Maulid Nabi di DPRD Bandung Barat, Meneladani Istri-Istri Rasulullah

Blog

Maulid Nabi dan Teladan dari Rumah Rasulullah

Rumah seharusnya menjadi tempat untuk kembali menemukan ketenangan setelah menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Di dalam keluarga, seseorang belajar tentang kesabaran, kesetiaan, tanggung jawab, dan kasih sayang.

Pesan tersebut menjadi salah satu pokok dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ yang diselenggarakan Ikatan Kesejahteraan Keluarga Dewan (IKKD) DPRD Kabupaten Bandung Barat, Sabtu, 26 September 2026.

Kegiatan berlangsung di Al-Musawah, masjid di lantai dua Gedung DPRD Kabupaten Bandung Barat. Acara dihadiri pengurus inti dan anggota IKKD KBB. Rangkaian kegiatan diawali pembacaan basmalah dan ayat suci Al-Qur’an oleh Ibu Euis Amung, kemudian dilanjutkan hadroh Ar-Rizal yang beranggotakan 11 siswa kelas XII dan dipimpin Rajab.

Dalam sambutannya, Ibu Euis Amung menyampaikan bahwa peringatan Maulid Nabi hendaknya menjadi kesempatan untuk meneladani Rasulullah ﷺ, termasuk melalui kehidupan para istri beliau.

Rumah, katanya, diharapkan dapat menjadi tempat yang nyaman bagi suami dan anak-anak sekaligus menjadi madrasah pertama bagi keluarga.

Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
(QS. Al-Ahzab: 21).

Khadijah Mengajarkan Kesetiaan

Dalam tadabbur yang disampaikan Ustadz Ade Wawan, yang juga anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat, jamaah diajak melihat keteladanan Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Khadijah merupakan istri pertama Rasulullah ﷺ dan dikenal sebagai perempuan terpandang serta berkecukupan. Dukungan Khadijah terhadap Rasulullah menjadi bagian penting dalam perjalanan awal dakwah Islam.

Rasulullah ﷺ tidak menikah dengan perempuan lain selama Khadijah masih hidup. Keteladanan yang dapat diambil bukan hanya mengenai harta, tetapi terutama kesetiaan dan keteguhan dalam mendampingi pasangan menghadapi berbagai ujian.

Pesan tersebut relevan bagi keluarga masa kini. Kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan dalam keadaan mudah. Karena itu, suami dan istri perlu saling menguatkan, termasuk ketika menghadapi kesulitan.

Aisyah, Teladan Kecerdasan dan Ilmu

Selain Khadijah, Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi sosok penting dalam sejarah keilmuan Islam. Putri Abu Bakar Ash-Shiddiq itu dikenal cerdas dan menjadi salah seorang periwayat hadis yang banyak menyampaikan kehidupan Rasulullah ﷺ.

Salah satu riwayat Aisyah menjelaskan kebiasaan Rasulullah ﷺ sebelum tidur. Beliau membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, kemudian mengusapkan kedua telapak tangan ke bagian tubuh yang dapat dijangkau.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
(HR. Bukhari No. 5017).

Keteladanan Aisyah menunjukkan pentingnya perempuan Muslimah memiliki kecintaan terhadap ilmu. Peran dalam keluarga tidak harus dipertentangkan dengan pendidikan. Keduanya dapat berjalan bersama.

Dua Nikmat yang Sering Dilupakan

Ustadz Ade Wawan juga mengingatkan jamaah mengenai dua nikmat yang sering dilupakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang.

Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari No. 6412).

Karena itu, waktu dan kesehatan sebaiknya digunakan untuk memperbanyak amal, termasuk menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan memperbaiki akhlak.

Empat Sifat Rasulullah yang Perlu Dihidupkan

Ustadz Ade Wawan juga mengingatkan empat sifat Rasulullah ﷺ yang dikenal luas dalam tradisi pendidikan Islam: siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

Siddiq berarti benar dan jujur. Amanah berarti dapat dipercaya. Tabligh berarti menyampaikan kebenaran. Sementara fathanah berarti cerdas dan memiliki kecakapan.

Keempat sifat tersebut sesungguhnya bukan hanya untuk dipelajari sebagai istilah. Nilainya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Di rumah, sifat itu dapat diwujudkan dengan kejujuran antara suami dan istri. Dalam pekerjaan, ia menjadi amanah. Dalam kehidupan sosial, ia menjadi tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik. Sementara dalam menjalankan tugas publik, kecerdasan harus berjalan bersama integritas.

Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”
(HR. Bukhari No. 15).

Cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada selawat dan peringatan Maulid. Cinta itu seharusnya terlihat dalam kejujuran, amanah, kesabaran, kepedulian, serta usaha mengikuti sunnah beliau.

Menjaga Persatuan

Pesan lainnya berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Perbedaan pilihan politik maupun partai tidak seharusnya memutus persaudaraan.

Menurut Ustadz Ade Wawan, masyarakat perlu tetap bersatu dan mengutamakan pembangunan serta kesejahteraan bersama. Perbedaan politik adalah hal yang dapat terjadi, tetapi kepentingan masyarakat harus tetap menjadi perhatian.

Pada akhirnya, Maulid Nabi bukan hanya tentang mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ. Lebih jauh, ia menjadi kesempatan untuk bercermin.

Khadijah mengajarkan kesetiaan dan pengorbanan. Aisyah mengajarkan kecintaan kepada ilmu. Rasulullah ﷺ mengajarkan kejujuran, amanah, kecerdasan, dan kasih sayang.

Maka, setelah meninggalkan majelis Maulid, pertanyaan terpenting bukan hanya apa yang telah kita dengarkan, tetapi apa yang akan kita ubah dalam kehidupan.

Semoga rumah kita menjadi tempat yang menenangkan, keluarga menjadi ruang tumbuhnya kebaikan, dan cinta kepada Rasulullah ﷺ semakin terlihat dalam akhlak serta perbuatan sehari-hari.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *