SPPG Pangauban, Belajar dari Kritik, Bangkit dengan Kolaborasi, Bukan Tentang Siapa yang Salah, Tapi Bagaimana Membaik

Bandung Barat Nasional Profil

Pangauban, April 2036. Setiap program sebesar Makan Bergizi Gratis (MBG) pasti menemui jalan terjal. Begitu pula yang dialami SPPG Pangauban milik Hendrik Irawan di Bandung Barat. Suspensi dari Badan Gizi Nasional (BGN) karena persoalan infrastruktur, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan sirkulasi udara yang sempat menjadi ujian berat. Namun, daripada larut dalam kesalahan, yang terjadi justru sebuah gerakan perbaikan kolektif. Pemilik, chef, sekolah, pesantren, dan guru sama-sama mengambil hikmah. Ulasan ini mencoba merangkum sisi-sisi terang dari proses bangkit kembali SPPG Pangauban, dengan mendengarkan suara-suara positif yang tumbuh dari setiap pihak.

Hendrik Irawan: Kritik Adalah Motivasi, Bukan Beban

Pemilik SPPG, Hendrik Irawan, tidak memilih jalan defensif. Dalam wawancara, ia berulang kali menyatakan kesiapan menerima kritik. “Kami 100% siap dikritik. Jangankan oleh wartawan, oleh masyarakat umum pun kami siap. Kritik dari masyarakat maupun netizen saya anggap sebagai motivasi,” ujarnya dengan nada rendah namun tegas. Baginya, kritik lebih berharga daripada pujian karena membantu berkembang. Sikap ini menunjukkan kedewasaan dalam mengelola pelayanan publik.

Hendrik juga mengakui bahwa BGN telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan hasilnya dijadikan pijakan evaluasi. “Setiap kejadian menjadi pelajaran bagi kami untuk terus memperbaiki diri. Apabila terjadi hal yang tidak diinginkan, kami siap bertanggung jawab penuh,” katanya. Ia tidak lari dari fakta. Yang menarik, ia justru berharap ke depan sistem SPPG Pangauban bisa menjadi contoh bagi SPPG lain. Sebuah cita-cita yang lahir dari tekad memperbaiki, bukan dari kesombongan.

Dari segi komitmen, Hendrik menyebut bahwa dengan anggaran sekitar Rp10.000 per porsi, SPPG-nya tetap menyediakan daging sapi dua kali seminggu dan susu tiga kali seminggu. “Kami berusaha mengolah makanan dengan resep yang profesional dan berkualitas,” jelasnya. Ia juga membuka peluang bagi pesantren dan semua pihak yang membutuhkan. Inklusivitas seperti ini patut diapresiasi.

Kehadiran Chef Profesional: Berbagi Ilmu, Bukan Sekadar Memasak

Salah satu langkah perbaikan paling konkret adalah direkrutnya chef-chef berlatar belakang hotel berbintang lima dan kapal pesiar internasional. Dwi Purnomo, Executive Chef dari perusahaan Jerman yang sedang liburan, diajak untuk menjadi Chef paruh waktu di dapur milik Hendrik. Ia menegaskan bahwa akar masalah suspensi adalah infrastruktur, bukan kualitas makanan atau niat buruk. “Permasalahan yang terjadi bukan mengarah pada hal-hal lain, melainkan lebih kepada aspek infrastruktur yang pada saat itu memang belum sepenuhnya memenuhi standar,” katanya jujur.

Dwi tidak hanya datang untuk memasak. Ia ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan. “Kehadiran kami di sini memiliki satu tujuan, yaitu meningkatkan kualitas program MBG agar semakin baik,” ujarnya. Ia juga menyebut bahwa Hendrik sangat mengutamakan bahan makanan berkualitas. “Sebagai contoh, dalam satu minggu terdapat penyediaan daging sapi sebanyak dua kali dan susu sebanyak tiga kali. Hal tersebut menunjukkan komitmen yang cukup besar,” tambah Dwi.

Susanto (Ahong), Head Chef Dapur 2, mengaku senang bisa berkolaborasi dengan Chef yang pengalamannya lebih luas. “Kami bisa saling bertukar pengetahuan serta teknik baru,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya harmoni dengan ahli gizi. “Kami menjelaskan secara rinci mengenai teknik pengolahan makanan, sehingga akhirnya dapat menghasilkan menu yang baik dan sesuai standar gizi. Intinya adalah kolaborasi,” tuturnya. Sementara Bimbim, chef Dapur 3, dengan tulus menyatakan bahwa kondisi dapur sangat baik, fasilitas memadai, dan ia betah bekerja di sana. “Harapannya kami bisa menjadi lebih baik lagi ke depannya dan terus berkembang,” ucapnya sederhana.

Suara Positif dari Sekolah dan Pesantren: Tetap Berharap, Tetap Mendukung

Meskipun sempat merasakan dampak suspensi, para penerima manfaat justru menunjukkan sikap dewasa dan penuh harapan. KH Badru Munir, pimpinan Ponpes Banuraja, dengan jujur menyatakan keprihatinannya karena santri sempat tidak mendapat MBG. Namun, beliau juga membuka pintu selebar-lebarnya. “Seandainya suspensi ini dibuka dan aktif kembali, dengan sendirinya kami akan menerima dengan lapang dada,” ujarnya. Bahkan beliau mendoakan agar SPPG tersebut beroperasi kembali dengan lebih baik. “Harus berubah sikap, lebih humble, lebih terbuka, lebih menerima kritik, dan tentu saja memperhatikan makanannya,” katanya sebagai pesan perbaikan, bukan sebagai vonis.

Chandra, guru SDN Cibodas 3 yang mewakili 451 siswa, mengakui bahwa menu SPPG Pangauban sebenarnya cukup bagus dibandingkan dengan SPPG lain. “Orang tua juga mengakui bahwa menu itu memang bagus,” ujarnya. Ia berharap ke depan pengelolaan MBG bisa lebih baik lagi dan pengawasannya diperketat. “Program ini menurut kami para guru sudah sangat bagus,” tegasnya. Sekolah pun telah berinisiatif berkoordinasi dengan SPPG lain sebagai antisipasi, tetapi tetap memberi ruang bagi perbaikan.

Eval Al Faruk, Kepala Madrasah MTs Persis Al-Ittihad, juga menyampaikan bahwa sebelum suspensi, distribusi berjalan lancar. “Selama ini sebetulnya sebelum ada kejadian itu biasa-biasa saja, lancar-lancar saja,” katanya. Ia memilih menunggu dengan sabar sambil tetap mendukung program MBG. “Kami dukung program pemerintah,” ucapnya. Bahkan ia menyebut bahwa ada pendataan ulang dari SPPG lain, namun tidak serta merta memutuskan pindah tanpa musyawarah. Sikap kolektif seperti ini menunjukkan kedewasaan.

Budi Hermawan, Wakasek SMPN 2 Batujajar, memilih langkah pragmatis dengan beralih ke SPPG lain agar program tidak berhenti. Namun ia tetap menyampaikan pesan positif. “Pesan saya untuk pengelola SPPG, semoga operasionalnya selalu lancar. Ikuti semua standar dari BGN dan juknis MBG yang ada. Jika standar diikuti, insya Allah tidak akan ada kendala,” ujarnya. Ini adalah bentuk dukungan, bukan kemarahan.

Kolaborasi dan Harapan Bersama

Dari semua wawancara, terlihat bahwa tidak ada pihak yang ingin menjatuhkan. Semua menginginkan perbaikan. Hendrik ingin SPPG-nya menjadi contoh. Chef ingin berbagi ilmu. Sekolah dan pesantren ingin anak-anak mendapat gizi terbaik. Bahkan mereka yang sempat dirugikan tetap membuka hati untuk kesempatan kedua.

Dwi Purnomo menyampaikan harapan besarnya: “Ke depan akan terbentuk wadah resmi yang dapat menaungi chef profesional yang ingin terlibat dalam program MBG, sehingga kualitas layanan dapat terus meningkat.” Ini adalah visi kelembagaan yang baik. Susanto menambahkan, “Harapan saya ke depan adalah agar semua mitra dapat menghargai kinerja para chef. Karena dapur merupakan bagian penting dalam keberhasilan program.”

Kesimpulan: Belajar, Berbenah, dan Bergerak Bersama

SPPG Pangauban 01 telah melewati masa sulit. Suspensi bukanlah akhir, melainkan awal dari kesadaran bersama bahwa infrastruktur, profesionalisme, dan keterbukaan terhadap kritik adalah kunci. Hendrik Irawan menunjukkan keteguhan untuk bertanggung jawab dan memperbaiki diri. Para Chef profesional membawa angin segar dengan semangat berbagi ilmu. Sekolah dan pesantren, meskipun sempat kecewa, tetap memberikan dukungan dan harapan.

Tidak ada yang sempurna di awal. Yang terpenting adalah kemampuan untuk belajar dari kesalahan, mendengarkan kritik, dan bergerak maju dengan kolaborasi. Program Makan Bergizi Gratis adalah amanah besar. SPPG Pangauban, dengan segala dinamikanya, kini sedang membuktikan bahwa mereka layak dipercaya kembali. Mari kita dukung setiap langkah baik, karena pada akhirnya, yang menikmati manfaatnya adalah anak-anak bangsa. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *