Bandung Barat, 11 Mei 2026. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat mulai melaksanakan seleksi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat kabupaten tahun 2026, Senin, 11 Mei 2026. Kegiatan pembukaan digelar di Ballroom Gedung B Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dan dihadiri jajaran Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), para camat, tim seleksi, pembina, hingga perwakilan sekolah.
Seleksi tahun ini diikuti 333 pelajar dari berbagai sekolah di Kabupaten Bandung Barat. Mereka terdiri dari 180 peserta putra dan 153 peserta putri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 289 peserta dinyatakan lolos seleksi administrasi dan berhak mengikuti tahapan berikutnya.

Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Bandung Barat, Weda Wardiman, mengatakan seleksi Paskibraka bukan sekadar agenda tahunan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Menurut dia, kegiatan itu merupakan bagian dari proses pembinaan karakter generasi muda.
“Paskibraka bukan hanya mencari mereka yang tinggi badannya ideal atau kuat secara fisik. Paskibraka membutuhkan pribadi yang memiliki karakter kuat, mental tangguh, sikap hormat, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, rasa tanggung jawab, serta kecintaan yang tulus kepada bangsa dan negara,” kata Weda dalam sambutannya.
Ia menilai tingginya minat pelajar mengikuti seleksi menjadi indikator bahwa nilai nasionalisme dan kebanggaan terhadap identitas kebangsaan masih tumbuh di kalangan generasi muda Bandung Barat.
“Data ini menunjukkan bahwa minat, semangat, dan partisipasi generasi muda Kabupaten Bandung Barat dalam mengikuti pembinaan Paskibraka sangat besar,” ujar dia.

Pelaksanaan seleksi mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2022 tentang Program Pasukan Pengibar Bendera Pusaka beserta aturan pelaksanaannya yang diterbitkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Dalam regulasi itu, program Paskibraka diposisikan sebagai bagian dari kaderisasi calon pemimpin bangsa berkarakter Pancasila.
Sekretaris Badan Kesbangpol Kabupaten Bandung Barat, Agnes Virganty, turut hadir dalam kegiatan pembukaan bersama unsur panitia dan tim seleksi.

Kepala Bidang Kesatuan Bangsa Kesbangpol Kabupaten Bandung Barat, Jaja, menjelaskan seluruh proses seleksi dilakukan menggunakan sistem daring yang terintegrasi dengan BPIP. Menurut dia, mekanisme tersebut diterapkan untuk menjaga objektivitas dan mencegah intervensi dalam proses penilaian.
“Seluruh proses seleksi sepenuhnya menggunakan sistem dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila sehingga panitia daerah hanya menjalankan mekanisme sesuai aturan yang berlaku tanpa intervensi lain,” kata Jaja.

Tahapan seleksi dimulai dari pendaftaran daring pada 15 hingga 30 April 2026. Setelah itu dilakukan verifikasi administrasi pada 7–8 Mei 2026 untuk memastikan kelengkapan dan validitas dokumen peserta.
Pada tahapan yang digelar Senin, 11 Mei 2026, peserta menjalani Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Inteligensi Umum (TIU), pemeriksaan kesehatan, dan wawancara kepribadian. Seleksi tersebut dirancang untuk mengukur kemampuan intelektual, pemahaman kebangsaan, kondisi kesehatan, serta kesiapan mental peserta.

Menurut panitia, sekitar 70 peserta belum memenuhi nilai ambang batas pada tes inteligensi umum yang digelar hari itu. Namun proses seleksi masih berlanjut karena peserta akan mengikuti tahapan lain sebelum penentuan akhir.
Seleksi berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 12 Mei 2026 di lingkungan SESKO AU Lembang. Tahapan itu meliputi seleksi parade, Peraturan Baris-Berbaris (PBB), dan kesamaptaan. Aspek yang dinilai mencakup postur, disiplin gerak, ketahanan fisik, hingga kekompakan peserta.

Adapun penentuan akhir atau pantohir dijadwalkan pada 13 Mei 2026. Dari seluruh rangkaian seleksi tersebut, panitia akan menetapkan 40 peserta terbaik. Sebanyak 38 peserta akan bertugas pada peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di tingkat Kabupaten Bandung Barat, sedangkan satu pasang putra-putri akan dikirim sebagai wakil daerah ke tingkat Provinsi Jawa Barat.
Panitia berharap peserta Bandung Barat mampu kembali menembus tingkat nasional seperti capaian yang pernah diraih daerah itu pada 2016.

Weda menekankan proses seleksi harus dijalankan secara terbuka dan profesional karena tingginya jumlah pendaftar menuntut integritas penyelenggara. Ia meminta seluruh tim seleksi menjaga objektivitas penilaian.
“Seleksi ini harus menjadi ruang pembinaan yang sehat bagi generasi muda Kabupaten Bandung Barat,” ujar dia.
Di tengah perubahan gaya hidup generasi muda yang semakin lekat dengan media sosial dan budaya visual, seleksi Paskibraka masih menjadi ruang yang mempertahankan disiplin kolektif, ketahanan mental, dan etika kebangsaan. Selama beberapa hari ke depan, ratusan pelajar itu akan diuji bukan hanya melalui ketepatan langkah dan kekuatan fisik, melainkan juga melalui kemampuan menjaga sikap, konsistensi, dan tanggung jawab.

Bagi sebagian peserta, kesempatan berdiri tegak membawa Sang Merah Putih mungkin hanya berlangsung beberapa menit saat upacara berlangsung. Namun proses menuju titik itu memerlukan latihan panjang, disiplin ketat, dan kesiapan mental yang tidak singkat. (nk)