Lembang, 12 Juni 2026. Penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu fokus utama dalam kegiatan Reses Masa Sidang III Tahun Sidang Ke-II DPRD Kabupaten Bandung Barat yang dilaksanakan di Balai Penyuluhan Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan (BP3K), Jalan Sukarasa RT 01 RW 05, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Jumat (12/6/2026).
Kegiatan yang dipimpin Anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat dari Komisi II Fraksi Gerindra, Dedi Hernawan, tersebut dihadiri pelaku UMKM dari Desa Cibodas dan Desa Suntenjaya, panitia pelaksana, serta sejumlah awak media. Pertemuan itu menjadi ruang dialog antara masyarakat dan wakil rakyat untuk menyampaikan berbagai aspirasi yang berkaitan dengan pengembangan ekonomi lokal.

Dalam kesempatan tersebut, Dedi menjelaskan bahwa reses merupakan bagian dari tugas anggota legislatif untuk kembali ke daerah pemilihan dan mendengarkan secara langsung kebutuhan masyarakat.
“Reses adalah masa bagi anggota dewan untuk kembali kepada konstituen, mendengar persoalan yang ada, dan mencari solusi bersama agar aspirasi masyarakat dapat diperjuangkan melalui fungsi DPRD,” ujar Dedi.
Sejumlah persoalan yang dihadapi pelaku usaha mengemuka dalam forum tersebut. Mulai dari keterbatasan akses pemasaran, perizinan usaha, sertifikasi halal, hingga kendala permodalan yang masih menjadi tantangan bagi UMKM di wilayah Cibodas dan sekitarnya.

Menurut Dedi, berbagai potensi usaha yang dimiliki masyarakat sebenarnya cukup besar. Namun, potensi tersebut membutuhkan wadah dan pendampingan yang berkelanjutan agar dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat luas bagi warga.
Ia menilai salah satu persoalan yang kerap terjadi adalah banyak gagasan yang berhenti pada tahap perencanaan tanpa diikuti langkah konkret dalam pelaksanaannya. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan agar program pemberdayaan ekonomi dapat berjalan efektif.

Selain membahas persoalan UMKM, forum reses juga menyinggung kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dedi mengingatkan bahwa kenaikan harga BBM sering kali diikuti peningkatan harga kebutuhan pokok yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menurutnya, perlu pemahaman yang lebih proporsional dalam melihat dampak kenaikan BBM terhadap harga barang di pasaran. Ia menilai tidak semua komoditas semestinya mengalami kenaikan harga secara signifikan karena sistem distribusi logistik banyak yang menggunakan bahan bakar jenis solar.
“Ketika BBM naik, sering kali harga kebutuhan pokok ikut naik. Padahal perlu dilihat juga faktor-faktor yang memengaruhinya sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang lebih tepat,” katanya.

Pada forum tersebut, Dedi juga memperkenalkan rencana penyelenggaraan Car Free Day (CFD) Cibodas yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 21 Juni 2026. Kegiatan itu mengusung slogan “Badan Sehat, Ekonomi Kuat” dan semangat Jajaway (nama pohon Jajaway) yang kemudian menjadi singkatan jalan jajan on the way yang ditargetkan dapat diikuti sedikitnya 1.000 peserta.
Konsep yang diusung tidak hanya menghadirkan ruang aktivitas olahraga bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM setempat melalui penyediaan area usaha dan promosi produk lokal.
Dedi mencontohkan sejumlah kegiatan serupa yang berhasil mendorong perputaran ekonomi masyarakat. Menurutnya, jika dikelola dengan baik, kegiatan publik seperti CFD dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan produk lokal sekaligus meningkatkan pendapatan pelaku usaha.

Ia menekankan bahwa keberhasilan kegiatan tersebut memerlukan dukungan seluruh pihak, termasuk menjaga kebersihan lingkungan, menghadirkan pelayanan yang ramah kepada pengunjung, menjaga kualitas produk, serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi.
“Promosi harus dilakukan dengan jujur. Tampilkan kondisi yang sebenarnya sehingga kepercayaan masyarakat dapat terbangun,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut dari berbagai aspirasi yang disampaikan warga, Dedi menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi pelaku UMKM agar memperoleh akses yang lebih luas kepada program pemerintah maupun lembaga keuangan.

Langkah yang akan dilakukan antara lain menjembatani komunikasi dengan dinas terkait, membantu pengurusan legalitas usaha seperti Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikat halal, serta membuka akses terhadap program pembiayaan dan permodalan.
Selain itu, ia juga mendorong pembentukan forum UMKM Desa Cibodas sebagai wadah bersama bagi para pelaku usaha untuk memperkuat koordinasi, berbagi informasi, dan memanfaatkan berbagai program bantuan yang tersedia.

Menurut Dedi, penguatan kelembagaan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan. Dengan adanya forum yang terorganisasi, berbagai kebutuhan dan aspirasi pelaku UMKM dapat disampaikan secara lebih terstruktur.
Menutup kegiatan, Dedi mengajak masyarakat untuk terus menjaga semangat kebersamaan dan kerja nyata dalam membangun perekonomian daerah.
Ia mengutip ungkapan “Man jadda wajada”, yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Menurutnya, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya bergantung pada perencanaan, tetapi juga pada kesungguhan dalam melaksanakan setiap program yang telah disepakati.
“Forum tanpa aksi hanyalah cerita. Sekarang saatnya kita bergerak dan bertindak bersama,” katanya.

Kegiatan reses berlangsung lancar dan diakhiri dengan komitmen untuk menindaklanjuti berbagai aspirasi yang muncul melalui fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan DPRD. Harapannya, berbagai langkah yang dirancang dapat mendorong tumbuhnya kemandirian ekonomi masyarakat serta memperkuat perputaran ekonomi lokal di Desa Cibodas dan wilayah sekitarnya. (aq-nk)