Cihampelas, 3 Okt 2026 Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, memperingati milangkala ke-23 dengan rangkaian kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 2-3 Oktober 2026. Kegiatan yang dipusatkan di halaman Kantor Kecamatan Cihampelas itu diisi doa bersama, senam, Gerakan Pangan Murah, pelayanan kesehatan dan keluarga berencana gratis, hingga kegiatan sosial bagi anak yatim dan warga dhuafa.

Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail hadir bersama Camat Cihampelas Agus Rudianto, Ketua TP PKK Kecamatan Cihampelas Ai Mintarsih, Ketua Panitia Nunuy, serta sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan. Hadir pula mantan Camat Cihampelas pertama, Erik, para kepala desa, ketua TP PKK desa, tokoh agama, termasuk Ketua MUI Kecamatan Cihampelas Rahmat Syarif Hidayat, serta warga dan tamu undangan.

Rangkaian kegiatan dimulai pada 2 Oktober 2026 melalui doa bersama yang dilaksanakan bersama MUI Kecamatan Cihampelas, kepala desa, alim ulama, tokoh agama, dan aparatur sipil negara di lingkungan kecamatan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari refleksi atas perjalanan Cihampelas sejak ditetapkan sebagai kecamatan hasil pemekaran.

Pada 3 Oktober 2026, kegiatan dilanjutkan dengan senam bersama, Gerakan Pangan Murah, pembagian sembako untuk anak yatim dan warga dhuafa, lomba paduan suara PKK antardesa, lomba paduan suara Linmas antardesa, pelayanan kesehatan gratis, pelayanan keluarga berencana gratis, serta lomba tumpeng antardesa.

Asep Ismail mengatakan peringatan usia kecamatan perlu ditempatkan sebagai bahan evaluasi terhadap program pembangunan yang telah berjalan. Menurut dia, pemerintah kecamatan perlu melihat kembali program yang telah terlaksana maupun yang masih membutuhkan tindak lanjut.
“Saya bersama Bupati mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Pak Camat Cihampelas dan jajaran, juga Muspika, Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Cihampelas, serta tokoh masyarakat,” kata Asep.

Ia mengatakan evaluasi tersebut penting untuk memastikan arah pembangunan di tingkat kecamatan tetap sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Bandung Barat. Program pelayanan dasar dan hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau Musrenbang menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

“Milangkala yang ke-23 ini tentu harus menjadi bahan evaluasi. Evaluasi ke belakang, apa saja program yang belum terlaksana, terkait dengan visi-visi Bupati yang harus dijabarkan oleh para camat se-Kabupaten Bandung Barat, khususnya Kecamatan Cihampelas,” ujar Asep.

Menurut Asep, Cihampelas memiliki potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan. Ia menilai perkembangan wilayah tersebut menunjukkan perubahan dibandingkan masa awal pembentukannya. Kehadiran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dalam rangkaian kegiatan milangkala juga menjadi salah satu gambaran aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kalau melihat potensi dari Kecamatan Cihampelas sendiri, terutama dari ekonomi, luar biasa. Kita juga melihat dengan menghadirkan UMKM-UMKM yang ada di wilayah Kecamatan Cihampelas,” kata Asep.

Camat Cihampelas Agus Rudianto mengatakan usia 23 tahun menjadi kesempatan untuk melihat kembali capaian sekaligus menyusun langkah berikutnya. Ia menekankan pentingnya kebersamaan pemerintah dan masyarakat dalam menjalankan pembangunan.
“Kita bersyukur sudah sedemikian jauh langkah Kecamatan Cihampelas selama 23 tahun. Tentu, seperti yang disampaikan Pak Wakil Bupati, ini menjadi bahan kita introspeksi dan evaluasi, apa yang sudah dicapai dan apa yang menjadi cita-cita serta harapan ke depan,” ujar Agus.

Dalam sektor ekonomi, Agus menyebut Cihampelas memiliki sejumlah sentra UMKM yang memproduksi berbagai jenis makanan dan kerajinan. Di antaranya pindang, kerupuk gurilem, wajit, serta layang-layang.
Penguatan UMKM, kata Agus, tidak cukup dilakukan melalui promosi produk. Pelaku usaha juga membutuhkan dukungan permodalan, ketersediaan bahan baku, pemasaran, serta peningkatan keterampilan sumber daya manusia.
“UMKM ini harus kita bantu, bagaimana dari mulai permodalan, kemudian bahan bakunya, kemudian juga pemasaran, dan juga keahliannya ditingkatkan, SDM-nya. Sehingga mereka bisa lebih mandiri,” kata Agus.

Di sisi lain, pemerintah Kecamatan Cihampelas masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah dalam pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar. Agus menyebut kebutuhan pendidikan tingkat SMA, fasilitas kesehatan, dan sarana keagamaan masih menjadi perhatian yang perlu dikoordinasikan dengan pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi.
Untuk pendidikan SMA, kewenangannya berada pada pemerintah provinsi. Karena itu, pemerintah kecamatan berupaya menjembatani kebutuhan masyarakat melalui komunikasi dengan pemerintah daerah dan pemerintah provinsi.

“Kita terus berupaya dan berkomunikasi dengan Pak Bupati, Pak Wakil, juga berupaya ke tingkat provinsi, karena untuk SMA ini ranahnya provinsi. Doanya dari semuanya,” ujar Agus.
Perjalanan Kecamatan Cihampelas juga disampaikan Erik, camat pertama yang pernah memimpin wilayah tersebut. Ia kembali hadir setelah sekitar 23 tahun dan mengingat masa awal ketika Cihampelas baru terbentuk sebagai kecamatan.

Erik mengatakan pembentukan Kecamatan Cihampelas berlangsung setelah perubahan kebijakan pemerintahan daerah yang memberikan ruang lebih besar bagi daerah untuk mengusulkan pembentukan kecamatan. Pemekaran dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan kebutuhan pelayanan masyarakat.
Pada masa awal, kondisi Kecamatan Cihampelas masih terbatas. Menurut Erik, hanya terdapat sekitar tujuh personel dan belum tersedia kantor kecamatan. Untuk sementara, pelayanan masyarakat dilakukan di sebuah gudang di Desa Mekarmukti yang dibersihkan dan digunakan sebagai tempat bekerja.

Pembangunan kantor kecamatan kemudian dilakukan setelah pemerintah memperoleh lahan sekitar 5.000 meter persegi di wilayah Desa Citapen. Kantor tersebut diresmikan pada 2 Oktober 2003.
Dua puluh tiga tahun setelah pembentukannya, Erik melihat Cihampelas telah mengalami perkembangan. Ia berharap kemajuan tersebut dapat terus dilanjutkan melalui kerja bersama pemerintah dan masyarakat.

“Saya sangat gembira melihat perkembangan Cihampelas saat ini. Dalam perjalanan waktu, Cihampelas berkembang cukup pesat, bahkan menunjukkan kemajuan yang membanggakan dibandingkan ketika masih menjadi bagian dari kecamatan induknya,” kata Erik.
Ketua Panitia Milangkala Kecamatan Cihampelas ke-23, Nunuy, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan terlaksana berkat partisipasi kepala desa, masyarakat, dan para donatur. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kebersamaan sekaligus memberikan manfaat langsung bagi warga.

Ia berharap peringatan usia ke-23 dapat mendorong peningkatan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat. Menurut Nunuy, semangat tersebut sejalan dengan visi Cihampelas “Cekas” serta dukungan terhadap visi pembangunan Kabupaten Bandung Barat yang Amanah.
Rangkaian milangkala akhirnya menempatkan perjalanan 23 tahun Cihampelas dalam dua sisi. Di satu sisi, perkembangan wilayah menjadi catatan capaian sejak pemekaran. Di sisi lain, kebutuhan penguatan UMKM dan pemenuhan layanan dasar menunjukkan masih adanya pekerjaan yang perlu diteruskan melalui koordinasi lintas pemerintahan dan partisipasi masyarakat. (nk)