dengan komposisi 50 persen buah dan sayur serta 50 persen karbohidrat dan protein menjadi salah satu pesan penting, disertai slogan “Aku Tahu, Aku Mau, dan Aku Mampu”.

Materi kedua disampaikan oleh Saeful Uyun dari Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) sebagai narasumber pertama, dengan tema Lingkungan Bersih dan Sehat (LBS) Kabupaten Bandung Barat. Ia menjelaskan syarat rumah sehat, mulai dari penyediaan air bersih, pembuangan tinja dan limbah, pengelolaan sampah, hingga pemisahan kandang ternak dari rumah tinggal.
Saeful menekankan pentingnya sanitasi yang baik, termasuk penggunaan jamban sehat yang tidak mencemari sumber air, memiliki ventilasi, serta dilengkapi leher angsa. Ia juga mengingatkan waktu-waktu penting cuci tangan pakai sabun, seperti sebelum makan dan setelah buang air besar.

Dalam pengelolaan sampah, Saeful mengingatkan risiko kesehatan yang ditimbulkan, seperti diare, demam berdarah dengue (DBD), hingga tetanus pada anak. Oleh karena itu, paradigma pengelolaan sampah harus bergeser ke prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).
Melalui kegiatan ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat berharap para peserta dapat menjadi agen perubahan di wilayah masing-masing. Dengan penguatan pengetahuan dan praktik PHS serta LBS, diharapkan tercipta masyarakat Bandung Barat yang lebih sehat, mandiri, dan berdaya saing melalui lingkungan yang bersih dan perilaku hidup yang sehat. (red-nk)