BANDUNG BARAT, 26 Juni 2026. Upaya memperkuat pelestarian sekaligus memperluas penelitian terhadap warisan budaya kembali dilakukan di Situs Gua Pawon, Kampung Cibukur, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (26/6/2026). Kunjungan akademisi dari University of Nottingham, Inggris, bersama perwakilan Kedutaan Besar Inggris, British Council, British Chamber of Commerce, serta jajaran pemerintah daerah menjadi ruang diskusi mengenai sejarah, budaya, dan konservasi kawasan yang menyimpan jejak kehidupan manusia prasejarah tersebut.

Rombongan dari Inggris ini dipimpin oleh Prof. Sarah Metcalfe, Deputy Pro-Vice-Chancellor Research and Knowledge Exchange Faculty of Social Sciences University of Nottingham. Kehadiran mereka didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Dr. Iendra Sofyan, S.T., M.Si., Sekretaris Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat Rochmat Bahtiar, S.AP., M.K.P., serta perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan beserta para juru pelihara situs.
Kegiatan diawali dengan peninjauan langsung ke kawasan Gua Pawon untuk mengamati karakter geologi, kondisi situs, hingga berbagai informasi arkeologi yang selama ini menjadi perhatian para peneliti. Setelah itu, rombongan berdiskusi mengenai peluang pengembangan penelitian lintas disiplin, mulai dari arkeologi, antropologi, hingga ilmu lingkungan.

Sekretaris Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat Rochmat Bahtiar mengatakan kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut atas inisiatif University of Nottingham yang ingin mengeksplorasi sejumlah situs arkeologi di Jawa Barat dengan memilih Gua Pawon sebagai salah satu lokasi utama.
“Kegiatan hari ini merupakan kunjungan dari University of Nottingham untuk eksplorasi Situs Gua Pawon dan diskusi terkait sejarah, budaya, serta konservasi kawasan. Kami mendampingi para tamu untuk melihat langsung kondisi situs sekaligus melakukan eksplorasi dan analisis yang diharapkan dapat menjadi bahan pengembangan penelitian di bidang arkeologi maupun antropologi,” ujarnya.
Menurut Rochmat, Gua Pawon memiliki nilai ilmiah yang tinggi karena menyimpan berbagai temuan penting mengenai kehidupan manusia purba di kawasan Bandung Raya. Potensi tersebut dinilai masih dapat terus dikembangkan melalui penelitian yang lebih luas dengan melibatkan perguruan tinggi dan lembaga penelitian dari dalam maupun luar negeri.

Ia berharap kunjungan tersebut menjadi langkah awal terbentuknya kolaborasi yang berkesinambungan dalam bidang akademik.
“Kami sangat mengharapkan kunjungan ini menjadi langkah awal untuk melakukan inisiasi kerja sama dalam hal penelitian bersama akademisi maupun peneliti lainnya yang nantinya dapat datang ke Bandung Barat untuk melakukan penelitian,” katanya.
Lebih jauh, Rochmat menilai aktivitas penelitian tidak hanya memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat mendorong peningkatan kualitas destinasi wisata berbasis edukasi.
Menurut dia, semakin banyak penelitian dilakukan, semakin besar pula peluang Gua Pawon dikenal sebagai salah satu pusat kajian arkeologi di Indonesia. Dampaknya diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar, sekaligus memperkuat identitas Kabupaten Bandung Barat sebagai daerah yang memiliki kekayaan warisan budaya.

“Bandung Barat memiliki cukup banyak situs purbakala yang potensinya belum seluruhnya tereksplorasi. Karena itu, penelitian menjadi bagian penting untuk memperkenalkan kekayaan tersebut kepada masyarakat luas,” ucapnya.
Dalam diskusi bersama rombongan, terungkap bahwa ketertarikan University of Nottingham terhadap Gua Pawon tidak muncul tanpa alasan. Salah satu pemicunya ialah penelitian yang dilakukan mahasiswa asal Indonesia di universitas tersebut mengenai lingkungan purba di kawasan Bandung Barat.
Kajian itu menghadirkan berbagai data yang memperlihatkan hubungan antara kondisi alam purba, perubahan lingkungan, serta kehidupan manusia pada masa lampau. Temuan tersebut kemudian mendorong rasa ingin tahu para peneliti untuk melihat langsung lokasi yang menjadi objek kajian.
Rochmat menjelaskan bahwa keberadaan mahasiswa Indonesia yang melakukan penelitian di Nottingham menjadi jembatan awal lahirnya ketertarikan akademisi internasional terhadap Gua Pawon.

“Dari hasil diskusi tadi diketahui ada mahasiswa Indonesia yang sedang melakukan penelitian di University of Nottingham dan menggunakan sampel mengenai lingkungan purba di Bandung Barat. Hal itu membuat para peneliti ingin datang langsung melihat kondisi Gua Pawon,” ujarnya.
Sebagai salah satu situs cagar budaya yang telah ditetapkan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Surat Keputusan Bupati Nomor 188.45/Kep.735-Disperbud/2021, Gua Pawon juga memperoleh perlindungan berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Situs yang berada di Kampung Cibukur, Desa Gunungmasigit tersebut dikenal luas setelah ditemukannya sisa-sisa manusia prasejarah yang kemudian dikenal sebagai Pawon Man. Penemuan tersebut menjadi salah satu bukti penting mengenai keberadaan manusia penghuni kawasan karst Bandung Barat ribuan tahun silam.
Informasi ilmiah yang dipasang di kawasan situs menunjukkan bahwa Pawon Man I diperkirakan hidup sekitar 5.660 tahun sebelum sekarang. Analisis forensik odontologi memperkirakan individu tersebut berusia dewasa dengan berbagai karakteristik biologis yang masih dapat dipelajari hingga saat ini.

Sementara itu, Pawon Man IV diperkirakan berasal dari sekitar 9.520 tahun sebelum sekarang. Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa kawasan Gua Pawon telah dihuni manusia sejak masa prasejarah dan menjadi salah satu referensi penting dalam penelitian evolusi budaya maupun adaptasi manusia terhadap lingkungan.
Prof. Sarah Metcalfe sendiri dikenal sebagai ilmuwan yang memiliki kepakaran dalam paleoklimatologi wilayah tropis, paleolimnologi, interaksi manusia dan lingkungan, serta ketahanan terhadap perubahan iklim. Berbagai penelitian yang dipimpinnya banyak memanfaatkan rekaman lingkungan purba untuk memahami perubahan iklim dan perkembangan peradaban manusia di berbagai kawasan dunia.
Keahlian tersebut dinilai memiliki keterkaitan dengan karakteristik Gua Pawon yang menyimpan informasi mengenai sejarah lingkungan, bentang alam karst, serta aktivitas manusia pada masa lampau.
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berharap hasil penelitian yang akan berkembang di masa mendatang tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan pelestarian kawasan secara berkelanjutan.

Selain menjaga kelestarian situs, pemerintah daerah juga berupaya meningkatkan sarana dan prasarana pendukung agar kawasan Gua Pawon semakin nyaman dikunjungi oleh peneliti maupun wisatawan yang datang untuk memperoleh pengetahuan mengenai sejarah peradaban manusia di wilayah Bandung Barat.
“Harapan kami, Gua Pawon dapat menjadi salah satu referensi penting dalam dunia penelitian. Ke depan kami juga ingin terus meningkatkan sarana dan prasarana sehingga peneliti maupun wisatawan dapat melakukan aktivitasnya dengan lebih nyaman,” kata Rochmat.
Kunjungan akademisi internasional tersebut memperlihatkan bahwa warisan budaya tidak hanya memiliki nilai historis bagi masyarakat setempat, tetapi juga menjadi bagian dari pengetahuan dunia yang terus berkembang melalui penelitian. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan lembaga pelestarian diharapkan mampu memperkuat konservasi Gua Pawon sekaligus memperluas pemanfaatannya sebagai pusat pembelajaran sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan bagi generasi mendatang. (aq-nk)