Desa Karangtanjung Gelar Skrining TBC dan Layanan Kesehatan Gratis

165 Desa KBB Bandung Barat

Karangtanjung, 27 April 2026. Upaya deteksi dini tuberkulosis (TBC) terus diperluas di Kabupaten Bandung Barat. Pemerintah Desa Karangtanjung bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, Puskesmas Cililin, dan Rumah Cemara menggelar kegiatan Screening Sistematis Tuberkulosis serta cek kesehatan gratis di Gedung Serbaguna Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, Senin, 27 April 2026.

Sebanyak 135 warga diundang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka merupakan keluarga maupun lingkungan terdekat dari warga yang pernah terpapar atau memiliki riwayat kontak dengan penderita TBC.

Kepala Desa Karangtanjung Rismawan mengatakan program itu menjadi bagian dari langkah pencegahan penularan penyakit menular yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat.

“Ini merupakan salah satu program dari Dinas Kesehatan yang bekerja sama dengan pemerintah desa. Kegiatannya berupa screening sistematis tuberculosis, sekaligus cek kesehatan gratis,” kata Rismawan di sela kegiatan.

Menurut dia, sasaran utama program bukan penderita aktif, melainkan warga yang memiliki risiko karena tinggal serumah atau berada di sekitar pasien TBC. Pendekatan itu dinilai penting untuk memutus rantai penularan sejak dini.

“Program ini ditujukan khususnya untuk warga yang memiliki kontak atau tinggal di sekitar penderita TBC. Jadi bukan untuk penderita langsung, tetapi sebagai langkah antisipasi dan pencegahan dini,” ujarnya.

Tuberkulosis masih menjadi salah satu penyakit menular dengan beban kasus tinggi. Penularannya terjadi melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Karena itu, pelacakan kontak erat dan pemeriksaan dini menjadi metode penting agar kasus tidak terlambat ditemukan.

Dalam kegiatan di Karangtanjung, peserta memperoleh sejumlah layanan pemeriksaan. Selain skrining TBC, warga juga dapat memanfaatkan pemeriksaan kesehatan umum seperti pengecekan gula darah dan layanan dasar lainnya.

Untuk pemeriksaan TBC, panitia menyediakan rontgen dada dengan perangkat X-Ray bergerak, pemeriksaan dahak, tes Mantoux, serta tindak lanjut medis sesuai kebutuhan hasil skrining.

Kehadiran fasilitas X-Ray menjadi salah satu penguatan layanan pada kegiatan kali ini. Pemeriksaan radiologi membantu tenaga kesehatan membaca indikasi gangguan paru secara lebih cepat, meski diagnosis akhir tetap membutuhkan evaluasi medis lanjutan.

Rumah Cemara sebagai mitra pelaksana terlibat dalam dukungan teknis lapangan. Organisasi ini dikenal aktif dalam isu kesehatan masyarakat, pendampingan komunitas, serta penguatan respons terhadap penyakit menular. Dalam program skrining TBC, keterlibatan unsur komunitas dinilai penting untuk menjangkau warga yang selama ini enggan memeriksakan diri.

Kegiatan serupa, menurut panitia, dijalankan setiap hari di tiga lokasi berbeda secara bergiliran. Program ini direncanakan berlangsung bertahap selama enam bulan.

Model pelayanan bergerak seperti itu memungkinkan cakupan pemeriksaan lebih luas, terutama bagi wilayah yang akses layanan kesehatannya terbatas atau masyarakatnya belum rutin datang ke fasilitas kesehatan.

Di lokasi kegiatan, panitia juga memasang panduan persiapan pemeriksaan rontgen. Peserta diminta melepas seluruh aksesoris logam di sekitar dada, seperti pakaian beritsleting, bros, kalung, kawat bra, maupun ornamen jilbab berbahan logam. Langkah itu diperlukan agar hasil foto toraks lebih akurat.

Panitia juga menegaskan bahwa pemeriksaan X-Ray tidak diperuntukkan bagi ibu hamil. Peserta diminta memberi tahu petugas bila sedang mengandung.
“Persiapan yang tepat, untuk hasil yang lebih akurat,” demikian tertulis dalam informasi layanan di lokasi kegiatan.

Rismawan mengatakan respons warga cukup baik. Pemerintah desa sebelumnya melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami manfaat pemeriksaan dan tidak menganggap TBC sebagai isu yang harus disembunyikan.

“Alhamdulillah, warga cukup antusias. Sebelumnya kami juga sudah melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami bahwa kegiatan ini penting untuk kesehatan bersama,” katanya.

Ia mengakui masih ada stigma di sebagian masyarakat bahwa TBC merupakan aib. Karena itu, pendekatan kepada warga dilakukan secara persuasif agar mereka bersedia menjalani pemeriksaan dan pengobatan bila diperlukan.

“Kami memiliki tim khusus yang rutin melakukan pemantauan setiap bulan, termasuk kunjungan dan pendampingan hingga mengarahkan warga untuk pemeriksaan ke puskesmas,” ujar dia.

Menurut Rismawan, kasus TBC dapat menyerang lintas usia. Meski mayoritas ditemukan pada usia dewasa hingga lanjut usia, anak-anak tetap memiliki risiko jika berada dalam lingkungan penularan.

Untuk sementara, kata dia, belum ditemukan kasus TBC pada balita di Desa Karangtanjung.
Ia mengimbau warga menjaga pola hidup sehat, memperhatikan kebersihan lingkungan, serta aktif mengikuti program kesehatan yang diselenggarakan pemerintah.

“Kami sangat terbantu dengan adanya program ini, dan berharap melalui kegiatan ini kondisi kesehatan masyarakat bisa lebih terpantau dan semakin membaik,” kata Rismawan.

Langkah deteksi dini seperti di Karangtanjung menunjukkan bahwa penanganan TBC tidak cukup mengandalkan pengobatan pasien. Pencegahan, pelacakan kontak, edukasi, dan menghapus stigma menjadi bagian yang sama pentingnya. Tanpa itu, rantai penularan akan terus berulang di ruang-ruang yang kerap luput dari perhatian. (Nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *