Jangan Sampai Salah Menjual Diri : Renungan Khutbah Jumat tentang Jual Beli dengan Allah

Profil

https://liputan9news.com

Setiap hari manusia sibuk melakukan transaksi. Ada yang menukar waktu dengan pekerjaan, tenaga dengan penghasilan, keahlian dengan jabatan, bahkan tidak sedikit yang mengorbankan ketenangan demi mengejar pengakuan.

Namun, di tengah kesibukan itu, pernahkah kita bertanya: kepada siapa sebenarnya kita “menjual” hidup ini?

Di sela-sela kesibukannya menjalankan tugas sebagai Ketua DPRD Kabupaten Bandung Barat, Ustaz H. M. Mahdi Idris tetap meluangkan waktu untuk menjalankan peran yang telah dilakukannya sejak sebelumnya, yakni menyampaikan khutbah Jumat.

Bagi Mahdi, aktivitas tersebut menjadi ruang untuk berbagi nasihat keagamaan sekaligus mengingatkan dirinya dan jamaah tentang pentingnya menjaga orientasi kehidupan kepada Allah.

Pertanyaan di atas dalam judul menjadi inti khutbah Jumat yang disampaikannya di Masjid Nurul Iman RS Dustira, Jumat, 2 Oktober 2026. Dengan tema “Jual Beli dengan Allah”, khotib mengajak jamaah melihat kembali arah kehidupan: apakah waktu, tenaga, jiwa, dan harta yang dimiliki benar-benar digunakan untuk mencari rida Allah atau justru habis untuk mengejar dunia.

Menurutnya, kesempatan hidup yang masih diberikan Allah merupakan ruang untuk terus memperbaiki diri. Waktu terus bergerak dari hari ke pekan, bulan, hingga tahun. Tidak ada yang mengetahui berapa lama kesempatan itu akan diberikan.

Karena itu, selama kehidupan masih berjalan, pertanyaan terpenting bukan hanya berapa banyak yang telah kita peroleh, melainkan untuk apa semua yang telah Allah titipkan itu digunakan.

Allah Menawarkan Perdagangan dengan Balasan Surga

Konsep “jual beli dengan Allah” memiliki dasar yang sangat kuat dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ
“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”
QS. At-Taubah [9]: 111.

Ayat ini menggambarkan hubungan yang sangat dalam antara seorang mukmin dan Allah. Yang “dijual” adalah jiwa dan harta, sedangkan balasan yang dijanjikan adalah surga.

Tentu, ini bukan transaksi dalam pengertian material sebagaimana jual beli antarmanusia. Allah adalah Pemilik seluruh jiwa dan harta. Ungkapan tersebut merupakan gambaran tentang kesediaan seorang mukmin menyerahkan kehidupan dan hartanya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, sementara Allah menjanjikan balasan yang jauh lebih besar.

Karena itu, manusia perlu berhati-hati ketika menentukan sesuatu yang paling layak menjadi tujuan hidupnya.

Ada orang yang mengorbankan prinsip demi jabatan. Ada yang menghabiskan hidup demi harta. Ada pula yang begitu sibuk mengejar penampilan, prestise, dan pengakuan manusia.
Semua itu pada akhirnya akan ditinggalkan.

Jabatan memiliki batas. Harta akan berpindah tangan. Penampilan berubah dimakan usia. Sementara kehidupan dunia sendiri memiliki akhir.

#Jiwa dan Waktu adalah Modal yang Tidak Bisa Diulang

Salah satu bentuk “modal” terbesar manusia adalah waktu. Sayangnya, waktu sering dianggap seolah-olah tidak terbatas.

Ketika azan terdengar, misalnya, pekerjaan terkadang terasa lebih penting. Percakapan belum selesai. Transaksi sedang berlangsung. Rapat masih berjalan. Bahkan tidur kadang membuat seseorang melewatkan waktu salat.

Padahal, jika Allah benar-benar menjadi tujuan utama, panggilan untuk beribadah seharusnya memiliki tempat yang istimewa dalam kehidupan.

Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”
QS. Al-Jumu’ah [62]: 9.

Pesannya sederhana: dunia boleh dijalani, pekerjaan boleh ditekuni, perdagangan boleh dilakukan. Namun, semuanya tidak boleh membuat manusia kehilangan orientasi kepada Allah.

#Harta Juga Akan Ditanya untuk Apa Digunakan

Allah tidak melarang manusia memiliki harta. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana harta itu diperoleh dan ke mana ia dibelanjakan.

Dalam khutbah tersebut, jamaah diajak mengingat bahwa harta dapat menjadi bagian dari “perdagangan” dengan Allah melalui zakat, infak, sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan.

Al-Qur’an memberikan gambaran tentang besarnya balasan bagi orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.”
QS. Al-Baqarah [2]: 261.

Ayat ini menunjukkan betapa luasnya kemurahan Allah. Namun, balasan tersebut tidak semestinya dipahami sebagai kalkulasi duniawi yang selalu menghasilkan keuntungan materi. Balasan Allah dapat berupa pahala, keberkahan, ketenangan, pertolongan, atau kenikmatan yang disimpan untuk kehidupan akhirat.

Karena itu, sedekah bukanlah investasi untuk memaksa Allah memberikan keuntungan tertentu. Sedekah adalah bentuk ketaatan dan keikhlasan seorang hamba kepada Tuhannya.

#Ikhlas Menjadi Kunci dalam Perdagangan Ini

Ada satu syarat penting agar amal memiliki nilai di sisi Allah: keikhlasan.
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, serta melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.”
QS. Al-Bayyinah [98]: 5.

Artinya, seseorang tidak cukup hanya melakukan kebaikan secara lahiriah. Orientasi hati juga perlu diperiksa.

Salat bukan hanya gerakan, tetapi bentuk penghambaan. Infak bukan hanya mengeluarkan uang, tetapi bentuk kepedulian dan ketaatan. Bekerja bukan hanya mencari penghasilan, tetapi juga dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan cara yang halal dan niat yang benar.

#Al-Qur’an dan Sunnah sebagai Pedoman Kehidupan

Khutbah tersebut juga mengingatkan pentingnya menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman.

Ungkapan yang populer menyebut bahwa Rasulullah ﷺ meninggalkan Kitab Allah dan Sunnah Nabi sebagai pegangan agar umat tidak tersesat. Redaksi “تركت فيكم أمرين…” tercantum dalam Al-Muwatta’ Imam Malik secara balagh, dan sejumlah ulama menilai jalur atau penguatnya dengan derajat yang berbeda. Karena itu, lebih aman menyebutnya sebagai riwayat yang masyhur dengan catatan status sanad, bukan menyandarkannya secara sederhana sebagai hadis Bukhari-Muslim.

Yang lebih penting dari perdebatan redaksi adalah substansi yang sejalan dengan prinsip Islam: kehidupan seorang muslim harus berpedoman kepada wahyu Allah dan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Al-Qur’an memberikan prinsip, sementara Sunnah menjelaskan dan mencontohkan penerapannya dalam kehidupan.

#Ingat Kematian Sebelum Penyesalan Datang

Manusia sering merasa masih memiliki banyak waktu. Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan kesempatan itu berakhir.

Allah mengingatkan:
وَأَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ ۝ وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu, niscaya aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.’ Dan Allah tidak akan menunda seseorang apabila waktu kematiannya telah datang.”
QS. Al-Munafiqun [63]: 10–11.

Ayat ini mengajarkan agar kebaikan tidak ditunda.
Sebab, ketika kematian datang, kesempatan untuk menambah amal telah berakhir. Penyesalan pada saat itu tidak dapat mengembalikan waktu.

#Menjalani Dunia Tanpa Kehilangan Arah Akhirat

Islam tidak meminta manusia meninggalkan dunia. Manusia justru dianugerahi kemampuan berpikir, kekuatan spiritual, dan kemampuan fisik untuk digunakan dalam kebaikan.

Namun, ketiga potensi itu perlu diarahkan kepada tujuan penciptaan manusia.

Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
QS. Adz-Dzariyat [51]: 56.

Ayat ini tidak berarti seluruh kehidupan manusia hanya diisi dengan ibadah ritual. Bekerja, belajar, mengurus keluarga, membantu sesama, menjaga amanah, dan mencari nafkah yang halal dapat menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah apabila dilakukan sesuai tuntunan-Nya.

Pada akhirnya, kehidupan dunia hanyalah persinggahan. Dalam ungkapan yang dinisbatkan kepada Imam Al-Ghazali, kehidupan dunia dapat diibaratkan seperti seorang musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon sebelum melanjutkan perjalanan. Karena itu, yang penting bukan berapa lama kita berteduh, melainkan ke mana perjalanan itu akan berakhir.

#Penutup: Apa yang Sedang Kita Jual?

Khutbah “Jual Beli dengan Allah” pada akhirnya mengajak setiap muslim melakukan pemeriksaan terhadap dirinya sendiri.
Kepada siapa selama ini kita menyerahkan waktu?

Untuk apa tenaga kita digunakan?
Ke mana harta kita dibelanjakan?
Apa yang paling kita takutkan kehilangan: Allah atau dunia?
Allah telah memberikan kehidupan, kesehatan, kemampuan berpikir, harta, keluarga, pekerjaan, jabatan, dan waktu. Semua itu adalah amanah.

Maka jangan sampai seluruh modal kehidupan habis untuk sesuatu yang akhirnya kita tinggalkan.

Jadikan dunia sebagai tempat menanam kebaikan, bukan tujuan terakhir perjalanan. Gunakan harta untuk memberi manfaat. Gunakan jabatan untuk menjaga amanah. Gunakan ilmu untuk mencerdaskan. Gunakan tenaga untuk menolong. Dan gunakan waktu untuk mendekat kepada Allah.

Sebab perdagangan terbaik bukanlah perdagangan yang membuat seseorang paling kaya di dunia, melainkan perdagangan yang membuatnya pulang kepada Allah dengan hati yang tenang dan membawa bekal amal saleh.

Semoga Allah memberi kita kemampuan untuk menjadi hamba yang benar-benar menjual jiwa, waktu, tenaga, dan harta kepada-Nya dengan penuh keikhlasan, serta menerima balasan terbaik berupa rida dan surga-Nya. Aamiin.

#Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *