Lembang, 11 Juli 2026. Pemerintah Desa Gudangkahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui kegiatan Rembug Stunting tingkat desa yang berlangsung di Aula Desa Gudangkahuripan, Sabtu (11/7/2026). Forum tersebut menjadi ruang koordinasi lintas sektor untuk menyamakan langkah dalam memperbaiki kualitas pendataan, meningkatkan edukasi kepada masyarakat, serta memperkuat intervensi sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia balita.
Kegiatan bertema “Melalui Konvergensi Pencegahan Stunting Kita Wujudkan Sumber Daya Manusia yang Unggul Indonesia Maju” itu dihadiri Camat Lembang Bambang Eko Setyowahjudi, Ketua TP PKK Kecamatan Lembang Maya Ekawati, Kepala Desa Gudangkahuripan Agus Karyana, Ketua TP PKK Desa Gudangkahuripan Tuti Mirawati, Kepala Puskesmas Jayagiri Evi Yuliani, Ketua BPD Ecep Saepuloh, pendamping desa, bidan desa, ahli gizi, kader Posyandu, para Ketua RW dan RT, serta unsur masyarakat lainnya.
Dalam pembukaan kegiatan, Kepala Desa Gudangkahuripan Agus Karyana menyampaikan bahwa berdasarkan data awal terdapat 58 anak yang terindikasi stunting di wilayahnya. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi perhatian bersama agar penanganan dilakukan secara tepat melalui data yang akurat dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

“Harapan saya, dengan adanya aplikasi ini, data mengenai kondisi balita dapat tercatat dengan lebih baik sehingga penanganan stunting dapat dilakukan secara tepat sasaran. Yang paling utama adalah anak-anak kita dapat tumbuh sehat, cerdas, serta berkembang sesuai usianya,” ujar Agus.
Ia menilai pembaruan sistem pendataan menjadi bagian penting dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk menekan angka stunting. Karena itu, seluruh kader Posyandu diminta memastikan setiap data yang dimasukkan telah sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Agus juga mengingatkan bahwa penanganan stunting tidak dapat bergantung pada satu program semata. Dukungan berbagai kebijakan pemerintah, termasuk bantuan pangan bergizi dan pelayanan kesehatan, perlu disertai kesadaran masyarakat dalam menjaga pola asuh, pemenuhan gizi, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Dalam wawancara usai kegiatan, Agus menegaskan bahwa evaluasi terhadap data akan terus dilakukan agar hasilnya semakin akurat.
“Kita berupaya bersama semua elemen. Data harus terus diperbarui dan divalidasi agar intervensi yang dilakukan benar-benar tepat. Harapan kami, persentase stunting terus menurun dan kegiatan edukasi kepada ibu hamil maupun keluarga tetap berjalan secara berkesinambungan,” katanya.

Sementara itu, Camat Lembang Bambang Eko Setyowahjudi menekankan bahwa keberhasilan menurunkan angka stunting memerlukan keterlibatan seluruh unsur masyarakat, bukan hanya tenaga kesehatan.
“Peran kader Posyandu sangat penting. Jangan sampai kegiatan Posyandu hanya menjadi rutinitas setiap bulan, tetapi harus benar-benar mampu memantau tumbuh kembang anak sejak dini,” ujar Bambang.

Ia menjelaskan bahwa pencegahan stunting dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau periode yang dikenal sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pada fase tersebut, pemenuhan gizi, sanitasi, pola asuh, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi faktor yang sangat menentukan.
Menurut Bambang, anak yang tumbuh tanpa stunting memiliki peluang lebih besar berkembang secara optimal, baik dari sisi kesehatan fisik maupun kemampuan kognitif. Karena itu, edukasi kepada keluarga perlu dilakukan secara terus-menerus.

Ketua TP PKK Kecamatan Lembang Maya Ekawati menambahkan, hasil rembuk menunjukkan bahwa tantangan di lapangan tidak hanya berkaitan dengan pelayanan kesehatan, tetapi juga tingkat partisipasi masyarakat.
Untuk menjangkau keluarga yang belum aktif memanfaatkan layanan Posyandu, TP PKK Kecamatan Lembang memperkenalkan program Gedor Pintu, yaitu pendekatan jemput bola melalui kunjungan langsung ke rumah-rumah warga bersama kader Posyandu, bidan desa, tenaga gizi, dan unsur terkait.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa Posyandu bukan hanya tempat menimbang berat badan, tetapi juga tempat berkonsultasi dan memperoleh edukasi mengenai kesehatan ibu dan anak. Karena itu kami melakukan jemput bola melalui program Gedor Pintu,” kata Maya.
Paparan dari Puskesmas Jayagiri juga memberikan penjelasan mengenai data stunting yang saat ini menjadi perhatian. Petugas menjelaskan bahwa angka yang tercatat dalam Sistem Informasi Gizi (SIGIZI) merupakan data anak yang terindikasi stunting, bukan penetapan akhir sebagai kasus stunting.

Data tersebut diperoleh dari hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan balita yang kemudian dianalisis secara otomatis oleh sistem. Selanjutnya seluruh data harus melalui proses validasi ulang melalui pengukuran kembali di lapangan.
Di Kabupaten Bandung Barat, jumlah anak yang terindikasi stunting saat ini tercatat lebih dari 5.000 anak. Seluruh data tersebut masih dalam proses verifikasi sehingga hasil akhirnya dapat berubah setelah dilakukan pemeriksaan ulang.
Untuk Desa Gudangkahuripan sendiri, sebanyak 58 anak yang masuk kategori terindikasi akan menjalani pengukuran ulang selama pelaksanaan Bulan Penimbangan Balita pada Juli 2026. Langkah tersebut diharapkan menghasilkan data yang lebih akurat sehingga intervensi kesehatan dapat diberikan kepada sasaran yang benar-benar membutuhkan.

Melalui forum rembuk ini, pemerintah desa bersama seluruh pemangku kepentingan menegaskan komitmen memperkuat kolaborasi dalam pencegahan stunting. Pendekatan yang ditempuh tidak hanya berfokus pada perbaikan data, tetapi juga membangun kesadaran keluarga mengenai pentingnya pemenuhan gizi, pemeriksaan kesehatan, sanitasi, dan pengasuhan yang baik sebagai fondasi untuk mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas. (nk)