Saat Kabayan Kembali ke Layar : Upaya Membaca Ulang Identitas Sunda yang Menawarkan Tafsir Berbeda

Kota Bandung Nasional

Bandung, 29 April 2026. Sosok Kabayan kembali dipanggungkan. Bukan sekadar sebagai tokoh jenaka yang lama hidup dalam cerita rakyat dan layar kaca, melainkan sebagai figur budaya yang hendak dibaca ulang. Melalui talk show budaya dan perfilman di Graha Manggala Siliwangi, Kota Bandung, Selasa (29/4/2026), film Aing Kabayan resmi diperkenalkan kepada publik.

Peluncuran itu menjadi bagian dari rangkaian pameran batik, bordir, aksesori, dan kerajinan yang menghadirkan pelaku seni, budaya, serta industri kreatif dari berbagai daerah di Jawa Barat. Pemilihan ruang perkenalan tersebut bukan tanpa makna. Film ini sejak awal diposisikan sebagai pertemuan antara seni pertunjukan, identitas lokal, dan ekonomi kreatif.

Mengusung tema “Dari Tatar Sunda untuk Nusantara” dengan slogan “Tontonan yang Bermakna, Tuntunan yang Mengena”, tim produksi menyatakan film ini tidak hanya diarahkan sebagai hiburan komersial, tetapi juga sebagai medium penyampai nilai budaya dan pesan sosial.

Di tengah industri film nasional yang dalam beberapa tahun terakhir bertumbuh melalui genre horor, drama keluarga, dan komedi urban, kehadiran film berbasis folklor lokal menjadi jalur yang relatif jarang ditempuh. Di titik itu, Aing Kabayan mencoba mengisi ruang yang lama kosong.

Sutradara sekaligus produser pelaksana Chandra Gautama mengatakan gagasan film lahir dari kegelisahan atas memudarnya sosok Kabayan dalam perfilman Indonesia. Menurut dia, Kabayan bukan sekadar karakter hiburan, melainkan representasi nilai hidup masyarakat Sunda.
“Inspirasi film ini muncul dari sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam, ‘Kabayan itu orang Sunda, atau orang Sunda itu Kabayan?’ Dari sana muncul keinginan untuk menghadirkan kembali Kabayan kepada generasi hari ini,” kata Chandra.

Pertanyaan itu sesungguhnya menyentuh lapisan identitas yang lebih dalam. Dalam khazanah Sunda, Kabayan kerap hadir sebagai tokoh yang tampak malas, lugu, dan nyeleneh, tetapi justru menyimpan kecerdikan. Ia sering mengalahkan logika formal dengan kecerdasan sehari-hari. Dalam banyak tradisi lisan Nusantara, tipe tokoh seperti ini bukan hal asing: sosok yang diremehkan namun menyimpan hikmah.

Karena itu, tim produksi menilai penggambaran Kabayan sebagai sosok bodoh selama ini terlalu menyederhanakan watak aslinya.
“Kabayan itu sosok yang saleh, lugu, pintar, dan cerdas. Selama ini sering dikategorikan sebagai orang bodoh. Hal itu yang ingin kita ubah citranya,” ujar Abah Pandi dari manajemen produksi.

Film ini, kata tim produksi, tetap mempertahankan unsur komedi sebagai ciri utama Kabayan. Namun komedi akan dikemas tanpa menanggalkan kecerdasan tokohnya. Dengan kata lain, humor tidak lagi dibangun dari kebodohan karakter, melainkan dari keluwesan membaca situasi.

Pendekatan tersebut penting dalam konteks perfilman modern. Penonton saat ini cenderung menuntut karakter yang lebih kompleks, tidak hitam-putih, dan memiliki kedalaman psikologis. Reinterpretasi Kabayan dapat menjadi jalan agar tokoh tradisional tetap relevan bagi generasi muda.

Tidak hanya tokoh utama, karakter perempuan dalam film ini juga disebut akan tampil lebih kuat. Sosok pasangan Kabayan tetap ekspresif dan jenaka, tetapi memiliki kecerdasan yang setara.

Pernyataan itu menunjukkan adanya upaya menyesuaikan narasi klasik dengan sensibilitas sosial masa kini, terutama soal relasi gender. Cerita rakyat yang dahulu lahir dalam struktur sosial berbeda kini dituntut hadir dengan perspektif yang lebih adil tanpa kehilangan akar budayanya.

Dari sisi produksi, sekitar 90 persen pemain disebut akan berasal dari Jawa Barat. Kebijakan ini dibaca sebagai bentuk pemberdayaan talenta lokal di tengah dominasi industri hiburan yang kerap terpusat di Jakarta.

Meski demikian, tim produksi tetap membuka ruang bagi pemain dari luar daerah. Pemeran utama, menurut mereka, masih dalam tahap seleksi profesional dengan mempertimbangkan kualitas akting, penghayatan karakter, serta penguasaan nuansa dan bahasa Sunda.

Langkah tersebut memperlihatkan dua kepentingan yang berupaya diseimbangkan: autentisitas lokal dan standar industri nasional.
Lokasi pengambilan gambar direncanakan berlangsung di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Subang dan Garut. Pemilihan daerah itu berpotensi memberi dampak turunan bagi ekonomi lokal, mulai dari jasa perhotelan, transportasi, katering, pekerja kreatif, hingga promosi destinasi wisata.

Dalam banyak kasus, produksi film memang dapat menjadi instrumen promosi daerah. Ketika lanskap lokal tampil di layar lebar, wilayah tersebut memperoleh eksposur baru yang tidak jarang berdampak pada kunjungan wisata dan penguatan citra daerah.

Swanti, yang terlibat sebagai manajemen sekaligus pemain, berharap film ini menjadi nilai tambah bagi Jawa Barat.
“Budaya Sunda saat ini dirasa kurang membumi dan kurang terangkat. Dengan adanya film Aing Kabayan ini, semoga seni dan budaya Sunda bisa lebih diangkat, dihargai, dan dikenal kembali oleh masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyebut potensi lain yang hendak diangkat melalui film, mulai dari wisata, bahasa, makanan, kuliner, hingga sektor UMKM. Pandangan ini sejalan dengan kecenderungan ekonomi kreatif yang menempatkan budaya bukan sekadar warisan, melainkan sumber nilai tambah ekonomi.

Namun jalan menuju itu tidak sederhana. Chandra dan tim menyoroti belum solidnya ekosistem kebudayaan di Jawa Barat. Menurut mereka, unsur media, seniman, pemerintah daerah, dan pengusaha masih sering berjalan sendiri-sendiri.
“Kita membutuhkan wadah yang benar-benar mampu menaungi para seniman dan pekerja budaya,” kata Chandra.

Catatan itu mencerminkan problem lama sektor kebudayaan di banyak daerah: kekayaan ekspresi seni tidak selalu diikuti kelembagaan yang kuat. Padahal, tanpa dukungan tata kelola, pendanaan, promosi, dan ruang kolaborasi, banyak karya budaya berhenti sebagai peristiwa sesaat.

Dalam kesempatan yang sama, tim produksi juga mengumumkan rencana open casting bagi masyarakat umum di kawasan Dago, Jalan Ir. H. Juanda Nomor 483, Kota Bandung. Jadwal pelaksanaan akan diumumkan melalui kanal resmi media sosial produksi.

Kebijakan audisi terbuka memberi pesan bahwa film ini ingin melibatkan publik, bukan hanya kalangan profesional. Partisipasi semacam itu dapat memperluas rasa memiliki masyarakat terhadap proyek budaya.

Pada akhirnya, Aing Kabayan akan diuji bukan hanya oleh kualitas cerita dan performa box office, tetapi juga oleh kemampuannya menjembatani masa lalu dengan masa kini. Bila berhasil, Kabayan dapat kembali hadir bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai cermin yang menertawakan zaman sambil mengajarkan kebijaksanaan.
“Aing Kabayan bukan hanya tentang hiburan, tetapi tentang bagaimana budaya lokal dapat tetap hidup, relevan, dan menjadi kebanggaan bersama,” tutur Chandra. (kk-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *