TELUSUR SEJARAH LEMBANG : Kisah Keluarga Ursone

Bandung Barat Profil

Prolog: Jejak Langkah Pertama

Ada kalanya takdir bertemu dengan keberanian. Kisah ini bukan sekadar tentang perkebunan, peternakan, atau pabrik coklat. Ini adalah saga tentang tiga bersaudara dari negeri seberang yang memilih meninggalkan kenyamanan demi mimpi di tanah yang asing. Keluarga Ursone adalah nama yang kini nyaris terlupakan oleh deru zaman saat ini, padahal pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi Lembang dan Bandung di masa kolonial.

Mereka datang bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai perantau yang merangkul bumi Priangan dengan segenap hati. Kisah mereka adalah cermin dari bagaimana kerja keras, keteguhan, dan cinta serta dalam segala bentuknya kehidupan yang mampu meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. Inilah perjalanan keluarga Ursone, dari Italia ke Belanda, lalu ke Hindia Belanda, dan akhirnya menancapkan akar di tanah yang mereka panggil rumah.

Bab 1: Pietro Antonio Ursone – Si Sulung yang Berani Memulai

Dari Italia ke Batavia: Sebuah Lompatan Iman

Pietro Antonio Ursone lahir pada 1 Januari 1858, sebagai anak sulung dari pasangan P. V. Ursone dan Maria Giuseppa Scotelaro Ursone. Keluarga sederhana asal Italia ini awalnya merantau ke Belanda, seperti banyak orang Italia kala itu yang mencari kehidupan lebih baik. Namun takdir berkata lain. Sang ayah, kepala keluarga, harus berpulang lebih cepat akibat sakit. Kehilangan itu menghantam keras, tapi justru menyalakan api dalam diri Pietro.

Di usia muda, Pietro baru saja menamatkan pendidikan hukum. Pilihan karier sebagai pengacara sudah terbentang di depan kehidupan yang nyaman, terhormat, dan jelas. Tapi Pietro memilih jalan yang berbeda. Sebuah keputusan yang mungkin terdengar gila: bergabung dengan militer dan berlayar ke Hindia Belanda. Sebuah petualangan yang penuh risiko, jauh dari kepastian.

Tahun 1876, sebelum berangkat, Pietro memeluk erat ibu dan adik lelakinya, Giuseppe. “Aku akan sukses di Hindia,” ujarnya dengan keyakinan yang mungkin lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada mereka. “Aku akan menjemput kalian. Tunggu aku.”

Sang ibu tak kuasa menahan air mata. Di saat yang sama, tanpa sepengetahuan siapa pun, ia tengah mengandung anak bungsunya. Kepergian Pietro terasa seperti perpisahan yang terlalu berat, tapi ia tahu, ini adalah satu-satunya jalan.

Pertemuan dengan Komandan: Takdir di Balik Seragam

Kapal yang mengantar Pietro ke Batavia membawa serta segunung harapan dan rasa takut. Di pelabuhan, udara tropis menyambutnya dengan hangat bahkan terlalu hangat untuk seorang pemuda Italia yang terbiasa dengan musim dingin Eropa. Namun, sambutan dari sesama prajurit justru lebih dingin daripada yang ia bayangkan.

Pietro yang berwajah teduh, bermata biru, dan berpenampilan rapi layaknya seperti seorang pustakawan daripada seorang serdadu teryata langsung menjadi sasaran “perundungan” oleh beberapa anggota militer. Mereka menertawakannya, menggoda, dan membuatnya merasa asing. Tapi di balik momen memalukan itu, semesta sedang mengatur pertemuan yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Seorang komandan artileri yang kebetulan melintas mendengar keributan itu. Dengan tatapan tajam, ia mengamati Pietro dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu kembali lagi, seolah membaca seluruh riwayat hidup pemuda itu hanya dari penampilannya. Tanpa sepatah kata, sang komandan memberi isyarat agar Pietro mengikutinya ke sebuah ruangan.

Pietro gemetar. Debar jantungnya berpacu. Tapi ketika sang komandan akhirnya membuka suara, kata-katanya terdengar bagai perintah sekaligus tawaran:

“Ikutlah dengan saya ke Bandung. Batalkan menjadi KNIL. Kau paham?”

Perkataan singkat yang menggantung di udara, meninggalkan Pietro dalam kebingungan yang memusingkan. Namun ketika komandan itu berlalu, Pietro baru sadar ini bukan pilihan. Ini adalah takdir yang menggenggamnya, dan ia hanya bisa mengikuti arus.

Villa Maria: Rumah Pertama di Tanah Priangan

Keesokan harinya, Pietro sudah berada di kereta menuju Bandung, ditemani beberapa prajurit suruhan komandan. Di perjalanan, sang komandan akhirnya memperkenalkan diri: namanya John Henrij van Blommestein. Bukan sekadar komandan artileri yang sebentar lagi akan dikirim ke Aceh, tetapi juga seorang pengusaha sukses pemilik sejumlah perkebunan tebu dan pabrik gula di Jawa Tengah, termasuk Pabrik Gula Wonopringgo dan Tirto di Pekalongan.

Pietro, yang masih belum paham betul perannya, memberanikan diri bertanya tentang tugasnya di Bandung. Sang komandan menjawab dengan nada datar namun penuh makna: “Nanti kau akan menggarap perkebunan terbengkalai di Gunung Lembang.”

Perkebunan tua yang dimaksud adalah Baroe Adjak. Lahan yang dahulu digarap oleh Andries de Wilde sebelum pemerintah menganulir kepemilikannya. Sebuah tanah terlantar yang mungkin tak banyak orang pedulikan, tapi Van Blommestein melihat potensi di dalam diri Pietro ia melihat Pietro sebagai alat untuk mewujudkan visinya.

Sesampai di Bandung, Pietro tidak langsung ke Lembang. Ia ditempatkan di sebuah villa mewah milik sang komandan di tepi Sungai Cikapundung. Villa itu indah, dengan teras yang menghadap langsung ke aliran sungai yang jernih. Pada tahun 1877, ibu sang komandan, Maria Johanna van Blommestein, meninggal karena serangan jantung di usia 49 tahun di Batavia. Untuk mengenangnya, villa itu diberi nama Villa Maria. Ironisnya, villa yang didedikasikan untuk Maria Johanna itu kelak akan dihuni oleh Maria lainnya yang sama-sama beruntung: Maria Giuseppa Ursone, yaitu ibu Pietro. Bangunan itu kini menjadi bagian dari kantor pusat PT KAI adalah sebuah saksi bisu perjalanan waktu.

Keluarga Menyusul: Air Mata di Tanah Seberang

Setelah beberapa lama, Van Blommestein memberi tugas baru pada Pietro: jemput keluarganya dari Belanda. Pietro segera mengirim surat, meminta ibu dan adiknya untuk segera berlayar ke Hindia Belanda nama pada itu. Surat itu, yang pastinya penuh dengan semangat dan janji, akhirnya sampai di tangan sang ibu.

Tahun 1877, Maria Giuseppa Ursone, Giuseppe adiknya Pietro bersama sepupu perempuan mereka, Martha Ursone, tiba di Batavia. Namun karena sang ibu tengah hamil tua, mereka memilih tinggal beberapa minggu di Batavia sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung. Ketika akhirnya tiba di Villa Maria, mereka disambut dengan pelukan hangat oleh Pietro, yang sudah berubah tentunya menjadi lebih dewasa, lebih tegap, dan lebih yakin akan masa depan.

Di villa yang sama, di tengah keindahan arsitektur Eropa yang menyatu dengan alam tropis, Maria Giuseppa melahirkan anak bungsunya pada 14 April 1877. Bayi itu diberi nama Alessandro Ursone yaitu anak ketiga yang membawa warna baru bagi keluarga Ursone di tanah asing.

Mencoba Peruntungan di Baroe Adjak

Setelah Van Blommestein bertolak ke medan perang Aceh, Pietro semakin sering mengunjungi kawasan perkebunan Baroe Adjak. Ia mulai menanam kina pada awal 1877, menjadikan perkebunan kina Baroe Adjak sebagai perkebunan kina kedua tertua di Lembang setelah Jayagiri. Tapi jalan terjal menghadang, mengelola perkebunan adalah dunia baru bagi lulusan hukum ini. Rasa putus asa beberapa kali menyergap, namun surat-surat dari sang komandan selalu datang membakar semangat: terus maju, terus berusaha.

Tahun 1879, beberapa bulan sebelum sang komandan pulang dari Aceh, Pietro mendapat tugas baru: membangun sebuah rumah peristirahatan di tengah perkebunan, menghadap ke utara. Rumah itu kemudian menjadi salah satu bangunan tertua dan paling indah di kawasan Baroe Adjak. Di sanalah pertemuan-pertemuan penting terjadi, termasuk jamuan makan yang melibatkan Giuseppe dan sang komandan.

Saat itu, Van Blommestein berkata pada Giuseppe dengan nada tegas:

“Tahun depan, tolong bantu saya membuat sebuah peternakan sapi perah di sini.”

Kedua kakak-beradik itu saling berpandangan, tak percaya. Tapi sebelum mereka sempat berkata, sang komandan menambahkan dengan suara lantang: “Aku yakin kau mampu. Bangunlah peternakan sangat besar dan paling besar di sini. Di tempat ini!”

Itulah awal dari babak baru kehidupan keluarga Ursone.

Bab 2: Giuseppe Ursone – Si Pendiam yang Membangun Kerajaan Susu

Menjemput Takdir di Baroe Adjak

Giuseppe Ursone lahir pada 27 Januari 1864. Berbeda dengan kakaknya yang berapi-api, Giuseppe adalah sosok pendiam, lebih suka mendengar daripada berbicara. Tapi diam bukan berarti lemah tapi justru di balik sikapnya yang tenang, tersimpan tekad baja.

Giuseppe tiba di Bandung pada 1877 bersama ibu dan sepupunya, namun tidak seperti Pietro yang langsung berinteraksi dengan sang komandan, Giuseppe harus menunggu dua tahun sebelum akhirnya bertemu Van Blommestein yang baru pulang dari perang Aceh.

Pada pertemuan pertama mereka, sang komandan seperti biasa hanya memandang Giuseppe dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, tanpa mengucapkan sepatah kata. Hanya tatapan tajam yang menusuk, seolah menilai apakah pemuda ini layak mendapat kepercayaannya. Giuseppe hanya pasrah, menahan gugup.

Tak lama berselang, Van Blommestein memanggil kedua bersaudara itu ke rumah peristirahatan Baroe Adjak. Dalam perjamuan yang dihiasi hidangan Eropa dan obrolan ringan, sang komandan akhirnya bicara panjang lebar. Ia bercerita tentang visinya yang jauh melampaui zamannya yaitu tentang peternakan yang akan menjadi kebanggaan Asia Tenggara. Lalu ia menatap Giuseppe lurus ke mata dan berkata, “Kau akan membantuku mewujudkan itu.”

Gereja Kecil di Tengah Peternakan

Sebelum membangun kandang, anehnya sang komandan meminta Giuseppe untuk membangun sebuah kapel terlebih dahulu. Sebuah tempat ibadah yang letaknya persis di samping rumah sang komandan di Baroe Adjak. Giuseppe, meski bingung, segera mengerjakan tugas itu. Kapel indah itu selesai pada 1881 dan menjadi pusat spiritual dan sejarah perjalanan keluarga Ursone.

Setelah kapel berdiri, barulah dimulai perjuangan sesungguhnya. Giuseppe harus mencari sapi-sapi perah yang didatangkan dari Belanda. Awalnya hanya puluhan ekor, dan hasil susunya hanya beberapa belas liter per hari ini sebuah angka yang sangat kecil dibandingkan ambisi besar sang komandan. Stagnasi dan keputusasaan mulai menghantui.

Tapi lagi-lagi Van Blommestein datang, dengan kata-kata yang bagaikan mantra: “Akan ada peternakan besar. Sangat besar. Di tanah Baroe Adjak ini.”

Orang-Orang di Balik Kesuksesan

Giuseppe tak sendiri. Sang komandan mendatangkan orang-orang Boer yaitu peternak ulung dari Afrika Selatan ke kawasan barat Lembang. Mereka membawa keahlian turun-temurun dalam beternak, dan Giuseppe banyak belajar dari mereka.

Lalu ada Tuan De Root, ahli inseminasi buatan, yang ditempatkan di utara Lembang untuk menghasilkan bibit sapi unggul. Rumah dan laboratoriumnya kini menjadi Balai Penelitian Tanaman dan Sayuran (Balitsa) di Cikole. Ada pula Tuan Dencer, ahli manajemen, yang membantu mengatur peternakan. Kawasan tempat tinggalnya menjadi gang yang kini dikenal dengan nama Gang Dencer 1 hingga 4 ini adalah sebuah penghormatan sederhana yang bertahan hingga kini.

Tiga belas tahun berlalu. Giuseppe telah mencurahkan seluruh jiwa dan raganya, namun hasil maksimal belum terlihat. Sementara itu, sang komandan pergi ke Lombok untuk misi militer. Ketika kembali akhir tahun 1894, Van Blommestein membawa banyak harta jarahan perang berupa uang dan emas batangan dan langsung diberikan kepada Giuseppe untuk mengembangkan peternakan. Salah satu rekan sang komandan bahkan membawa kabur naskah Negarakertagama, peninggalan sejarah yang kini tak ternilai.

Dengan modal melimpah, Giuseppe tak hanya fokus pada peternakan. Ia turut mensponsori pembangunan Loji St. Jan, yang mulai dirapatkan tahun 1896. Perlahan tapi pasti, peternakan Baroe Adjak mencapai masa kejayaan. Dari puluhan ekor sapi di awal, jumlahnya melonjak hingga 3.500 ekor di era puncak. Baroe Adjak menjadi peternakan sapi perah terbesar se-Asia Tenggara pada masanya.

Bab 3: Anna Carolina van Dijk – Deetje, Cinta Sejati Giuseppe

Sebuah Perjodohan Tak Terduga

Kerasnya kerja yang diciptakan sang komandan membuat Giuseppe dan Pietro nyaris tak punya waktu untuk urusan asmara. Hingga usia matang, mereka tetap melajang dan terbiasa hidup di bawah komando dan pengawasan.

Salah satu pihak yang “cerewet” soal perjodohan adalah Nyonya Jacobba, atau lebih dikenal sebagai Nyonya Homann. Pertemuan dengan Nyonya Homann terjadi pada 1885, saat kongres pengusaha gula di Hotel Homann. Saat itu, Ursone bersaudara yang baru menetap sekitar delapan tahun tinggal di Bandung kemudian didapuk untuk menghibur para pengusaha gula dengan alunan musik. Mereka mahir memainkan piano dan biola, bahkan Martha Ursone memiliki suara merdu. Kongres itu sebenarnya adalah ide tunggal Van Blommestein yang juga pengusaha gula terkemuka.

Nyonya Homann kemudian memperkenalkan Giuseppe pada seorang tamu yang sedang “tetirah” di penginapannya di Lembang. Tamu itu adalah janda asal Batavia bernama Anna Carolina van Dijk.

Anna lahir di Batavia pada 28 April 1881, putri dari Johan Adrianus Gerardus van Dijk yaitu pengusaha toko piano di Batavia dan penerbit buku di Leiden. Anna sebelumnya menikah dengan Jaques Edward Barkmaijer, seorang pegawai di Departemen Referendum Administrasi Dalam Negeri Batavia. Mereka awalnya hidup bahagia, tinggal di kawasan yang kini Petamburan. Namun setelah kelahiran anak ketiga, tabiat Jaques berubah, ia menjadi keras kepala dan bahkan suka memukul istri serta anak-anaknya.

Anna memilih bercerai, meskipun prosesnya alot karena Jaques bersikeras menolak. Setelah melalui serangkaian cobaan, Anna memutuskan untuk tetirah lama ke Lembang. Di sanalah ia akan dipertemukan dengan belahan jiwanya: Giuseppe Ursone.

Lukisan Hidup di Narnia Baroe Adjak

Pertemuan mereka terjadi di padang rumput Baroe Adjak. Di bawah langit Lembang yang berawan, cinta itu bersemi perlahan. Tapi keduanya diliputi keraguan. Giuseppe merasa dirinya tak cukup baik untuk Anna yang usianya yang terbilang matang dan membuatnya minder. Anna, di sisi lain, masih trauma akan kegagalan pernikahan sebelumnya.

Di sinilah peran besar Nyonya Homann dan sang komandan, kemudian mereka bagaikan mak comblang yang tak kenal lelah, terus mendorong kedua hati yang saling tertarik itu untuk mendekat. Akhirnya, di sebuah pagi berkabut, di kapel indah Baroe Adjak, Giuseppe dan Anna mengucapkan janji suci.

Mereka tinggal di Baroe Adjak bersama anak-anak Anna dari pernikahan pertama. Pernikahan mereka begitu harmonis hingga para tamu menjuluki mereka “lukisan hidup.” Pada 1909, lahirlah seorang putra yang diberi nama Pietro Antonio Ursone nama yang sama seperti kakak Giuseppe. Nama itu adalah penghormatan, sekaligus harapan akan generasi penerus.

Namun kebahagiaan tak selalu abadi. Kesehatan Anna semakin memburuk, hingga pada 14 April 1913, ia menghembuskan napas terakhir di Lembang. Giuseppe jatuh sejatuh-jatuhnya. Pada prosesi pemakaman di Kerkof Kebon Jahe, ia hanya terduduk, memeluk putranya yang masih berusia empat tahun. Anna pergi, dan Giuseppe seperti kehilangan separuh jiwanya.

Deetje: Kapel untuk Sang Kekasih

Sejak kepergian Anna, Giuseppe menjadi lebih pendiam. Jarang bicara, lebih sering menghabiskan hari di dalam kapel Baroe Adjak. Kapel itu ia beri nama “Deetje” yaitu panggilan sayangnya untuk Anna.

Banyak yang mengira kapel Deetje adalah rumah keluarga Ursone, padahal itu sejak awal memang tempat ibadah. Pasca kemerdekaan, kapel itu berubah nama menjadi Gereja Pondok Gembala, yang bertahan hingga masa revolusi. Rumah asli keluarga Ursone justru berada di barat peternakan, yang kini menjadi lahan pabrik farmasi Carlo Erba Farmintalia yang sekarang berubah menjadi pom bensin dan restoran cepat saji.

Namun Giuseppe akhirnya bangkit. Ia merasakan bahwa Anna selalu bersamanya, menemaninya dalam setiap langkah. Dengan semangat yang baru, ia membawa Baroe Adjak menjadi peternakan terbesar di Asia Tenggara pada 1933. Giuseppe juga menjadi pengurus inti koperasi susu Bandoeng Melk Centrale.

Suatu hari, para pekerja bertanya kepadanya, “Juragan Anom, apa yang memotivasi sampeyan hingga bisa sukses sebesar ini?”

Giuseppe menjawab dengan senyum sendu, “Karena Deetje selalu bersamaku.”

Bab 4: Pietro dan Oerki – Cinta Lintas Keyakinan

Meniru Sang Komandan

Berbeda dengan kisah cinta Giuseppe yang tragis, Pietro justru menemukan cinta pada wanita pribumi. Pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” tepat menggambarkan Pietro, ia begitu taat pada Van Blommestein, termasuk dalam urusan hati. Sang komandan sendiri menikah untuk kedua kalinya dengan gadis pribumi keturunan menak Sunda dari keluarga besar Pasar Baru Bandung. Pietro pun mengikuti jejak itu.

Wanita muda itu bernama Oerki. Cantik, berkulit kuning langsat, dan pandai bersenandung lagu-lagu Sunda. Ia tinggal di kawasan Jalan Kejaksaan, tak jauh dari Yayasan Kanker sekarang. Lagi-lagi Van Blommestein bertindak sebagai sponsor utama menjadi seorang mak comblang yang tak kenal lelah. Sang komandan terus mendukung Pietro, yang sudah ia anggap seperti adik sendiri, untuk mendapatkan hati Oerki.

Pernikahan sederhana mereka pun terjadi. Namun, mereka tetap mempertahankan keyakinan masing-masing: Pietro Protestan, Oerki Muslim. Keduanya memilih tinggal di Cipaganti, di sebuah rumah tak jauh dari Jalan Eyckman. Pietro juga membeli beberapa rumah di kawasan itu, salah satunya di Jalan Hata, yang dijadikan tempat penyortiran susu dari Baroe Adjak sebelum dikirim ke Bandoeng Melk Centrale.

Mavalda: Sang Putri Angkat

Pietro dan Oerki tak dikaruniai anak. Maka pada 1914, mereka mengangkat seorang bayi perempuan keturunan Italia yang diberi nama Mavalda Ursone. Namun bagi para pegawai Baroe Adjak, ia lebih dikenal sebagai Neng Sopiah. Nama pribumi yang melekat erat, karena Mavalda tumbuh membumi dan tak sungkan bertelanjang kaki bermain dengan anak-anak pegawai, bercanda dengan bahasa Sunda yang fasih.

Pabrik Coklat Mavalda dan Masjid Cipaganti

Selain rumah dan villa di Cipaganti dan Dago, Pietro dan Oerki membeli sebidang tanah di utara Cipaganti dan mendirikan Pabrik Coklat Mavalda. Lahan kebun cokelatnya membentang dari Jalan Eyckman, Makmur, Sejahtera, hingga Sempurna bahkan sampai ke gerbang belakang Bio Farma. Di tengah kebun, terdapat kolam ikan yang disebut warga sebagai Situ Bunjali. Pabriknya sendiri berada di Jalan Eyckman, kini menjadi klaster mewah di belakang restoran iga bakar terkenal.

Karyawan pabrik sebagian besar adalah warga pribumi dari Cibarengkok dan Hegarmanah yang beragama Islam. Atas permintaan Oerki, Pietro membangun sebuah surau untuk tempat salat dan Jumatan. Surau sederhana itu pada 1933 bertransformasi menjadi Masjid Besar Cipaganti, berdiri di lahan seluas 2.675 meter persegi ini bukti sebuah warisan toleransi yang masih berdiri kokoh.

Pasangan ini adalah teladan toleransi yang nyata. Oerki kerap membagikan makanan Natal ke anak-anak di Bala Keselamatan, sementara Pietro selalu mengingatkan karyawannya untuk menunaikan salat lima waktu. Pemandangan indah di utara Bandung yang jarang terekam sejarah.

Api dan Perpisahan

Pabrik coklat Mavalda harus terbakar habis saat pendudukan Jepang. Saat pegiat sejarah yang menulis kisah ini berkisah ketika menyambangi bekas lahan, seorang narasumber hanya menunjukkan patokan gedung yang kini berubah menjadi rumah-rumah mewah. Tak tersisa apa pun selain kenangan.

Pietro wafat pada 29 Mei 1935. Oerki, yang kehilangan separuh nyawanya, menjadi pendiam dan kesehatannya memburuk. Ia menyusul pada 23 September 1938. Karena perbedaan keyakinan, mereka tak bisa dimakamkan berdampingan. Pietro dikebumikan di Mausoleum keluarga Ursone di Pandu (dipindahkan dari Kebon Jahe pada 1934), sementara Oerki dimakamkan di pemakaman Muslim Sirnaraga, Bandung.

Dari kisah ini, kita belajar tentang indahnya perbedaan. Cinta yang tulus tak terbatas oleh keyakinan dimana ia abadi meski jasad berpisah.

Bab 5: Alessandro dan Mausoleum – Penutup Sebuah Saga

Sang Bungsu yang Berbeda

Alessandro Ursone, si bungsu, adalah sosok yang berbeda dari kedua kakaknya. Dari para pekerja Baroe Adjak, Malia mendengar bahwa Alessandro tak menikah namun memiliki banyak “nyai.” Salah satunya diabadikan dalam patung marmer yang kini terpajang di halaman selatan Grand Hotel Lembang. Patung itu sekilas seperti dewi Aphrodite, namun para narasumber menyebutnya Melia adalah seorang wanita pribumi yang entah siapa sebenarnya.

Dari situs Delpher, ada catatan surat kabar Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 14 Februari 1952, yang menyebut bahwa Alessandro resmi menikahi seorang wanita Eropa bernama Teresa Belso dan memiliki anak bernama Anita. Namun para narasumber Malia tak mengetahui hal ini dalam sebuah misteri yang masih menggantung.

Alessandro tak terjun ke peternakan atau perkebunan. Ia lebih suka menjadi perwakilan marmer Cararra dengan kantor di Jalan Banceuy, Bandung. Ia juga ketua perkumpulan budaya di Garut selatan, komisaris Observatorium Bosscha, dan tergabung dalam Italiaansche Fascistische Partij. Ia adalah sosok yang eksentrik, dengan nyanyian dan kisah yang tak sempat terungkap.

Mausoleum: Rumah Terakhir Keluarga Ursone

Awalnya, pemakaman keluarga Ursone berada di Kebon Jahe. Namun saat Baroe Adjak mencapai puncak kejayaannya pada 1930-an, makam mereka dipindahkan ke Kerkof Pandu. Di mausoleum itu, terukir nama-nama yang pernah mengisi lembaran sejarah Lembang:

· M. G. Ursone — Maria Giuseppa, sang ibu.
· P. A. Ursone — Pietro Antonio, si sulung.
· Antonio Domenico De Biasi — suami Martha Ursone, sekaligus direktur terakhir Baroe Adjak pada 1966.
· J. A. G. van Dijk — Johan Adrianus Gerardus, ayah Anna Carolina, mertua Giuseppe.
· A. C. Ursone — Anna Carolina, Deetje, cinta sejati Giuseppe.
· A. Ursone — Alessandro, si bungsu penuh misteri.
· G. M. Ursone — Giuseppe, sang pembangun kerajaan susu.
· Dr. G.G. Ursone — Giuseppe Gioachino “Pino” Ursone, pendiri pabrik farmasi Carlo Erba Farmintalia.

Epilog: Jejak yang Tak Terhapus

Pada April 2017, dini hari, telepon genggam penulis berdering. Dari ujung lain, suara seorang kakek memperkenalkan diri: Roni Noma, cucu Pietro Antonio Ursone. Pertemuan itu membuka pintu memori yang selama ini terkubur. Malia diundang ke rumah Jalan Hata, melihat piano tua Pietro yang masih terawat yang satu jenis dengan piano di Wisma Kerkoven Observatorium Bosscha.

Dari Om Billy Janz, cucu pemilik onderneming Jayagiri, Malia (Penulis) mendengar kisah langsung dari seorang saksi hidup yang pernah tinggal di Baroe Adjak saat kamp interniran Jepang. Dari para mantan pegawai tahun 50-an dan 60-an, ia menggali suka cita yang tak tercatat dalam dokumen resmi.

Dan yang paling mengharukan: pada 2016, saat Malia menjalani ibadah umrah, ia sekamar selama 14 hari dengan seorang nenek bernama Warsah tanpa mengetahui latar belakangnya. Baru pada akhir 2022, saat menelusuri keluarga jongos Van Blommestein, Malia menemukan bahwa Warsah adalah keluarga dari para pembantu keluarga Ursone dan nama Warsah sendiri adalah pemberian dari Pietro Antonio Ursone. Sebuah pertemuan yang terasa seperti takdir, mengikat kembali benang merah yang nyaris putus.

Kisah keluarga Ursone adalah pelajaran tentang ketekunan, keberanian, dan cinta yang melampaui batas. Tentang bagaimana tiga bersaudara dari Italia mampu meninggalkan jejak yang tak terhapuskan di Priangan. Tentang bagaimana kerja keras, keyakinan, dan toleransi dapat menciptakan keabadian meski zaman berganti, meski bangunan runtuh, meski nama perlahan dilupakan.

Semoga kisah keluarga Italia pertama yang berkiprah di Priangan ini menjadi motivasi bagi kita semua. Bahwa di balik setiap perkebunan, peternakan, dan pabrik yang pernah berdiri, ada manusia dengan impian, air mata, dan cinta yang tetap hidup dalam ingatan. (aq-nk)

Catatan :

Tulisan ini adalah penulisan ulang dari artikel Malia Nur Alifa sebagai penggiat sejarah, tentang rekonstruksi sejarah berdasarkan riset lisan dan dokumen, termasuk wawancara dengan narasumber seperti Roni Noma (cucu Pietro), Billy Janz, serta belasan mantan pegawai Baroe Adjak. Sumber lain mencakup arsip Delpher.nl, koleksi foto wereldculturen.nl, dan catatan nisan di Kerkof Pandu. Semua fakta disajikan dengan upaya akurasi, namun sebagai sejarah lisan, interpretasi tetap terbuka untuk dikaji ulang, adapun foto yang tampil adalah foto asli yang diperbaiki oleh Artificial Intelligence.

Berikut link Malia Nur Alifa : https://bandungbergerak.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *