Milangkala Desa Pasirhalang Ke-156 Diwarnai Pentas Seni dan Gerakan Pangan Murah

165 Desa KBB Bandung Barat

Pasirhalang, 24 Agustus 2026 Perayaan Milangkala ke-156 Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, berlangsung bersamaan dengan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan tersebut diisi pentas seni budaya warga dan Gerakan Pangan Murah (Gapura Amanah) yang menyediakan sejumlah kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasar.

Kegiatan yang berlangsung di lapang CV Cahaya Gumilang, Desa Pasirhalang, itu mempertemukan kegiatan kebudayaan masyarakat dengan upaya pemerintah daerah membantu menjaga keterjangkauan harga pangan. Gerakan pangan murah tersebut dilaksanakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bandung Barat bersama sejumlah lembaga terkait.

Kepala Desa Pasirhalang Soleh Muslihat mengatakan rangkaian Milangkala menjadi ruang bagi warga untuk memperkuat hubungan sosial sekaligus menampilkan potensi seni dan budaya yang berkembang di lingkungan masyarakat. Ia menyampaikan apresiasi kepada warga yang terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan.

“Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat keluarga masyarakat Desa Pasirhalang yang sudah ikut serta dalam kegiatan ini,” kata Soleh.

Menurut dia, rangkaian kegiatan telah dimulai dengan ziarah dan tabur bunga di makam sejumlah mantan kepala desa terdahulu. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan upacara Milangkala yang berlangsung pada pagi hari.
Kegiatan kemudian diisi karnaval budaya yang melibatkan warga dari 12 RW. Setiap RW mengirimkan peserta untuk menampilkan unsur budaya dan kreativitas masyarakat. Setelah karnaval, kegiatan dilanjutkan dengan pentas seni dari masing-masing wilayah.

Soleh mengatakan keterlibatan seluruh RW menunjukkan adanya partisipasi masyarakat dalam menjaga dan memperkenalkan kebudayaan lokal. Salah satu penampilan yang disiapkan adalah wayang golek dengan dalang muda yang merupakan putra Desa Pasirhalang.
“Yang kita gali adalah potensi budaya di Desa Pasirhalang,” ujar Soleh.

Rangkaian kegiatan juga dijadwalkan berlanjut dengan senam bersama, gerak jalan, hiburan warga, serta pembagian hadiah. Pada bagian akhir, kegiatan ditutup dengan pengajian umum dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di tingkat desa.
Tema Milangkala ke-156 Desa Pasirhalang adalah “Melalui Seni dan Budaya, Kita Pererat Persatuan untuk Pasirhalang Maju dan Indonesia Jaya”. Tema tersebut menempatkan kebudayaan sebagai salah satu ruang untuk memperkuat interaksi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan desa.

Dalam kegiatan itu, hadir unsur pemerintah kecamatan, perangkat daerah, unsur TNI dan Polri, Badan Permusyawaratan Desa, tokoh masyarakat, alim ulama, serta sejumlah unsur masyarakat lainnya. Kehadiran berbagai elemen tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan desa tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat.

Soleh berharap rangkaian Milangkala dapat mempererat silaturahmi antarwarga. Menurut dia, hubungan sosial yang baik diperlukan agar masyarakat dapat bersama-sama mendukung pembangunan Desa Pasirhalang.
“Harapan kami, mudah-mudahan lebih terjalin lagi silaturahmi yang erat dan Desa Pasirhalang lebih maju ke depannya,” katanya.

Di sisi lain, perayaan Milangkala dimanfaatkan pemerintah daerah untuk menghadirkan Gerakan Pangan Murah atau Gapura Amanah. Program tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau sekaligus menjadi bagian dari upaya stabilisasi pasokan dan harga pangan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bandung Barat Lukmanul Hakim mengatakan kegiatan pangan murah tersebut berkaitan dengan pengendalian inflasi daerah. Masyarakat diberikan akses terhadap sejumlah komoditas pangan strategis dengan harga yang ditetapkan di bawah harga pasar.

“Yang terpenting dari kegiatan ini adalah bagaimana upaya pemerintah daerah untuk menekan laju inflasi,” kata Lukmanul.
Berdasarkan daftar harga yang disediakan dalam kegiatan tersebut, beras premium dijual Rp14.000 per kilogram, beras SPHP Rp60.000 per kemasan lima kilogram, dan minyak goreng Rp15.500 per liter. Harga komoditas lain antara lain gula Rp16.500 per kilogram, telur Rp23.000 per kilogram, daging ayam Rp39.500 per kilogram, serta daging sapi Rp120.000 per kilogram.

Selain itu, tersedia kentang Rp18.000 per kilogram, terigu Rp9.000 per kilogram, bawang merah dan bawang putih masing-masing Rp10.000 per kemasan, serta cabai rawit dan cabai keriting masing-masing Rp10.000 per kemasan. Sosis juga tersedia dengan harga mulai Rp15.500.

Lukmanul mengatakan selisih harga menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat antusias memanfaatkan kegiatan pangan murah. Bagi rumah tangga, perbedaan harga pada sejumlah komoditas dapat membantu mengurangi pengeluaran ketika kebutuhan pangan harus dipenuhi dalam jumlah cukup besar.

Program tersebut, kata dia, tidak dirancang sebagai kegiatan satu kali. Pemerintah daerah bekerja sama dengan Badan Pangan Nasional, Perum Bulog, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, serta Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat untuk mendukung ketersediaan dan keterjangkauan pangan.

“Jelas, ini berlanjut terus. Kita juga bekerja sama dengan Bulog, Badan Pangan Nasional, termasuk dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat serta Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat,” ujar Lukmanul.

Kehadiran pangan murah di tingkat desa juga menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian inflasi memiliki dimensi yang langsung dirasakan masyarakat. Stabilitas harga tidak hanya berkaitan dengan indikator ekonomi daerah, tetapi juga dengan kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, keberlanjutan program tetap membutuhkan pengelolaan pasokan, distribusi, ketepatan sasaran, dan pemantauan harga secara berkala. Pangan murah dapat menjadi salah satu instrumen intervensi ketika harga atau daya beli masyarakat menghadapi tekanan, sementara kestabilan jangka panjang tetap bergantung pada kelancaran rantai pasok.

Bagi Desa Pasirhalang, rangkaian Milangkala ke-156 akhirnya mempertemukan dua kepentingan yang berhubungan langsung dengan kehidupan warga: pemeliharaan kebudayaan lokal dan pemenuhan kebutuhan dasar. Pentas seni memberi ruang bagi warga untuk menampilkan identitas dan kreativitas, sedangkan pangan murah menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih langsung.

Soleh berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat kebersamaan warga sekaligus mendorong pembangunan desa. Sementara itu, pemerintah daerah berharap masyarakat dapat memanfaatkan program pangan murah secara bijak sebagai bagian dari upaya menjaga pengeluaran rumah tangga.

Dengan demikian, peringatan Milangkala Desa Pasirhalang tidak berhenti pada perayaan usia desa. Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan masyarakat, pelestarian seni dan budaya, serta pelayanan pangan yang menyentuh kebutuhan sehari-hari warga. Kesinambungan ketiga aspek itu menjadi bagian penting dalam membangun desa yang memiliki ikatan sosial kuat dan mampu merespons kebutuhan masyarakatnya. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *