Cililin, 10 Okt 2026 Warga Desa Nanggerang, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, masih menantikan perbaikan sejumlah ruas jalan kabupaten yang menjadi jalur utama aktivitas masyarakat. Kerusakan jalan yang berlangsung bertahun-tahun dinilai menghambat mobilitas warga menuju tempat kerja, sekolah, dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Kepala Desa Nanggerang Rahmat Wibowo mengatakan, perbaikan jalan merupakan kebutuhan mendesak bagi masyarakat. Menurut dia, kondisi sejumlah ruas jalan yang belum diperbaiki sejak 2012 perlu mendapat perhatian agar akses transportasi warga kembali memadai.

“Perbaikan jalan itu dulu dilaksanakan 2012. Sampai sekarang belum ada perbaikan,” kata Rahmat saat menjelaskan kondisi infrastruktur jalan di wilayah desanya.
Di tengah penantian tersebut, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah mengalokasikan pembangunan tembok penahan tanah (TPT) dan drainase di sejumlah titik di Desa Nanggerang. Pekerjaan itu berlangsung hampir satu bulan, termasuk di wilayah Kampung Bangsaya.

Rahmat menyampaikan apresiasi kepada Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail serta perangkat daerah terkait atas pelaksanaan pembangunan penyangga badan jalan tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih untuk Bapak Bupati Kabupaten Bandung Barat, Bapak Jeje Ritchie Ismail, yang sudah mengalokasikan untuk pembangunan penyangga badan jalan di wilayah Desa Nanggerang bersama Cililin Kabupaten Bandung Barat,” ujarnya.

Menurut Rahmat, pekerjaan TPT dan drainase merupakan bagian penting dalam menjaga kondisi badan jalan, terutama pada wilayah yang memiliki kerentanan terhadap pergerakan tanah. Meski demikian, kebutuhan infrastruktur di desanya masih mencakup perbaikan permukaan jalan pada sejumlah ruas yang digunakan masyarakat setiap hari.
Dua Ruas Jalan Menjadi Perhatian
Rahmat menjelaskan, kebutuhan perbaikan jalan di Desa Nanggerang diperkirakan mencapai sekitar 7,6 kilometer yang terbagi dalam dua ruas. Ruas pertama, dari Ciririp, Bangsaya menuju Buninagara dan arah Rawabogo, diperkirakan sepanjang 2,2 kilometer.

Adapun ruas kedua, yang menghubungkan Kampung Jamarun, Bangsaya, Cibangoak, hingga Desa Karyamukti, diperkirakan sepanjang 5,4 kilometer. Rahmat menyebut kawasan Sumumput–Bangsaya sebagai salah satu titik yang paling mendesak untuk mendapat penanganan.
Kedua ruas tersebut memiliki fungsi penting bagi pergerakan warga antarkampung dan akses menuju wilayah sekitarnya. Karena itu, perbaikan jalan diharapkan dapat direncanakan berdasarkan tingkat kerusakan, kebutuhan pengguna, serta kemampuan anggaran pemerintah daerah.

Rahmat berharap pemerintah kabupaten dapat menyusun prioritas pembangunan secara terkoordinasi agar kebutuhan infrastruktur di setiap desa memperoleh penanganan sesuai tingkat urgensinya.
“Mudah-mudahan ada sinergitas untuk pembangunan, khususnya di wilayah Kabupaten Bandung Barat, mana yang merupakan segi prioritas untuk desa-desa, jadi tidak tumpang tindih untuk ke depannya,” katanya.
Akses Kesehatan dan Pendidikan
Persoalan jalan di Desa Nanggerang tidak hanya berkaitan dengan kelancaran transportasi, tetapi juga akses terhadap pelayanan dasar. Rahmat mengatakan, warga yang hendak menuju puskesmas harus menempuh perjalanan ke wilayah Desa Mukapayung.

Jarak yang relatif jauh, ditambah kondisi jalan yang rusak, menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Desa Nanggerang sendiri telah memiliki puskesmas pembantu di wilayah atas, tetapi akses menuju fasilitas kesehatan tetap menjadi perhatian warga.
Kondisi serupa dirasakan dalam kegiatan pendidikan. Menurut Rahmat, jalan kabupaten tersebut menjadi salah satu jalur utama yang dilalui anak-anak sekolah dan warga yang menempuh pendidikan tinggi.

Jalan yang layak akan membantu memperlancar perjalanan pelajar sekaligus mendukung aktivitas warga yang bekerja dan menjalankan kegiatan ekonomi sehari-hari. Sebaliknya, kerusakan jalan berpotensi menambah waktu perjalanan dan menyulitkan mobilitas, terutama ketika hujan turun.
Pengalaman Longsor Menjadi Pengingat
Kebutuhan penanganan infrastruktur di wilayah Bangsaya juga berkaitan dengan risiko bencana. Pada 4 Desember 2025, longsor terjadi di Kampung Wangsaya, RT 01 RW 07, Desa Nanggerang, setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Peristiwa itu memutus akses jalan utama penghubung antarwilayah dan mengganggu mobilitas masyarakat. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat kemudian menyalurkan bantuan logistik serta membangun jalur darurat sebagai langkah penanganan awal.

Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan di wilayah yang berpotensi mengalami longsor. Salah satu upaya pendukungnya adalah pembangunan TPT untuk menahan tekanan tanah, mengurangi risiko pergerakan lereng, serta melindungi badan jalan. Saluran drainase juga diperlukan agar aliran air hujan tidak menggerus tanah dan fondasi jalan.
Namun, efektivitas perlindungan tersebut tetap bergantung pada kondisi lapangan, kualitas konstruksi, dan pemeliharaan berkala. Penanganan jalan perlu disesuaikan dengan karakteristik kerusakan dan risiko bencana di setiap titik.
Bagi masyarakat Desa Nanggerang, perbaikan TPT dan drainase menjadi langkah yang patut diapresiasi. Kebutuhan berikutnya adalah penanganan ruas jalan yang masih rusak agar manfaat pembangunan infrastruktur dapat dirasakan lebih luas.

Rahmat berharap pemerintah daerah segera menemukan solusi bagi ruas-ruas yang menjadi prioritas masyarakat. Perbaikan jalan diharapkan dapat memperlancar akses pekerjaan, pendidikan, pelayanan kesehatan, serta hubungan ekonomi antardesa.
Dengan perencanaan yang terukur dan koordinasi antarpihak, penanganan jalan di Desa Nanggerang diharapkan tidak berhenti pada perlindungan badan jalan, tetapi juga menjawab kebutuhan dasar warga terhadap akses transportasi yang aman dan layak. (aq-nk)