Cililin, 4 Agustus 2026 Ratusan warga memadati Lapangan Mini Soccer Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Di atas lapangan berukuran terbatas itu, kompetisi sepak bola mini antar-RW dan antardesa tengah berlangsung untuk menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Di luar garis lapangan, puluhan pedagang kecil menjajakan makanan, menciptakan pusat keramaian baru yang menghidupkan ekonomi warga lokal.

Namun, di balik riuh tepuk tangan penonton dan deretan lapak pedagang, turnamen tahunan ini menyimpan realitas khas pembangunan desa: tingginya partisipasi swadaya masyarakat yang tidak diimbangi oleh ketersediaan fasilitas publik yang memadai.
Penyelenggaraan turnamen yang diprakarsai oleh Karang Taruna Desa Budiharja dan Karang Taruna Unit RW 03 ini melombakan tiga kategori, yaitu tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, serta kategori perempuan terbuka. Khusus kategori perempuan, kompetisi diikuti tujuh tim dari enam desa, di antaranya Desa Bongas, Karyamukti, Budiharja, Batulayang, Cililin, dan Rancapanggung.

Kepala Desa Bongas, Asep Aang, memberikan perhatian khusus terhadap keterlibatan tim dari desanya. Asep menekankan bahwa keikutsertaan warga dalam kegiatan ini seyogianya tidak berhenti pada perebutan piala, melainkan menjadi tolok ukur pemenuhan hak-hak dasar warga desa atas kesejahteraan dan ruang beraktivitas yang layak.
”Kami berharap para pemain menjunjung tinggi sportifitas untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tetap semangat, ceria, dan memegang teguh nilai-nilai dalam olahraga. Selain mendatangkan kesehatan fisik, kegiatan ini menjadi sarana menyambung hubungan emosional dan silaturahmi warga se-Kecamatan Cililin,” kata Asep Aang.
Ia menambahkan bahwa esensi kemerdekaan harus diterjemahkan secara konkret dalam wujud pembangunan yang nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat bawah.

”Melalui semangat kemerdekaan ini, kita mengenang perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa, raga, darah, dan air mata. Kemerdekaan yang sejati harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya merdeka secara fisik, tetapi juga merdeka batinnya, pembangunannya, serta masa depan kesejahteraannya,” tegas Asep Aang.
Sisi positif dari perhelatan ini terlihat pada pergerakan ekonomi mikro. Berdasarkan data panitia, sekitar 30 gerai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memadati area sekitar lapangan. Pedagang kuliner rakyat seperti bakso, cilok, batagor, hingga sosis panggang memperoleh perputaran uang yang signifikan selama ajang berlangsung. Dukungan dari sponsor lokal yang dimulai dari usaha jasa perjalanan, toko kelontong, hingga barbershop menunjukkan kuatnya jaring pengaman ekonomi berbasis komunitas.

Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan hambatan klasik yang kerap diabaikan. Kepala Desa Budiharja, Ahmad Syarif Hidayat, mengakui bahwa kondisi sarana olahraga yang ada saat ini jauh dari kata ideal untuk menampung animo masyarakat yang begitu besar. Ketiadaan fasilitas yang representatif memaksa panitia membatasi jumlah kepesertaan luar daerah, padahal potensi interaksi ekonomi dan sosial yang dihasilkan tergolong besar. Kebutuhan akan intervensi pemerintah daerah maupun kemitraan investasi menjadi syarat mutlak jika agenda ini ingin ditingkatkan kualitasnya.
Dukungan politik antardesa sejatinya telah tercipta. Kepala Desa Cililin yang juga menjabat Ketua APDESI Kecamatan Cililin, Tedi Kurniadi, hadir langsung mendukung tim desanya dan mendorong agar ajang ini terus berlanjut. Namun, dukungan moral antarkepala desa tidak akan cukup tanpa adanya alokasi anggaran infrastruktur yang jelas dari pemerintah kabupaten.

Secara keseluruhan, turnamen mini soccer di Budiharja merefleksikan dua sisi mata uang pembangunan pedesaan. Di satu sisi, kemandirian warga, semangat solidaritas antarwilayah, dan geliat UMKM terbukti mampu menciptakan ruang publik yang hidup mandiri. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas lapangan menjadi bukti masih terbatasnya perhatian terhadap infrastruktur olahraga di tingkat akar rumput. Tanpa pembenahan sarana penunjang yang serius dari pemangku kebijakan, potensi besar dalam pembinaan pemuda dan pemberdayaan ekonomi warga di kawasan Bandung Barat Selatan ini akan terus berjalan di tempat, sebatas perayaan tahunan tanpa lompatan kualitas yang berarti. (aq-nk)