Parongpong, 22 Juli 2026. SMP Negeri 3 Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 dengan pendekatan ramah yang menitikberatkan pada proses adaptasi siswa baru terhadap lingkungan belajar, penguatan karakter, serta pengenalan budaya sekolah. Kegiatan berlangsung selama lima hari, mulai Senin hingga Jumat, sesuai ketentuan pemerintah mengenai pelaksanaan MPLS tahun 2026.
Kepala SMP Negeri 3 Parongpong, Nani Sulyani, mengatakan pelaksanaan MPLS menjadi tahapan penting bagi peserta didik yang baru menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar. Menurutnya, perpindahan jenjang pendidikan membawa perubahan suasana belajar yang perlu dikenalkan secara bertahap agar siswa merasa nyaman memasuki lingkungan baru.
“Alhamdulillah dengan adanya program pemerintah, sebelum memasuki pembelajaran tahun ajaran baru kami melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dengan tema MPLS Ramah. Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi kegiatan ini karena sangat penting bagi siswa untuk mengenal lingkungan sekolah, guru, teman-teman, serta berbagai program yang akan mereka ikuti selama tiga tahun ke depan,” ujar Nani.
Ia menjelaskan, MPLS tidak hanya berisi pengenalan ruang kelas maupun tata tertib sekolah, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai budaya belajar di tingkat SMP. Melalui kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan pada berbagai program akademik maupun nonakademik yang menjadi bagian dari proses pendidikan di sekolah.
Sebanyak sekitar 240 peserta didik baru mengikuti rangkaian MPLS tahun ini. Selama lima hari pelaksanaan, kegiatan berlangsung setiap pukul 07.00 hingga 12.30 WIB dan ditutup dengan pelaksanaan salat zuhur berjamaah sebagai bagian dari pembiasaan karakter positif di lingkungan sekolah.
Untuk memperkaya materi, sekolah melibatkan sejumlah mitra dari berbagai instansi. Kepolisian memberikan edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba, upaya pencegahan tindak kejahatan, serta pentingnya menjaga keselamatan diri di lingkungan masyarakat maupun di ruang digital.

Selain itu, tenaga kesehatan dari puskesmas menyampaikan materi mengenai pentingnya menjaga kesehatan, pencegahan stunting, serta penerapan pola hidup sehat sejak usia remaja. Pihak kecamatan turut memberikan materi mengenai program Generasi Sehat sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.
Nani menilai kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan memberikan wawasan yang lebih luas kepada peserta didik. Materi yang diterima siswa tidak hanya berkaitan dengan kehidupan di sekolah, tetapi juga membekali mereka dalam menghadapi berbagai tantangan di lingkungan sosial.

Menurutnya, antusiasme peserta didik terlihat sejak hari pertama pelaksanaan kegiatan. Siswa baru tampak aktif mengikuti setiap sesi pengenalan maupun diskusi bersama para narasumber. Kondisi tersebut dinilai sebagai awal yang baik untuk membangun rasa percaya diri sekaligus mempercepat proses penyesuaian terhadap lingkungan belajar baru.
“Anak-anak sangat antusias. Di sekolah dasar jumlah guru maupun program yang mereka ikuti lebih sedikit. Di SMP mereka menemukan lingkungan yang lebih luas dengan berbagai kegiatan. Kami melihat MPLS sangat memfasilitasi mereka untuk lebih mengenal sekolah,” katanya.
Pelaksanaan MPLS tahun 2026 juga sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mengedepankan terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan menyenangkan. Berdasarkan Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026, kegiatan MPLS dilaksanakan selama lima hari pada minggu pertama tahun ajaran baru dengan materi yang menanamkan kebiasaan positif, etika bermedia sosial, budaya 5S atau senyum, salam, sapa, sopan, santun, serta penguatan karakter peserta didik.
Regulasi tersebut juga menegaskan larangan terhadap segala bentuk perpeloncoan, kekerasan, pungutan biaya, penggunaan atribut yang tidak memiliki nilai edukatif, maupun pelibatan alumni sebagai penyelenggara kegiatan. Kebijakan tersebut memperkuat perubahan orientasi MPLS menjadi kegiatan pembinaan yang lebih mendidik dan berpihak pada kepentingan peserta didik.

Nani menegaskan bahwa praktik-praktik orientasi yang identik dengan perpeloncoan sudah tidak lagi diterapkan di sekolahnya. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang dalam bentuk pembelajaran yang memberikan pengalaman positif bagi siswa baru.
“Sekarang sudah tidak ada perpeloncoan. Membawa atribut yang aneh-aneh juga tidak diperbolehkan. Kami lebih mengarahkan kegiatan kepada program-program yang mendidik, misalnya mencintai lingkungan dan pemilahan sampah,” ujarnya.
Ia berharap seluruh rangkaian MPLS dapat membantu siswa membangun rasa aman dan nyaman selama menjalani pendidikan di SMP Negeri 3 Parongpong. Di sisi lain, keterlibatan siswa kelas atas dalam menyambut adik kelas diharapkan mampu membentuk iklim sekolah yang saling menghargai dan mendukung proses belajar.
“Harapannya, siswa merasa lebih nyaman dengan lingkungan baru. Kakak kelas juga dapat menerima kehadiran adik-adiknya dengan baik sehingga tercipta suasana pembelajaran yang kondusif,” kata Nani.

Melalui pelaksanaan MPLS Ramah, SMP Negeri 3 Parongpong berupaya menghadirkan masa pengenalan sekolah yang tidak hanya memperkenalkan lingkungan fisik dan aturan sekolah, tetapi juga menanamkan nilai karakter, kepedulian terhadap sesama, kesehatan, keamanan, serta kecintaan terhadap lingkungan sebagai bekal awal peserta didik dalam menempuh pendidikan di jenjang sekolah menengah pertama. (nk)