Bandung Barat, 11 April 20266. Pemerintah Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, menggelar rangkaian kegiatan terpadu yang menggabungkan halalbihalal, sosialisasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), pendataan sosial ekonomi, hingga penyuluhan kesehatan holistik di Gedung Serbaguna desa setempat.
Kepala Desa Karangtanjung, Rismawan, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dirancang berlapis untuk menjawab kebutuhan administratif sekaligus sosial masyarakat pasca-Idul Fitri.
“Diawali dengan halalbihalal kepada seluruh lembaga desa. Ini bagian dari tradisi sekaligus momentum saling memaafkan atas berbagai kekeliruan,” kata Rismawan saat ditemui usai kegiatan.

Setelah agenda silaturahmi, pemerintah desa melanjutkan dengan sosialisasi PBB. Langkah ini menyusul penyerahan Daftar Himpunan Ketetapan Pajak (DHKP) dari Badan Pendapatan Daerah.
Menurut Rismawan, peningkatan partisipasi pembayaran pajak menjadi penting karena berkaitan langsung dengan struktur pendanaan desa.
“Pajak itu kembali lagi ke masyarakat. Ada dana desa, alokasi dana desa, bagi hasil pajak, dan retribusi. Semua itu akan digunakan untuk pembangunan dan kegiatan masyarakat,” ujarnya.
Di saat bersamaan, desa juga menjadi lokasi pendataan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang melibatkan kolaborasi petugas PLN dan Badan Pusat Statistik. Pendataan dilakukan langsung ke rumah warga, mencakup kondisi fisik hunian hingga konsumsi listrik.

Namun proses ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Sejumlah warga sempat menunjukkan resistensi karena kekhawatiran akan dampak terhadap bantuan sosial.
“Memang ada kendala. Banyak masyarakat yang menolak karena takut bantuan sosialnya dihapus. Padahal ini pembaruan data, bukan penghapusan,” kata Rismawan.
Ia menegaskan bahwa pembaruan data justru bertujuan meningkatkan akurasi penyaluran bantuan agar lebih tepat sasaran.
Selain itu, keterlibatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat juga terlihat dalam pendataan sanitasi. Pemerintah pusat melakukan verifikasi lapangan terkait rumah warga yang belum memiliki fasilitas jamban.

Rismawan menyebut, pada 2023 desanya memperoleh bantuan pembangunan sanitasi untuk 30 rumah. Evaluasi dilakukan untuk memastikan keberlanjutan program.
“Dicek mana yang sudah, mana yang belum. Ini bagian dari evaluasi agar program tepat sasaran,” ujarnya.
Di tengah agenda administratif tersebut, kegiatan utama yang menjadi perhatian adalah sosialisasi kesehatan holistik yang disampaikan oleh komunitas Indonesia Sehat.
Pendekatan kesehatan holistik, menurut Rismawan, menempatkan kesehatan sebagai keterhubungan antara tubuh, pikiran, emosi, lingkungan sosial, dan aspek spiritual.

“Ini bukan hanya soal fisik, tapi menyeluruh. Ada hubungan antara tubuh, pikiran, emosi, sosial, dan spiritual,” katanya.
Materi sosialisasi juga menyoroti pola konsumsi masyarakat yang dinilai berkontribusi pada berbagai penyakit metabolik. Pemateri Ibu Lili, menekankan risiko konsumsi gula berlebih yang berasal dari karbohidrat sederhana seperti nasi putih dan tepung terigu.
Ia juga mengingatkan bahaya konsumsi minyak berulang atau minyak jelantah yang dapat meningkatkan kadar kolesterol.
“Banyak makanan mengandung gula. Itu membuat cepat lelah. Minyak dan santan juga meningkatkan kolesterol,” ujarnya dalam pemaparan.

Selain itu, persoalan kesehatan pencernaan turut menjadi sorotan. Lili menjelaskan hubungan antara pola makan yang tidak tepat dengan meningkatnya asam lambung dan gangguan usus.
Ia menyarankan perubahan sederhana, seperti mengurangi kebiasaan minum berlebihan saat makan agar proses pencernaan lebih optimal.
“Biarkan lambung mencerna makanan dulu. Jangan banyak minum saat makan,” katanya.
Pendekatan yang ditawarkan dalam sosialisasi ini juga mencakup pemanfaatan tanaman herbal sebagai alternatif pendukung kesehatan. Beberapa bahan lokal seperti kulit buah naga, jeruk nipis, dan markisa disebut memiliki potensi membantu mengatasi gangguan tertentu, termasuk asam urat dan masalah pencernaan.

Di sisi lain, gaya hidup aktif tetap menjadi rekomendasi utama. Lili menekankan pentingnya aktivitas fisik sederhana seperti berjalan kaki untuk mencegah penurunan fungsi otot, khususnya pada usia lanjut.
“Tanda penuaan itu mulai dari kaki yang lemah. Maka harus tetap bergerak,” ujarnya.
Peserta kegiatan didominasi oleh perangkat kelembagaan desa, terutama RT dan RW yang berjumlah sekitar 65 orang. Mereka dinilai memiliki peran strategis sebagai penghubung langsung dengan masyarakat.
“RT dan RW itu ujung tombak. Materi yang diterima bisa langsung disosialisasikan ke warga,” kata Rismawan.
Selain RT/RW, kegiatan juga dihadiri oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), serta unsur perlindungan masyarakat (Linmas).
Respons peserta terhadap sosialisasi kesehatan holistik disebut cukup positif. Meski penyuluhan kesehatan bukan hal baru, pendekatan berbasis herbal dan pencegahan dinilai memberikan perspektif berbeda.
“Biasanya penyuluhan kesehatan sudah sering. Tapi ini berbeda karena fokus pada solusi alami dan pencegahan,” kata Rismawan.
Ia menilai pendekatan tersebut relevan dengan kondisi masyarakat yang mulai menghadapi risiko penyakit kronis akibat pola hidup modern.
Menutup kegiatan, Rismawan berharap rangkaian sosialisasi ini tidak berhenti pada seremoni, tetapi berlanjut dalam praktik keseharian masyarakat.
“Harapannya memberikan manfaat dan masyarakat Desa Karangtanjung bisa hidup lebih sehat,” ujarnya.
Kegiatan terpadu ini mencerminkan upaya pemerintah desa dalam mengintegrasikan fungsi pelayanan administratif, sosial, dan kesehatan dalam satu forum. Di tengah keterbatasan sumber daya, pendekatan kolaboratif menjadi pilihan untuk menjangkau kebutuhan warga secara lebih luas dan efisien. (aq-nk)