​Merawat Sanad, Mengabdi pada Rakyat: Perjalanan Spiritual dan Politik Mang Haji Ade Wawan

Bandung Barat Profil

Parongpong. ​Lantunan doa Istighosah dan selawat berkumandang syahdu, memecah keheningan pagi di kawasan Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Di dalam ruang utama Masjid Al-Muttaqin yang asri, ratusan jemaah duduk bersila dengan takzim. Kitab Mukhtarul Hadits Nabawiyah serta mushaf Al-Qur’an terbuka di pangkuan mereka, merekam setiap bait ilmu yang mengalir hangat.

​Suasana khusyuk ini menjadi pemandangan nyata yang baru saja berlangsung pada Minggu pagi, 5 Juli 2026. Sejak pukul 08.00 WIB, masyarakat dari berbagai pelosok telah memadati Masjid Al-Muttaqin yang terletak di Kp. Kebonhui RW 03, Desa Cigugurgirang. Di depan mimbar, seorang pria paruh baya berpakaian rapi dan berpeci hitam mengurai materi dengan bahasa yang renyah dan mudah dipahami. Ia adalah H. Ade Wawan, atau yang karib disapa “Mang Haji” oleh para santri dan jemaahnya.

​Bagi masyarakat awam, sosoknya mungkin lebih dikenal sebagai figur berbobot di panggung politik, Ketua Fraksi PKB Kabupaten Bandung Barat yang telah dipercaya menjadi wakil rakyat selama tiga periode berturut-turut. Namun, di bawah atap Al-Muttaqin pada Minggu pagi itu, atribut politiknya luruh. Beliau kembali ke khitah sejatinya: seorang santri yang sedang menunaikan janji kepada para gurunya untuk terus menyebarkan syiar Islam.

​Jembatan Nurani: Antara Kursi Dewan dan Sajadah Majelis

​Menjadi anggota legislatif selama hampir lima belas tahun sering kali mengubah jarak sosial seseorang. Namun, hukum besi politik itu tampaknya tidak berlaku bagi Mang Haji Ade Wawan. Baginya, kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan sekadar terminal persinggahan untuk memperluas kemaslahatan umat.

​”Bagi saya, jabatan di DPRD itu amanah politik yang ada batasnya, sementara menyebarkan ilmu agama adalah kewajiban seumur hidup,” ujar Mang Haji Ade Wawan dengan tatapan mata yang teduh namun penuh penegasan.

​Filosofi hidup inilah yang membuatnya tetap eksis membina Pesantren Al-Muttaqin selama 26 tahun terakhir, sejak tahun 2000 masehi hingga hari ini di tahun 2026. Alih-alih tenggelam dalam protokoler kedewanan yang kaku, Mang Haji justru sering memanfaatkan waktu liburnya setelah ngantor sore hari atau pada hari Sabtu dan Minggu untuk keliling bersilaturahmi ke majelis taklim di pelosok Bandung Barat. Gerakan ini dijalankannya secara konsisten melalui program Safari Silaturahmi FKMT dan program Ngabreng (Ngaji Bareng).

​Sikap bersahaja ini dirasakan langsung oleh konstituennya. Asep, seorang warga Cigugurgirang yang rutin menghadiri Pengajian Istigosahan di Al-Muttaqin, menuturkan kesaksiannya.

​”Selama saya mengikuti pengajian, Pak Ade Wawan itu sosok yang sangat humble, ramah, dan mudah bersosialisasi dengan masyarakat. Banyak sekali ilmu praktis yang kami dapatkan dari beliau,” ungkap Asep.

​Hal senada disampaikan oleh Euis (Mamih Euis) seorang jemaah asal Keboncau Cisarua. Ia bahkan rela berangkat selepas subuh demi mendapatkan tempat di barisan depan Pengajian Istigosahan rutin bulanan tersebut.

Sanes Siti tapi Euis( akarab disapa Mamih Euis )dari keboncsu Cisarua tambah satu lagi Bu Ita Julaeha  sebagai pengurus FKMT KBB dari desa cihanjuang rahayu parongpong

​”Mang Haji kalau menyampaikan materi Fiqih gampang dipahami. Dan yang paling kami kagumi, beliau tidak pernah jaga jarak dengan masyarakat meskipun sudah jadi anggota dewan tiga periode,” kata Siti tersenyum.

Pengurus FKMT KBB dari Desa Cihanjuang Rahayu, Kecamatan Parongpong, Ibu Ita Julaeha, menyampaikan bahwa dirinya mendapatkan banyak ilmu berharga selama bergabung di FKMT. Baginya, bekal keilmuan ini sangat penting untuk kehidupan di dunia maupun akhirat.

​Menjaga Jaringan Sanad Keilmuan

​Keteguhan Mang Haji dalam berdakwah bukanlah sebuah kebetulan. Ia adalah buah dari tempaan panjang di berbagai pesantren salaf dan modern, sebuah perjalanan spiritual yang mengikatnya pada rantai emas (sanad) keilmuan yang kukuh. Sebab, dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar apa yang dibaca, melainkan dari siapa ilmu itu bersumber. Rantai spiritual Mang Haji Ade Wawan terentang melalui para ulama kharismatik Jawa Barat:

KH. Ahmad Sodikin (1984–1985): Menjadi peletak batu pertama pendidikan agamanya di kawasan Ciwaruga, Parongpong.

Ayah Syahid / KH. Q. Drs. Ahmad Syahid (1986–1989): Di Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Falah Cicalengka, Bandung, Mang Haji menempa kelancaran dan kedalaman interaksinya dengan kalamullah.

Akang Haji Elim / KH. Abdul Halim (1988–1990): Di Pesantren Al-Falah Sukarame, Garut, ia memperdalam khazanah kitab kuning dan pembentukan karakter kesantrian.

KH. Syarif Hidayat (Hingga 2007): Ulama terpandang di Cihanjuang, Parongpong, yang terus membimbing spiritualitasnya di masa-masa awal pengabdian masyarakat.

Prof. Dr. KH. Syihabudin (Sejak 1999): Guru Besar UPI Bandung yang hingga kini mendampinginya sebagai pembina dalam mengonseptualisasikan gerakan dakwah yang lebih makro.

​”Bagi saya, politik dan dakwah itu harus seiring. Jabatan di dewan adalah alat perjuangan regulasi, tapi di majelis taklim inilah tempat saya menjaga amanah ilmu dari para guru,” refleksi Mang Haji Ade Wawan, menyiratkan bahwa setiap kebijakan politik yang ia perjuangkan di parlemen harus selalu divalidasi oleh nilai-nilai moral yang ia ajarkan di surau.

​FKMT KBB: Meluaskan Sayap Dakwah dan Ekonomi Umat

​Kesadaran bahwa dakwah tidak boleh mandek di dalam tembok pesantren mendorong Mang Haji mendirikan Forum Komunikasi Majlis Ta’lim Kabupaten Bandung Barat (FKMT KBB), wadah ini kini telah bertransformasi menjadi pohon kebaikan yang strukturnya mengakar kuat di seluruh kecamatan, desa, hingga tingkat RW se-Bandung Barat.

​Melalui FKMT KBB, Mang Haji merumuskan sebuah manifesto dakwah yang komprehensif, inklusif, dan menyentuh aspek-aspek riil kehidupan masyarakat melalui sepuluh program unggulan:

Pengajian Rutin Harian & Bulanan: Termasuk di antaranya program Istigosahan rutin Minggu ke-1 dan ke-3.

Pengajian Rutin Tahunan: Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) dan Hari Besar Nasional (PHBN).

Pengajian NGABRENG (Ngaji Bareng): Sistem jemput bola ke majelis-majelis taklim di desa-desa.

Wisata Religius & Kegiatan Perlombaan: Wadah apresiasi dan penggalian potensi generasi muda islami.

Kegiatan Safari Silaturahmi & Program Nada Dakwah: Pendekatan dakwah kultural lewat seni yang santun.

Pendidikan Manasik Haji & Umroh: Edukasi komprehensif demi kemandirian ibadah jemaah ke Tanah Suci.

Program Ekonomi Majelis Taklim: Pemberdayaan kemandirian finansial jemaah dan umat.

​Epilog: Khidmat yang Tak Kunjung Usai

​Minggu siang kemarin, pengajian rutin tersebut ditutup dengan doa bersama yang khusyuk. Air mata mengalir di sela-sela jemari jemaah yang menengadah, memohon keberkahan untuk tanah Bandung Barat.

​Di tengah kepungan pragmatisme politik zaman sekarang, figur seperti H. Ade Wawan memberikan kita sebuah oase sejuk. Ia membuktikan bahwa kekuasaan tidak selalu merusak ketulusan, dan status sosial tidak harus merenggut kedekatan dengan rakyat kecil.

​Ketika kain sorbannya tersampir di pundak saat memimpin doa di Masjid Al-Muttaqin, dan ketika pulpennya bergerak mengetuk palu kebijakan di gedung dewan, keduanya digerakkan oleh satu poros yang sama: khidmat seumur hidup demi tegaknya syiar Islam dan kesejahteraan umat. Baginya, politik akan purna pada masanya, namun ladang amal jariyah di majelis taklim akan terus mengalir melampaui waktu. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *