Ketika Legenda Menjadi Motif dan Jalan Pemberdayaan
Di antara deretan karya batik yang hadir dalam Kembang Nusa 2026 dan Culture Preneur Festival 2026, Batik Gending Amarta membawa pendekatan yang berbeda. Kain tidak berhenti sebagai produk fesyen, tetapi menjadi medium untuk menceritakan kembali legenda Indonesia, terutama kisah-kisah yang tumbuh dari tanah Jawa Barat.
Di balik karya tersebut terdapat Poppy Sri Hendriani, pelaku UMKM Batik Gending Amarta yang sejak 2017 menekuni produksi kain batik cap, batik tulis, busana batik, hingga lukisan batik tulis. Ia membangun Gending Amarta dengan gagasan sederhana: menjaga warisan leluhur melalui karya yang tetap relevan dengan kehidupan generasi sekarang.

Bagi Poppy, batik mempunyai ruang yang lebih luas daripada sekadar kain bermotif. Setiap goresan dapat membawa cerita, filosofi, dan identitas budaya. Karena itu, ia menjadikan legenda Nusantara sebagai bagian penting dari karakter produknya.
Salah satu karya yang mendapat perhatian adalah batik bertema Prabu Siliwangi. Tokoh yang lekat dengan sejarah dan kebudayaan Jawa Barat itu diterjemahkan Poppy ke dalam karya batik yang mencoba mempertemukan nilai tradisional dengan kebutuhan fesyen masa kini.

Konsep tersebut menjadi identitas Gending Amarta. Poppy menyebutnya sebagai kecintaan terhadap legenda Indonesia, dengan perhatian khusus pada legenda Jawa Barat. Di situlah nilai pembeda produknya dibangun: batik tidak hanya dikenakan, tetapi juga membawa narasi budaya.
Karya tersebut pernah membawanya memperoleh penghargaan dalam program INOTEK Foundation atau Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia, lembaga inkubator bisnis nirlaba yang didirikan Sandiaga Salahuddin Uno bersama Arief Surowidjojo. Poppy meraih posisi sebagai salah satu dari lima UMKM terbaik dalam program tersebut, sekaligus memperoleh sejumlah dukungan dan hadiah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN.

Pengalaman lain yang memperkuat perjalanan kreatifnya terjadi di Kantor BRIN Pusat Jakarta. Dalam sebuah perlombaan, Poppy membuat karya batik di hadapan enam juri. Salah satu tokoh yang hadir sebagai juri saat itu adalah Sandiaga Salahuddin Uno.
Pertanyaan yang diajukan kepadanya sederhana tetapi mendasar: apa yang membedakan batik Gending Amarta dari batik lainnya di Indonesia?

Poppy menjawab melalui konsep yang menjadi fondasi produknya, yakni kecintaan terhadap legenda Nusantara, terutama cerita dari Jawa Barat. Baginya, keunikan batik tidak semata-mata ditentukan oleh pola visual, tetapi oleh cerita yang melekat pada setiap karya.
Gagasan itu pula yang kemudian dibawa ke ruang pamer Kembang Nusa 2026. Batik Prabu Siliwangi menjadi salah satu karya yang merepresentasikan cara Poppy menerjemahkan sejarah dan legenda ke dalam desain tekstil.

Perjalanan Gending Amarta juga memiliki dimensi sosial. Poppy membuka ruang bagi anak-anak muda untuk belajar membatik. Anak-anak dari sekolah luar biasa atau SLB turut diajak mengenal proses tersebut. Tujuannya bukan hanya mengenalkan keterampilan, tetapi memberi kesempatan agar mereka memiliki kemampuan produktif dan, pada waktunya, dapat memperoleh penghasilan secara mandiri.
Bagi Poppy, pemberdayaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan UMKM. Ketika sebuah keterampilan diwariskan kepada generasi berikutnya, yang dipertahankan bukan hanya teknik membatik, melainkan juga pengetahuan mengenai nilai budaya di baliknya.

Produk Gending Amarta pun telah menembus pasar luar negeri, termasuk Korea Selatan, di samping pemasaran di berbagai wilayah Indonesia. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa produk berbasis tradisi tetap mempunyai peluang masuk ke pasar global ketika dikemas dengan identitas dan cerita yang kuat.
Poppy masih melihat ruang pengembangan yang panjang. Penghargaan yang pernah diterimanya tidak ia tempatkan sebagai titik akhir, melainkan sebagai dorongan untuk menciptakan desain baru. Ia ingin Gending Amarta terus berinovasi tanpa kehilangan akar budaya yang menjadi dasar kelahirannya.

Melalui ruang pamer tersebut, Poppy juga menitipkan harapan kepada pemerintah. Menurut dia, UMKM membutuhkan perhatian dan dukungan yang konsisten, terutama dalam membuka akses pemasaran hingga ke luar negeri. Produk lokal, menurutnya, mempunyai kemampuan untuk bersaing ketika mendapatkan ekosistem yang mendukung. Harapannya, batik berbasis legenda Jawa Barat memperoleh ruang lebih luas untuk berkembang sekaligus menjadi media pengenalan budaya kepada masyarakat.
Panggung Batik dan Ekonomi Kreatif
Kembang Nusa 2026 dan Culture Preneur Festival 2026 berlangsung di Graha Manggala Siliwangi, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Jumat, 2 Oktober 2026. Kegiatan yang diinisiasi Trisindo by Sinergi bersama Bandung Preneur Squad tersebut menjadi ruang pertemuan antara wastra Nusantara, industri kreatif, komunitas, dan pelaku UMKM.
Tanggal 2 Oktober dipilih bertepatan dengan Hari Batik Nasional, yang berkaitan dengan pengakuan batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO pada 2009.

Sejumlah tokoh dari pemerintahan dan komunitas hadir. Di antaranya Kepala Bidang Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung Aditya Yanuarsah, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Bidang Ekonomi Kreatif Kota Bandung Faisal Tachir, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung H. Dindin Syahidin, serta Ketua Bandung Preneur Squad Hani Handayani bersama jajaran pengurus.
Poppy Sri Hendriani hadir sebagai Founder Batik Gending Amarta sekaligus perwakilan desainer yang menampilkan karya batik berbasis legenda Jawa Barat.

Suasana pameran dibuka dengan nuansa budaya Sunda. Rampak gendang, penari tradisional, dan Lengser menyambut para tamu. Setelah itu, perhatian pengunjung bergeser ke panggung fesyen yang menampilkan karya desainer nasional dan komunitas lokal.
Karya Batik Gending Amarta menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian. Anak-anak, remaja, hingga model perempuan dewasa memperagakan busana batik yang mengolah motif tradisional dalam bentuk fesyen kontemporer.

Pameran berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 2026. Puluhan stan menghadirkan batik dari Solo, Cirebon, Pekalongan, kain songket, kerajinan tangan, aksesori fesyen, hingga kuliner Nusantara.
Ketua Bandung Preneur Squad Hani Handayani menempatkan kegiatan tersebut sebagai ruang membangun kolaborasi antara kebudayaan dan kewirausahaan. Sementara Aditya Yanuarsah dari Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung menilai keberadaan perajin dan pelaku ekonomi kreatif menunjukkan bahwa identitas budaya dapat menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat.

Rangkaian kegiatan turut diisi talkshow, sosialisasi program kerja sama, penyerahan plakat kepada mitra dan narasumber, serta penghargaan bagi pihak yang berkontribusi.
Pada akhirnya, Kembang Nusa 2026 memperlihatkan satu hal penting: tradisi dapat terus hidup ketika diberi ruang untuk beradaptasi. Pada Gending Amarta, legenda Prabu Siliwangi diterjemahkan menjadi motif, motif berkembang menjadi busana, dan busana membuka jalan bagi pemberdayaan serta pasar yang lebih luas.

Batik dalam konteks itu tidak berhenti pada kain. Ia menjadi cara untuk merawat ingatan budaya sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi generasi berikutnya.
Bagi yang ingin mengenal atau memesan karya Gending Amarta, produk dapat diperoleh dengan menghubungi Poppy Sri Hendriani melalui WhatsApp 0812 6651 4606 atau Instagram @gendingamarta_batik. Di tangan Gending Amarta, selembar batik mendapat tugas lebih panjang: membawa cerita lama agar tetap hidup di tengah generasi baru. (nk)