Lembang, September 2026. Teh hangat di cangkir keramik itu sudah lama kehilangan uapnya, ditinggalkan begitu saja di atas meja kayu yang dipenuhi deretan foto berbingkai. Di sudut ruang tamu yang teduh di Lembang, suara angin yang berhembus pelan dari balik jendela seolah menjadi satu-satunya irama yang mengisi kesendirian. Di ruangan inilah cerita tentang keteguhan hati, kasih sayang yang tak bertepi, dan kerinduan yang mendalam terpaut pada sosok mungil bernama Kenan.
Semua bermula dari sebuah perjumpaan yang tampak biasa di Posyandu Desa Sukajaya. Di antara riuh anak-anak yang mengantre vitamin A, mata Maya Ekawati terhenti pada sebuah kereta bayi. Di sana, duduk seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dengan tatapan binar yang teramat bersih. Ada kehangatan yang langsung terpancar dari senyumnya, tetapi juga ada kehati-hatian yang tersirat dari cara ibunya menjaga setiap gerak tubuh sang buah hati.

Ketika disapa, Kenan menjawab dengan celoteh cerdas yang mengundang senyum siapa saja yang mendengar. Namun, di balik keceriaannya yang meluap, tersembunyi kenyataan yang menggetarkan dada. Sejak lahir, tubuh Kenan mengidap kondisi langka yang membuat tulang-tulangnya begitu rapuh. Sentuhan yang sedikit keras bisa berarti rasa sakit yang luar biasa. Tak sembarang orang bisa merengkuh atau menggendongnya, kecuali kedua orang tuanya yang telah terlatih merawat tubuh rapuh itu dengan kelembutan yang melampaui batas kemampuan manusia biasa.
”Mendengar cerita ibunya, dada saya serasa sesak,” ujar Maya, mengingat kembali momen ketika ia pertama kali menyadari betapa besarnya beban yang dipikul keluarga kecil itu. “Saya membayangkan apa yang dirasakan tubuh kecil itu setiap hari. Namun, Kenan tidak pernah menunjukkan wajah yang menyerah.”

Keinginan Kenan sebetulnya sederhana. Saat pawai kecamatan berlangsung, ia sempat berbisik kepada ibunya bahwa ia ingin bertemu dengan sosok yang kerap dipanggil masyarakat sebagai “Ibu Camat”. Namun, kerumunan yang padat dan riuh membuat niat itu harus dipendam. Kepulangan ke rumah hari itu diwarnai rengekan polos seorang anak yang memendam rindu pada sosok yang belum sepenuhnya ia kenal.
Takdir memiliki caranya sendiri untuk menjawab kerinduan itu. Selepas menyelesaikan tugas di kabupaten, langkah kaki Maya tidak langsung pulang ke rumah, melainkan tertuju pada kediaman Kenan. Perjumpaan sore itu bukan sekadar kunjungan formal seorang pejabat, melainkan pertemuan dua jiwa yang saling menemukan. Di atas kursi kecilnya, Kenan menyambut kedatangan itu dengan binar mata yang sama, seolah janji tersirat di antara mereka akhirnya ditunai.

Melihat Kenan tertawa dan merespons setiap percakapan dengan begitu hangat menghadirkan sebuah perenungan mendalam tentang arti ketabahan. Di dalam ruang tamu yang tenang itu, batas antara ketidakberdayaan fisik dan kekuatan jiwa seolah kabur. Kerapuhan tubuh Kenan justru menjadi cermin yang memantulkan ketegaran luar biasa dari seorang ibu yang tiada henti memeluk takdirnya dengan penuh cinta.
Di antara helaan napas yang panjang dan tatapan mata yang penuh keharuan, ada sebuah ikrar yang tumbuh tulus tanpa perlu ditulis di atas kertas.
”Saya ingin mendampingi tumbuh kembangnya, menjadi ibu asuh yang selalu ada sampai ia tumbuh menjadi pribadi yang hebat,” tutur Maya pelan, matanya menerawang menatap halaman rumah yang mulai diselimuti kabut sore Lembang.

Di tengah keterbatasan fisik yang membelenggunya, ananda Kenan menyimpan sebuah cita-cita sederhana namun teramat suci di dalam dada mungilnya. Anak cerdas yang senantiasa melantunkan bait-bait sholawat dengan merdu dan penuh penghayatan ini memendam kerinduan mendalam untuk bisa berhadapan langsung serta menjabat tangan pimpinan tertinggi Jawa Barat, Bapa Aing.
Bagi Kenan, setiap alunan sholawat yang keluar dari bibir kecilnya bukan sekadar lantunan doa untuk ketenangannya sendiri, melainkan juga sebentuk harapan polos agar suaranya yang lembut suatu hari nanti dapat terdengar langsung oleh sang gubernur.

Kehidupan mungkin memberikan Kenan tubuh yang rentan, tetapi di dalam ketidaksempurnaan itu, ia mengajarkan semua orang di sekitarnya tentang cara mencintai tanpa syarat dan bertahan tanpa mengeluh. (aq-nk)