Inovasi Hidroponik Desa Wangunsari Memperkuat Ketahanan Pangan di Peringatan Hari Tani

Blog

https://liputan9news.com/

​Lembang, 24 Sept 2026 Pasar ​Di tengah tantangan penyusutan lahan produktif dan ancaman musim kemarau, kesadaran akan pentingnya inovasi pertanian semakin mendesak di kawasan dataran tinggi. Desa Wangunsari, sebuah wilayah penopang pangan di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, menunjukkan komitmen adaptasi tersebut melalui penerapan teknologi smart green house dan metode hidroponik guna menjaga keberlanjutan produksi komoditas hortikultura.

​Inovasi teknologi modern tersebut memungkinkan aktivitas bercocok tanam tetap berjalan secara optimal meski dihadapkan pada keterbatasan pasokan air dan cuaca ekstrem. Kepala Desa Wangunsari Diki Rohani menyampaikan bahwa diversifikasi komoditas berteknologi menjadi strategi utama masyarakat dalam memperkuat ketahanan pangan lokal.

​”Di musim kemarau ini tanaman membutuhkan air. Dengan inovasi tanam melalui cara hidroponik di desa kami, pertanian masih bisa hidup dan berproduksi, termasuk dengan pemanfaatan teknologi green house,” ujar Diki Rohani di Lembang.

​Selain mengembangkan sistem hidroponik, Desa Wangunsari membudidayakan ragam komoditas bernilai ekonomi tinggi. Di antaranya adalah pembibitan alpukat jenis Markus dengan bobot mencapai 1,5 kilogram per buah dari 80 varietas yang dikembangkan, serta produksi edible flower atau bunga yang aman dikonsumsi sebagai penambah estetika hidangan restoran dan hotel. Wilayah ini juga didukung oleh sektor peternakan domba, kelinci, dan perikanan air tawar.

​Kegembiraan warga Desa Wangunsari turut diwujudkan dalam pawai budaya. Para petani dari desa ini secara antusias membawa dan menampilkan beragam hasil potensi pertanian serta peternakan unggulan mereka ke area karnaval, mulai dari tanaman hias, bunga-bunga hias, kelinci hasil budidaya, domba adu, hingga pelbagai jenis sayuran segar hasil panen lokal.

​Guna menjaga kelancaran produksi dan daya saing hasil panen, para petani setempat mengharapkan adanya kemudahan akses terhadap sarana produksi pertanian. Ketersediaan pupuk organik berbiaya terjangkau serta dukungan teknologi modern yang merata menjadi kebutuhan krusial agar efisiensi bercocok tanam dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan.

​Semangat inovasi dari Desa Wangunsari tersebut turut disajikan dalam perhelatan Farmers Fun Day 2026 yang berlangsung di Lapangan Bola Desa Wangunharja, Lembang. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Bandung Barat bekerja sama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Lembang serta puluhan perusahaan sarana produksi pertanian ini digelar dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional 2026.

​Mengusung tema Sareundeuk Saigel Ngawangun Tatanen, acara tersebut diawali dengan tradisi tutuguan atau prosesi memisahkan gabah menggunakan halu, dilanjutkan pertunjukan seni tari Sunda, serta karnaval hasil bumi dari pelbagai gabungan kelompok tani (gapoktan).

​Ajang ini juga berhasil mencatatkan prestasi dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pembuatan gugunungan komoditas hortikultura terbanyak. Struktur menyerupai gunung tersebut merangkai 117 jenis sayuran hasil panen masyarakat Lembang di tengah lapangan acara.

​Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bandung Barat Heru Budi Purnomo memberikan apresiasi atas capaian kolektif tersebut. Penghargaan ini dinilai sebagai bentuk pengakuan atas kerja keras para petani dan penyuluh dalam membina sektor pertanian di wilayah Lembang.

​Dukungan terhadap penguatan sektor hilir juga disampaikan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat Ahmad Fauzan Azima. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan kapasitas serta kesejahteraan petani melalui penguatan kelembagaan, pemanfaatan teknologi, hingga perluasan akses pasar dan permodal.

​”Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan perekonomian melalui peningkatan kapasitas serta kesejahteraan petani melalui penguatan kelembagaan, pemanfaatan teknologi dan inovasi, hingga pengembangan pemasaran hasil pertanian,” kata Ahmad Fauzan Azima saat memberikan sambutan.

​Dari sisi penyerapan hasil panen, Direktur PT Pasar Komoditas Nasional Soekam Parwadi menekankan pentingnya penguasaan rantai pasok agar keberhasilan produksi berbanding lurus dengan tingkat pendapatan masyarakat. Menurutnya, pemenuhan lima aspek kunci—kualitas, kuantitas, kontinuitas, daya saing kompetitif, serta kerja sama kooperatif—menjadi syarat utama agar komoditas lokal mampu bersaing di pasar perkotaan.

​Perwakilan BPP Lembang Jamaluddin menambahkan bahwa sinergi lintas sektor harus dapat dirasakan secara langsung oleh para pelaku usaha tani di lapangan. Kehadiran program pemerintah, pendampingan penyuluh, teknologi industri, serta jaminan pasar perlu berjalan selaras dari masa tanam hingga pemasaran.

​Sebagai wujud apresiasi atas dedikasi dalam memajukan sektor pertanian modern, panitia menyerahkan penghargaan kepada dua kelompok tani berprestasi. Penghargaan diberikan kepada Agronative Farm dari Desa Cibodas yang menerapkan sistem smart farming, serta Kelompok Tani Banana Pisang dari Kampung Sukamulya atas capaian pengembangan Pisang Ambon Lumut Layung di tingkat nasional. (aq-nk)

​

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *