Revitalisasi SDN Jalantir Diharapkan Tingkatkan Kenyamanan Belajar dan Daya Tampung Siswa

Bandung Barat Pendidikan

Selacau, Bandung Barat, 8 Sept 2026 Suasana belajar di SD Negeri Jalantir, Desa Selacau, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, untuk sementara mengalami penyesuaian seiring berlangsungnya pekerjaan revitalisasi sejumlah bangunan sekolah. Proses perbaikan tersebut telah berjalan sekitar empat minggu dan ditargetkan selesai dalam waktu 90 hari.

SD Negeri Jalantir merupakan sekolah dasar negeri yang tercatat beralamat di Kampung Jalantir RT 02 RW 13, Desa Selacau. Sekolah dengan NPSN 20205609 tersebut berdiri sejak 1977 dan berstatus akreditasi B. Data pendidikan pemerintah juga mencatat sekolah ini sebagai satuan pendidikan negeri di bawah naungan pemerintah daerah.

Operator SD Negeri Jalantir sekaligus Sekretaris dan bagian logistik Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP), Fathan Fathur Malik, mengatakan revitalisasi telah lama dinantikan warga sekolah. Perbaikan diperlukan karena sebagian ruang mengalami kerusakan, antara lain kebocoran atap dan kondisi kusen yang mengalami pelapukan akibat rayap.

“Memang ini salah satu program yang ditunggu-tunggu, baik oleh kepala sekolah dan guru-guru yang mengajar langsung di kelas. Kondisi ruangan kelas sudah banyak yang bocor, banyak kusen-kusen yang sudah kena rayap,” ujar Fathan.

Menurut Fathan, pekerjaan revitalisasi mencakup sejumlah fasilitas utama sekolah. Pekerjaan tersebut meliputi tujuh ruang kelas, dua ruang administrasi, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang perpustakaan, serta lima bilik toilet. Dengan demikian, keseluruhan fasilitas yang masuk dalam paket pekerjaan mencapai 15 ruangan, termasuk toilet.

Perbaikan tersebut menjadi penting karena kondisi sejumlah fasilitas sekolah telah cukup lama tidak mendapatkan renovasi menyeluruh. Fathan menyebut renovasi terakhir dilakukan pada 2011. Setelah lebih dari satu dekade, kebutuhan pembenahan sarana pendidikan semakin terasa, terutama pada ruang yang digunakan siswa dan guru setiap hari.

Dari sisi jumlah peserta didik, Fathan menyebut SDN Jalantir saat ini melayani sekitar 260 siswa. Sekolah memiliki satu rombongan belajar pada kelas II hingga kelas VI, sedangkan kelas I pada tahun ini telah memiliki dua rombongan belajar. Data pendidikan pemerintah yang tersedia sebelumnya mencatat jumlah peserta didik SDN Jalantir berada di kisaran 240-an siswa, menunjukkan adanya perubahan jumlah peserta didik dari waktu ke waktu.

Peningkatan jumlah siswa tersebut menjadi salah satu alasan sekolah berharap perbaikan sarana dapat berjalan baik. Fathan mengatakan sekolah berharap ke depan dapat mempertahankan dua rombongan belajar untuk setiap angkatan, seiring minat masyarakat sekitar yang masih cukup tinggi terhadap sekolah tersebut.

“Minimal saya menargetkan itu dua rombel untuk satu angkatan, ada dua kelas. Karena melihat, kalau kemarin ada obrolan dengan kepala desa, ingin semuanya seperti Jalantir. Padat penduduknya juga,” kata Fathan.

Selama pekerjaan berlangsung, kegiatan belajar mengajar tidak sepenuhnya dihentikan. Sekolah menerapkan pola pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Sebagian pembelajaran dilakukan secara daring, sedangkan pembelajaran tatap muka dilaksanakan secara terbatas di sejumlah rumah siswa berdasarkan wilayah tempat tinggal.

Guru mendatangi titik-titik yang telah disepakati dan siswa dari wilayah sekitar berkumpul di lokasi tersebut. Pola itu dilakukan agar kegiatan belajar tetap berlangsung tanpa mengganggu pekerjaan konstruksi di lingkungan sekolah. Siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran tatap muka diberikan tugas melalui pembelajaran daring.

Pelaksanaan revitalisasi dilakukan dengan mekanisme swakelola melalui P2SP. Fathan mengatakan panitia terlibat sejak proses persiapan, pelaksanaan bimbingan teknis, pencairan hingga pengadaan kebutuhan pembangunan. Mekanisme tersebut menempatkan pengelolaan pekerjaan pada lingkungan satuan pendidikan sesuai ketentuan program.

Dukungan juga datang dari orang tua siswa. Sebelum pembongkaran dimulai, sekolah terlebih dahulu menyampaikan rencana pekerjaan kepada orang tua karena kegiatan revitalisasi berpengaruh langsung terhadap proses pembelajaran. Menurut Fathan, orang tua menyambut baik perbaikan tersebut dan sebagian bahkan menyatakan kesediaan membantu pekerjaan di sekolah.

Bagi orang tua, kondisi ruang belajar yang mengalami kebocoran dapat mengganggu kenyamanan anak ketika mengikuti pembelajaran, terutama saat hujan. Perbaikan fasilitas diharapkan membuat ruang belajar lebih aman dan layak digunakan setelah pekerjaan selesai.

Fathan berharap revitalisasi SDN Jalantir dapat menjadi bagian dari upaya pemerataan perbaikan sarana pendidikan. Ia juga berharap sekolah lain yang kondisinya membutuhkan pembenahan dapat memperoleh perhatian serupa.

“Harapannya untuk sekolah-sekolah yang lain yang belum mendapatkan program rehab ini, semoga sekolah yang lainnya secepatnya dapat rehab,” ujarnya.

Pada akhirnya, perbaikan bangunan sekolah tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik ruang belajar. Kelayakan fasilitas menjadi salah satu unsur pendukung agar guru dan siswa dapat menjalankan kegiatan pendidikan secara lebih nyaman. Bagi SDN Jalantir, penyelesaian pekerjaan dalam 90 hari menjadi harapan agar kegiatan belajar dapat kembali berlangsung di lingkungan sekolah dengan fasilitas yang lebih memadai. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *