Wangunsari, Lembang. Sepotong cahaya matahari pagi menerobos celah ventilasi rumah sederhana di RT 1 RW 15 Kampung Ciraten Pentas, Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang. Di dalam ruangan yang hening itu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Bagi Ibu Wina, dinding-dinding rumah adalah batas dunia yang dikenalnya selama bertahun-tahun. Di sudut kamar, ia hanya bisa menatap ke luar jendela, memandangi pucuk-pucuk pohon yang bergoyang ditiup angin Lembang yang sejuk, merindukan kehangatan yang telah lama tak menyentuh kulitnya.
Kehilangan bukan hal baru bagi Wina. Tubuhnya adalah sebuah prasasti yang mencatat rangkaian badai kehidupan.

Kilas Balik: Ketika Badai Datang Bertubi-tubi
Kembali ke tahun 2018, kehidupan Wina mulai diuji saat vonis tumor kelenjar leher menjungkirbalikkan dunianya. Rentetan operasi dan dinginnya ruang kemoterapi ia jalani demi bertahan hidup. Kala itu, ia mengira itulah puncak ujiannya. Namun, takdir rupanya menyimpan tikungan yang lebih tajam.
Tiga tahun berselang, pada 2021, sebuah dentuman dan kobaran api akibat kebocoran gas merenggut paksa sisa-sisa kenyamanan hidupnya. Api melahap 40 persen tubuh Wina, meninggalkan jejak luka bakar yang permanen di wajah, badan, dan tangannya. Sejak tragedi itu, dunianya menyusut drastis.
Perlahan namun pasti, kekuatan di kakinya menguap hingga ia mengalami kelumpuhan total. Tak hanya kehilangan kemampuan berjalan, indra pengecapnya mati rasa, membuat segala hidangan terasa hambar. Pendengarannya kian memudar, digantikan sunyi yang pekat, sementara napasnya sering kali terasa berat dan sesak. Setiap hari, makanan harus diblender hingga lunak agar bisa melewati tenggorokannya.

Dalam segala keterbatasan itu, Wina menyimpan satu mimpi sederhana yang terus dirawatnya dalam diam: sebuah kursi roda. Ia tidak muluk-muluk ingin berjalan jauh; ia hanya ingin berpindah tempat, sekadar berjemur di bawah matahari pagi di luar rumah, menghirup udara Lembang tanpa tidak terlalu merepotkan orang lain.
Ketukan Pintu dan Hadirnya Negara
Jeritan senyap Wina tidak berlalu begitu saja ditiup angin gunung. Cerita tentang ketegaran di balik dinding Ciraten Pentas ini bergaung, mengetuk hati perangkat RT, ketua dusun, hingga Kepala Desa Wangunsari, Diki Rohani, dan Ketua Posyandu Desa, Nopiyani Kartika Abidin.
Gayung pun bersambut. Sinyal kepedulian itu sampai ke telinga Camat Lembang, Bambang Eko, dan istrinya, Maya Ekawati, yang juga Ketua TP PKK sekaligus Ketua Posyandu Kecamatan Lembang. Pasangan pemimpin lokal ini memang dikenal kerap bergerak senyap, membagikan kursi roda bagi warga miskin dan sakit di pelosok Lembang hingga ke daerah Ngamprah.
Tepat sehari setelah agenda bimbingan teknis Posyandu pada Kamis, 2 Juli 2026 di mana 10 unit kursi roda dialokasikan maka sebuah langkah nyata diambil. Pada Jumat pagi, 3 Juli 2026, langkah kaki rombongan memecah kesunyian Ciraten Pentas. Camat Bambang Eko, Maya Ekawati, dan Nopiyani Kartika melangkah masuk ke kediaman Wina. Mereka tidak sekadar mengantar barang, melainkan membawa secercah martabat kemanusiaan.

”Negara hadir untuk membantu rakyatnya secara nyata,” ujar Camat Bambang Eko dengan nada suara yang dalam namun tegas, menegaskan bahwa tak ada warga yang boleh terlupakan di tengah kepedihan.
Di sampingnya, Maya Ekawati tak mampu membendung air mata. Menatap langsung kondisi Wina, matanya berkaca-kaca saat menyampaikan pesan reflektif yang menggetarkan dada:
”Masyarakat masih banyak yang membutuhkan. Untuk itu, Posyandu Lembang harus terus hadir dengan semangat: Bergerak, Beraksi, Mangprang!”
Nopiyani Kartika, sang Ibu Kepala Desa, mengatupkan kedua tangan dengan rasa syukur yang membuncah. “Hari ini Desa Wangunsari mendapatkan keberkahan luar biasa, di mana warga kami mendapatkan kursi roda langsung dari Bapak dan Ibu Camat. Terima kasih,” ucapnya lirih, memecah keharuan ruangan.
Pelukan Hangat di Akhir Penantian
Di tengah suasana yang sarat emosi, perpaduan antara rasa haru, sedih, dan bahagia yang mengkristal dimana sebuah keajaiban kecil yang tak terduga menyeruak.
Wina, yang awalnya hanya bisa menatap sayu tamu-tamu agung di rumahnya, tiba-tiba memicingkan mata. Di tengah keterbatasan pendengaran dan penglihatannya, ia mengamati wajah hangat istri Camat yang berada dekat di sisinya. Kesadaran itu datang terlambat, namun menyentak jantungnya.
Wina menyadari bahwa sosok yang berdiri di depannya, yang mengusap pundaknya dengan penuh kasih, adalah Maya Ekawati, sosok yang selama ini hanya bisa ia lihat melalui layar ponsel kecilnya. Wina adalah seorang pengikut setia (follower) dari akun TikTok sang Ibu Camat yang kerap membagikan konten-konten humanis.
Dunia yang tadinya terasa begitu luas dan tak terjangkau, tiba-tiba menyempit dalam sebuah ruang silaturahmi yang indah. Seorang pengikut di jagat maya, kini bertemu langsung dengan sang idola di dunia nyata, bukan di atas panggung megah, melainkan di atas lantai semen rumahnya yang sederhana.
Seketika, tangis Wina pecah. Keduanya berpelukan erat. Dalam dekapan hangat itu, segala sekat jabatan runtuh, digantikan oleh murni kasih sayang sesama manusia. Air mata yang menetes bukan lagi representasi dari perihnya luka bakar atau beratnya tumor, melainkan air mata kebahagiaan karena merasa dianggap, didengar, dan dicintai.
Kini, kursi roda itu telah terparkir di rumah Wina. Baginya, itu bukan sekadar alat bantu medis berbahan besi. Kursi roda itu adalah sepasang kaki baru, sebuah simbol kebebasan kecil, dan bukti nyata bahwa di tengah dinginnya ujian hidup, kehangatan kemanusiaan itu masih ada. Esok hari, Wina tak lagi hanya menatap jendela; ia siap menjemput matahari paginya di beranda rumahnya. Dikisahkan kembali oleh (aq-nk)