Kidang Pananjung, 1 Agustus 2026. Harapan warga Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, untuk menikmati akses jalan yang lebih layak mulai menemukan titik terang. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat memasukkan ruas Jalan Kabupaten Tanjungwangi–Kidang Pananjung–Mukapayung ke dalam rencana perbaikan pada tahun 2026. Saat ini, pekerjaan telah memasuki tahap awal berupa pembangunan tembok penahan tanah (TPP) sebagai bagian dari persiapan konstruksi jalan.
Kepala Desa Kidang Pananjung, Hj. Yuyu Yuhaeni, S.Sos., menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, Bupati Jeje Ritchie Ismail, Wakil Bupati Asep Ismail, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) yang telah merespons aspirasi masyarakat setelah bertahun-tahun diajukan melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
“Alhamdulillah tahun 2026 sudah ada rencana bahwa jalan Desa Kidangpananjung yang berstatus jalan kabupaten akan diperbaiki. Sekarang sudah mulai dengan pembangunan TPP. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Bandung Barat yang telah memberikan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat,” ujar Yuyu.

Ruas jalan yang akan diperbaiki memiliki panjang sekitar tujuh kilometer, menghubungkan wilayah Tanjungwangi hingga Kidang Pananjung dan menjadi bagian dari jalur menuju Mukapayung. Jalan tersebut merupakan akses utama yang menghubungkan aktivitas masyarakat dengan pusat pelayanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, serta distribusi hasil pertanian.
Menurut Yuyu, pemerintah desa telah mengusulkan perbaikan jalan tersebut hampir setiap tahun melalui Musrenbang. Penantian panjang itu berlangsung sekitar 15 tahun hingga akhirnya masuk dalam daftar prioritas pembangunan pemerintah daerah.
“Kami mengajukan setiap tahun melalui Musrenbang. Alhamdulillah baru tahun ini ada realisasi rencana perbaikan. Mudah-mudahan pelaksanaannya berjalan lancar,” katanya.
Ia menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterima dari pemerintah daerah, ruas jalan tersebut direncanakan menggunakan lapisan hotmix. Meski demikian, rincian teknis pekerjaan masih menunggu pelaksanaan sesuai tahapan proyek.

Desa Kidang Pananjung merupakan wilayah yang sebagian besar penduduknya menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian. Komoditas utama yang dihasilkan antara lain sayuran, singkong, pisang, serta hasil kehutanan. Selain itu, masyarakat juga mengembangkan usaha kecil dan menengah, termasuk produksi tape singkong dan tape ketan hitam yang menjadi salah satu potensi unggulan desa. Produk-produk UMKM tersebut bahkan telah memperoleh sertifikat halal sehingga memiliki peluang pasar yang lebih luas.
Perbaikan jalan dinilai akan memberikan dampak langsung terhadap kelancaran distribusi hasil pertanian. Selama ini, hasil panen masyarakat dipasarkan ke Bandung, Cimahi, dan sejumlah pasar tradisional di wilayah sekitarnya. Kondisi jalan yang rusak menyebabkan waktu tempuh lebih lama sekaligus meningkatkan biaya transportasi.
“Harapan saya mewakili warga, dengan adanya perbaikan jalan ini mudah-mudahan ekonomi meningkat. Jalan ini adalah akses utama perekonomian masyarakat. Kalau jalannya bagus, distribusi hasil pertanian menjadi lebih cepat dan biaya angkut bisa lebih efisien,” tutur Yuyu.

Selain sektor ekonomi, akses pendidikan juga menjadi perhatian. Di Desa Kidang Pananjung terdapat dua sekolah dasar, satu madrasah tsanawiyah, dan satu sekolah menengah kejuruan. Banyak pelajar yang melanjutkan pendidikan ke Kecamatan Cililin maupun Kecamatan Cihampelas dengan jarak sekitar 15 kilometer dari desa.
Yuyu mengatakan, biaya transportasi masih menjadi beban yang cukup berat bagi sebagian keluarga. Dalam sehari, ongkos perjalanan pulang pergi dapat mencapai sekitar Rp50 ribu untuk menuju sekolah di luar desa.
“Walaupun ada bantuan pendidikan seperti BOS atau KIP, yang paling berat bagi masyarakat adalah ongkos transportasi. Mudah-mudahan kalau jalannya bagus, biaya perjalanan bisa lebih ringan,” ujarnya.
Akses kesehatan juga diharapkan ikut membaik. Selama ini masyarakat harus menempuh perjalanan menuju RSUD Cililin yang berjarak sekitar 15 kilometer apabila membutuhkan pelayanan rumah sakit. Dalam kondisi darurat, waktu tempuh dapat mencapai satu hingga dua jam karena kondisi jalan yang belum memadai.

Untuk pelayanan kesehatan tingkat pertama, warga banyak memanfaatkan Puskesmas Mukapayung yang dinilai lebih mudah dijangkau dibandingkan fasilitas kesehatan lain di wilayah sekitar. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya infrastruktur jalan sebagai penunjang pelayanan publik, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perdesaan.
Di sisi lain, tantangan sektor pertanian masih dipengaruhi musim kemarau. Menurut Yuyu, sebagian besar lahan pertanian di Kidang Pananjung masih mengandalkan air hujan karena belum memiliki jaringan irigasi yang memadai. Akibatnya, produktivitas pertanian sangat bergantung pada kondisi cuaca.
“Kalau ada hujan, petani bisa panen. Kalau tidak ada hujan, hasil pertanian tentu sangat terbatas karena belum ada irigasi yang mencukupi,” katanya.
Berdasarkan profil desa, Kidang Pananjung terdiri atas empat dusun dengan jumlah penduduk lebih dari 4.000 jiwa. Selama beberapa tahun terakhir, pembangunan desa juga diarahkan pada peningkatan kualitas infrastruktur, pelayanan dasar, pemberdayaan masyarakat, pengembangan wisata lokal, serta penguatan layanan kesehatan melalui posyandu. Upaya tersebut turut mendukung penanganan stunting yang kini berada pada angka rendah di desa tersebut.

Dengan dimulainya tahapan awal pembangunan, masyarakat berharap perbaikan Jalan Kabupaten Tanjungwangi–Kidang Pananjung–Mukapayung dapat segera terealisasi sepenuhnya. Kehadiran infrastruktur yang lebih baik diharapkan tidak hanya memperlancar mobilitas warga, tetapi juga memperkuat pertumbuhan ekonomi desa, memperluas akses pendidikan, mempercepat layanan kesehatan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan. (aq-nk)