Kades Asep Jembar Rahmat Dorong Semangat Gotong Royong Lewat Peringatan 1 Muharram di Sukajaya

165 Desa KBB

Lembang, 16 Juni 2026. Perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, tidak sekadar menjadi agenda keagamaan tahunan. Bagi warga setempat, kegiatan tersebut telah berkembang menjadi ruang bersama yang mempertemukan unsur ulama, pemerintah desa, lembaga kemasyarakatan, dan warga dalam satu tujuan: memperkuat kohesi sosial sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman kepada generasi muda.

Mengusung tema “Dengan Memperingati Tahun Baru Islam 1448 H, Mari Kita Perkuat Soliditas dan Sinergitas Ulama dan Umaro serta Seluruh Lapisan Masyarakat dalam Membangun Karakter Generasi Muda Islam yang Rahmatan Lil Alamin”, rangkaian kegiatan berlangsung selama beberapa hari dengan melibatkan ratusan peserta dari berbagai kelompok usia.

Kepala Desa Sukajaya, Asep Jembar Rahmat, mengatakan peringatan Muharram di wilayahnya bukanlah kegiatan yang lahir secara instan. Menurut dia, agenda tersebut merupakan tradisi yang diwariskan oleh para tokoh masyarakat dan tokoh agama yang telah lama berkontribusi membangun kehidupan sosial-keagamaan di desa.

“Ini sudah menjadi kegiatan turun-temurun. Ada banyak tokoh yang memperjuangkan kegiatan ini agar terus terlaksana. Sebagian di antaranya bahkan sudah meninggal dunia. Tugas kami sekarang adalah meneruskan,” ujar Asep.

Keberlanjutan tradisi itu terlihat dari meningkatnya partisipasi warga dari tahun ke tahun. Antusiasme masyarakat tidak hanya tampak pada pelaksanaan acara puncak, tetapi juga dalam berbagai perlombaan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Muharram.

Pada hari pertama, panitia menyelenggarakan sejumlah lomba untuk peserta mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah atas. Kegiatannya meliputi lomba adzan, tahfiz Al-Qur’an, mewarnai kaligrafi, Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat anak, dan Musabaqah Keterampilan Keagamaan Islam.

Menurut Asep, jumlah peserta mencapai lebih dari 400 orang. Untuk kategori mewarnai kaligrafi saja, peserta tercatat sekitar 200 anak.

Besarnya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan masih memiliki daya tarik kuat di tengah masyarakat. Di saat berbagai bentuk hiburan digital semakin mendominasi ruang keseharian anak dan remaja, perlombaan berbasis nilai-nilai keagamaan menjadi salah satu alternatif ruang pembelajaran yang tetap diminati.

Dalam konteks pembangunan sosial, kegiatan semacam ini memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar kompetisi. Ia menjadi sarana pengenalan nilai, pembentukan karakter, sekaligus penguatan identitas komunitas.

Asep menegaskan bahwa orientasi utama kegiatan ini adalah pembinaan generasi muda.
“Kita ingin memupuk sedini mungkin generasi penerus ke depan. Sesuai tema, tujuan utamanya menjadikan generasi muda di Sukajaya sebagai generasi Islami yang rahmatan lil alamin,” katanya.

Selain perlombaan untuk anak dan remaja, panitia juga menggelar festival rebana atau qasidah yang melibatkan kelompok putra dan putri dari berbagai wilayah.

Menariknya, panitia menetapkan penggunaan alat musik tradisional sebagai syarat perlombaan. Instrumen modern tidak diperbolehkan digunakan.

Keputusan tersebut bukan semata-mata soal aturan teknis, melainkan upaya menjaga kesetaraan partisipasi antarwilayah. Dengan menggunakan alat rebana konvensional yang relatif dimiliki oleh hampir seluruh kelompok masyarakat, kesempatan untuk berpartisipasi menjadi lebih merata.

Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sukajaya, Mia Sutejawati, menyebut antusiasme warga tetap terjaga meski format kegiatan mengalami sejumlah penyesuaian.
“Warga masih tetap antusias dan semangatnya masih tetap. Setiap tahun kita mengusung tema yang berbeda dan mereka selalu berpartisipasi,” ujarnya.

Menurut Mia, festival rebana tahun ini dibuat lebih khusus dengan fokus pada alat musik tradisional. Setiap RW mengirimkan satu kelompok putra dan satu kelompok putri yang membawakan lagu wajib serta lagu pilihan.

Selain aspek keagamaan, peringatan Muharram di Sukajaya juga memuat dimensi kebudayaan. Salah satunya terlihat dari pengangkatan figur Sunan Gunung Jati sebagai inspirasi dalam berbagai kreasi warga.

Mia menjelaskan bahwa pemilihan tokoh tersebut dimaksudkan untuk memperkenalkan sejarah penyebaran Islam di tanah Sunda kepada generasi muda.

“Supaya generasi muda lebih memahami bahwa dari Wali Songo itu ada perwakilan yang berasal dari Jawa Barat, yaitu Sunan Gunung Jati,” kata dia.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan keagamaan tidak hanya dilakukan melalui ceramah atau pengajian, tetapi juga melalui simbol-simbol budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Di banyak daerah, pelestarian nilai keagamaan dan kebudayaan lokal kerap berjalan berdampingan. Keduanya menjadi instrumen penting dalam menjaga kesinambungan identitas masyarakat sekaligus membangun rasa memiliki terhadap lingkungan sosialnya.

Aspek lain yang mengemuka dalam peringatan Muharram di Sukajaya adalah kuatnya praktik gotong royong warga. Asep mengakui bahwa dukungan anggaran dari pemerintah desa untuk kegiatan masyarakat memiliki keterbatasan. Namun kondisi tersebut tidak mengurangi semangat warga untuk berpartisipasi.

Ia menilai tumbuhnya swadaya masyarakat justru menjadi indikator penting dalam membangun desa yang mandiri.
“Yang ingin kami dorong adalah masyarakat yang mandiri, mampu bergotong royong, dan memiliki rasa memiliki terhadap kegiatan ini,” ujarnya.

Menurut Asep, kegiatan tersebut tidak boleh dipandang sebagai milik pemerintah desa, panitia, maupun organisasi tertentu. Perayaan Muharram harus dipahami sebagai kegiatan bersama yang lahir dari kebutuhan dan keinginan masyarakat.

Perspektif serupa disampaikan Ketua MUI Desa Sukajaya, Undang Ubaidillah. Ia menilai tujuan utama kegiatan bukan sekadar kemeriahan acara, melainkan upaya menggali potensi masyarakat sekaligus memperkuat regenerasi sosial dan keagamaan.

“Tujannya untuk menggali potensi supaya muncul regenerasi ke depan sebagai penerus Sukajaya,” kata Undang.

Ia menambahkan bahwa proses sosialisasi dilakukan melalui tokoh masyarakat, RT, RW, dan berbagai lembaga desa sehingga informasi dapat menjangkau masyarakat secara langsung.

Hasilnya terlihat dari tingginya keterlibatan warga. Bahkan, menurutnya, banyak masyarakat yang secara aktif menanyakan jadwal pelaksanaan kegiatan jauh sebelum acara dimulai.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya rasa kepemilikan kolektif terhadap agenda desa. Dalam studi pembangunan masyarakat, partisipasi yang lahir dari kesadaran bersama umumnya memiliki daya tahan lebih kuat dibandingkan partisipasi yang hanya bergantung pada instruksi formal.

Menariknya, semangat kebersamaan yang dibangun dalam perayaan Muharram juga tercermin dalam hubungan antarumat beragama di Sukajaya.

Asep mencontohkan penggunaan lokasi kegiatan yang mendapat dukungan dari pihak lain di luar komunitas Islam. Baginya, hal tersebut menjadi bukti bahwa kerukunan antarumat beragama di wilayahnya berjalan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, pengalaman Sukajaya memperlihatkan bahwa perayaan keagamaan dapat berfungsi sebagai instrumen penguatan modal sosial masyarakat. Ia bukan hanya mempererat hubungan antarindividu, tetapi juga membangun kepercayaan, kolaborasi, dan solidaritas lintas kelompok.

Ketika ulama, pemerintah desa, lembaga kemasyarakatan, dan warga mampu bergerak dalam arah yang sama, kegiatan keagamaan tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Ia berkembang menjadi ruang pendidikan sosial yang menanamkan nilai kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab kolektif.

Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, pesan itulah yang tampaknya ingin terus dijaga oleh masyarakat Desa Sukajaya melalui peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah: bahwa pembangunan desa tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan program kerja, melainkan juga oleh kemampuan masyarakat merawat persatuan, gotong royong, dan regenerasi nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *