Ketika Panggung Dibuka Oleh Walikota Farhan Tentang Membaca Ulang Autisme, Seni, dan Ketahanan Keluarga di Bandung

Kota Bandung Nasional

Bandung, 13 April 2026. Peringatan Hari Peduli Autisme Sedunia di Pendopo Kota Bandung tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Mengusung tema “Ketika Kita Memberi Panggung, Mereka Mewujudkan Cahaya”, kegiatan ini menghadirkan upaya yang lebih reflektif: membuka ruang ekspresi sekaligus membangun kesadaran publik tentang autisme sebagai spektrum yang kompleks dan multidimensional.

Acara ini dihadiri Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Ketua Yayasan Budaya Individu Spesial Diana Sofian, Elisabeth Kurniawati Tjianti selaku penggagas Yayasan Berbagi Kasih Menebar Kebahagiaan sekaligus Presiden Lions Club Bandung Harapan Teguh, serta sejumlah komunitas disabilitas, akademisi, dan pegiat budaya.

Berbeda dari perayaan pada umumnya, kegiatan ini diisi dengan penampilan seni individu autisme, pameran karya seni rupa, passion show, hingga pertunjukan budaya bambu Baramasuen dari Maluku. Format ini menunjukkan pergeseran pendekatan: dari sekadar peringatan menuju afirmasi kemampuan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menilai kegiatan semacam ini telah menjadi tradisi komunitas autisme, namun masih menyisakan persoalan mendasar. “Sayangnya kita tidak pernah memiliki data mengenai berapa banyak individu autisme yang terdaftar,” ujarnya.

Ketiadaan data tersebut, menurut Farhan, tidak terlepas dari persoalan stigma sosial yang masih melekat. Sebagian keluarga belum terbuka terhadap kondisi anggota keluarganya, sementara sebagian lainnya belum memiliki pemahaman yang memadai sehingga autisme kerap disalahartikan sebagai keterbelakangan.

Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan autisme tidak hanya berada pada ranah medis, tetapi juga sosial dan kultural. Tanpa basis data yang kuat, intervensi kebijakan cenderung bersifat reaktif—mengikuti fenomena, bukan berbasis perencanaan yang sistematis.

Farhan menyebut, pendekatan yang dilakukan saat ini masih bersifat parsial. “Setiap kali kita melihat adanya fenomena, kita berusaha untuk menyentuh dan menanganinya,” kata dia. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa tata kelola isu autisme di tingkat kota masih berada dalam fase adaptif, belum sepenuhnya terstruktur.

Di sisi lain, penyelenggara kegiatan mencoba menawarkan pendekatan alternatif. Elisabeth Kurniawati Tjianti menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari keinginan untuk menggeser makna peringatan Hari Autisme dari seremoni menjadi ruang aktualisasi.

“Kami mencoba memberikan fasilitas berupa sebuah panggung pertunjukan sebagai bentuk apresiasi kami, baik untuk keluarga maupun para individu spesial,” ujarnya.

Istilah “individu spesial” yang digunakan bukan tanpa alasan. Dalam perspektif penyelenggara, penyebutan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesetaraan, dengan tidak semata-mata memandang autisme sebagai kondisi medis.

Pendekatan berbasis seni menjadi instrumen penting dalam strategi ini. Seni diposisikan bukan hanya sebagai medium ekspresi, tetapi juga sebagai terapi terapan yang memungkinkan individu autisme membangun identitas diri secara lebih utuh.

Dalam konteks ini, kegiatan seni berfungsi sebagai jembatan antara individu, keluarga, dan masyarakat. Ia membuka ruang interaksi yang lebih inklusif, sekaligus mereduksi jarak sosial yang selama ini terbentuk akibat stigma.

Namun, dimensi yang tidak kalah penting adalah keluarga. Elisabeth menegaskan bahwa penguatan keluarga menjadi fondasi utama dalam membangun ketahanan individu autisme. “Fondasi utama, landasan terpenting, adalah keluarga,” katanya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa isu autisme tidak dapat dilepaskan dari ekosistem sosial terdekat. Tanpa dukungan keluarga, berbagai intervensi baik pendidikan, terapi, maupun sosial yang berpotensi tidak optimal.

Dalam kerangka yang lebih luas, Yayasan Budaya Individu Spesial juga mulai merancang kurikulum bagi caregiver. Langkah ini menunjukkan adanya upaya sistematis untuk mentransformasikan pengetahuan tentang autisme ke dalam praktik pendampingan sehari-hari.

“Caregiver itu adalah kita semua,” ujar Elisabeth, menegaskan bahwa tanggung jawab pendampingan tidak hanya berada pada keluarga inti, tetapi juga masyarakat luas.
Upaya ini sekaligus memperluas definisi inklusivitas. Inklusi tidak lagi dipahami sebatas akses, tetapi juga keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pendampingan.

Selain pendekatan sosial dan pendidikan, kegiatan ini juga menghadirkan dimensi budaya. Firman, pemerhati budaya etnik Maluku, memperkenalkan permainan bambu Baramaswin dimana sebuah tradisi yang sarat makna kolektif.

“Secara filosofi, permainan ini menggambarkan hubungan antara seorang pemimpin dan rakyatnya dalam kebersamaan,” kata Firman.

Permainan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium pembelajaran sosial. Bagi individu autisme, aktivitas tersebut memberikan pengalaman sensorik dan motorik yang sekaligus menyenangkan.

Mely, Humas Yayasan Budaya Individu Spesial, menggambarkan pengalaman bermain Baramaswin sebagai sesuatu yang unik. “Rasanya seperti tidak mau diam… seolah-olah bergerak sendiri,” ujarnya. Meski melelahkan, permainan ini dinilai tetap menyenangkan dan membangun suasana positif.

Kehadiran unsur budaya dalam kegiatan ini memperlihatkan bahwa pendekatan inklusi dapat bersifat lintas sektor yang menggabungkan seni, pendidikan, dan tradisi lokal. Hal ini penting dalam konteks Indonesia yang memiliki keragaman budaya sebagai modal sosial.

Namun demikian, tantangan ke depan tetap besar. Tanpa dukungan kebijakan yang terintegrasi, inisiatif semacam ini berisiko berhenti pada level komunitas. Padahal, kebutuhan akan layanan autisme mencakup spektrum yang luas yaitu mulai dari deteksi dini, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi.

Rencana pengembangan program hingga tingkat nasional yang disampaikan penyelenggara menunjukkan adanya kesadaran akan kebutuhan tersebut. Tetapi, implementasinya memerlukan dukungan lintas sektor, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil.

Dalam konteks ekonomi, pemberdayaan individu autisme melalui pelatihan keterampilan juga menjadi aspek penting. Program seperti yang dilakukan Skill Center Percik Insani menunjukkan bahwa individu autisme memiliki potensi untuk mandiri secara ekonomi, jika didukung dengan pendekatan yang tepat.

Pada akhirnya, kegiatan ini menegaskan satu hal: inklusi bukan sekadar slogan, melainkan proses panjang yang memerlukan perubahan cara pandang. Dari melihat autisme sebagai “keterbatasan”, menuju pengakuan atas keberagaman kemampuan.

Panggung yang dibuka di Pendopo Kota Bandung menjadi simbol dari proses tersebut. Ketika ruang diberikan, individu autisme tidak hanya tampil saja mereka juga menunjukkan bahwa cahaya itu memang masih ada. (nk-kk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *