Meriahnya Peringatan HUT RI 81 Desa Cikahuripan Lembang, Penampilan Iguana Sangat Memukau

165 Desa KBB Bandung Barat

Viral! Ogoh-ogoh Iguana Raksasa 40 Meter Jadi Primadona Karnaval Kemerdekaan Cikahuripan

Lembang, Agustus 2026 Jalan-jalan Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dipenuhi warga ketika karnaval peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 berlangsung pada Senin. Beragam kostum, tarian massal, musik, serta karya warga dari sejumlah RW menjadi bagian dari arak-arakan yang berlangsung meriah.

Salah satu perhatian warga tertuju pada ogoh-ogoh berbentuk iguana berwarna hijau dengan panjang sekitar 40 meter. Karya yang dibuat secara swadaya masyarakat itu diarak bersama peserta karnaval. Bagian kepala iguana dirancang dapat bergerak sehingga menambah daya tarik ketika rombongan melintas di hadapan warga.

Camat Lembang Bambang Eko turut hadir bersama Ketua TP-PKK Kecamatan Lembang Maya Ekawati. Dalam kegiatan tersebut, Bambang bersama Kepala Desa Cikahuripan Oman Haryanto bahkan sempat naik ke bagian atas konstruksi ogoh-ogoh iguana tersebut.

Bambang menilai karnaval itu menunjukkan besarnya partisipasi masyarakat. Menurut dia, kegiatan tersebut memperlihatkan kerja sama antara perangkat desa dan warga dalam merayakan kemerdekaan.
“Acara sangat meriah, saya sangat bangga dan terhibur menjelang masa pensiun saya tahun depan. Masyarakat sangat berpartisipasi, kompak, antara perangkat Desa Cikahuripan dan masyarakat bersinergi,” kata Bambang.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap keterlibatan Maya Ekawati yang mengenakan busana bernuansa adat dalam kegiatan tersebut. Busana yang digunakan mengadaptasi pakaian adat Batak dengan kain ulos sebagai bagian utama, dilengkapi hiasan kepala bernuansa tradisional dan aksesori berwarna keemasan.

Menurut Bambang, pilihan busana tersebut menunjukkan bahwa karnaval dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan keragaman budaya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Oman Haryanto dan warga Cikahuripan yang dinilai mampu menghadirkan kegiatan dengan daya tarik yang luas.
“Terima kasih kepada Kepala Desa Cikahuripan Oman Haryanto yang mengangkat nama Lembang dengan acara karnavalnya di Kabupaten Bandung Barat,” ujar Bambang.

Sebelum menghadiri karnaval di Desa Cikahuripan, Camat Lembang Bambang Eko bersama istrinya, Maya Ekawati, pada pagi hari mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Kecamatan Lembang. Upacara berlangsung khidmat. Dalam kesempatan tersebut, Bambang menyampaikan pesan agar peringatan kemerdekaan tidak berhenti pada kegiatan perayaan, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, kebersamaan, serta kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

Bagi sejumlah ibu-ibu PGRI yang tergabung dalam kelompok paduan suara dalam upacara peringatan HUT RI tahun ini memiliki arti tersendiri. Mereka mengaku terharu karena dapat kembali bersama-sama mengikuti rangkaian peringatan kemerdekaan untuk kedua kalinya, sekaligus menjadi salah satu kebersamaan terakhir bersama Bambang Eko sebelum memasuki masa purna tugas.

Kepala Desa Cikahuripan Oman Haryanto mengatakan, kegiatan kemerdekaan di desanya diawali dengan upacara yang dilaksanakan secara mandiri. Setelah itu, masyarakat mengikuti hiburan dan karnaval yang melibatkan seluruh wilayah RW di Desa Cikahuripan.
“Yang pertama kita memperingati hari kemerdekaan, upacara. Berarti desa kami mengadakan upacara mandiri, tidak gabung dengan kecamatan. Yang kedua, itu hiburan masyarakat,” kata Oman.

Ia menyebut seluruh 10 RW di Desa Cikahuripan dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Menurut Oman, keterlibatan warga merupakan bagian penting karena gagasan dan karya yang ditampilkan banyak lahir dari kreativitas masyarakat.

Khusus ogoh-ogoh iguana, Oman mengatakan karya tersebut dibuat warga RW 6. Bentuk dan karakter karya karnaval, kata dia, terus berkembang dari tahun ke tahun. Sebelumnya, warga pernah membuat karya dengan bentuk gorila dan berbagai karakter lain.
“Itu sebetulnya kreativitas masyarakat. Tanpa disuruh sebetulnya,” kata Oman.

Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa ogoh-ogoh iguana dalam konteks karnaval Cikahuripan lebih tepat dipahami sebagai karya kreatif warga, bukan simbol keagamaan tertentu. Bentuk hewan, ukuran yang besar, serta kemampuan menggerakkan kepala menjadi bagian dari konsep visual untuk menarik perhatian sekaligus memperlihatkan kemampuan warga dalam membuat karya secara bersama-sama.

Selain ogoh-ogoh, karnaval diisi tarian massal di jalan dan iringan musik yang dinyanyikan peserta. Lagu “Gerong Koplo Bajidor” menjadi salah satu musik yang terdengar mengiringi arak-arakan. Perpaduan musik, gerak tari, kostum, dan karya tiga dimensi membuat jalan desa berubah menjadi ruang pertunjukan terbuka.

Secara umum, karnaval jalanan dapat menjadi ruang pertemuan antara ekspresi seni, kreativitas masyarakat, dan perayaan bersama. Dalam konteks desa, kegiatan semacam itu juga dapat memperkuat interaksi sosial karena persiapannya membutuhkan pembagian tugas, kerja sama, serta partisipasi lintas kelompok masyarakat.

Kehadiran unsur TNI, kepolisian, perangkat desa, perwakilan RW, serta masyarakat turut melengkapi kegiatan. Jumlah penonton dan peserta yang memadati jalur karnaval menunjukkan tingginya perhatian warga terhadap perayaan tersebut, meskipun angka pasti jumlah peserta maupun penonton tidak disebutkan dalam keterangan yang tersedia.

Bagi Desa Cikahuripan, kegiatan itu berlangsung di wilayah yang juga memiliki potensi wisata alam. Data Kementerian Pariwisata mencatat Cikahuripan sebagai desa wisata yang berada di kaki Gunung Tangkuban Parahu, dengan atraksi antara lain hutan, jalur pendakian, perkemahan, serta kawasan replika Benteng Cikahuripan.

Potensi tersebut memberi konteks bahwa kreativitas warga dalam kegiatan budaya dapat berjalan berdampingan dengan pengembangan identitas desa. Namun, pengembangan kegiatan tetap perlu mempertimbangkan ketertiban, keselamatan, kebersihan, serta keberlanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Warga Cikahuripan, Ujang, mengaku bangga melihat keterlibatan masyarakat dalam membuat berbagai karya karnaval. Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus berkembang tanpa meninggalkan semangat gotong royong.
“Saya bangga sebagai bagian dari masyarakat Cikahuripan yang kaya akan budaya, sangat-sangat kreatif. Semoga tahun berikutnya lebih ramai,” ujar Ujang.

Menurut dia, proses pembuatan ogoh-ogoh membutuhkan waktu dan biaya yang ditanggung secara swadaya. Namun, kebersamaan warga selama proses tersebut menjadi pengalaman tersendiri yang dapat dikenang generasi berikutnya.

Oman berharap keterlibatan masyarakat dapat terus ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang. Ia menilai komunikasi antara pemerintah desa dan warga menjadi salah satu faktor penting agar berbagai kegiatan masyarakat dapat berjalan sesuai kemampuan dan anggaran yang tersedia.

Karnaval 17 Agustus di Cikahuripan pada akhirnya meninggalkan catatan tentang bagaimana sebuah perayaan kemerdekaan dapat tumbuh dari inisiatif warga. Di tengah ukuran ogoh-ogoh yang besar dan ramainya arak-arakan, nilai yang paling terlihat justru berada pada proses pembuatannya: warga bekerja bersama, berbagi kreativitas, dan menghadirkan ruang perjumpaan bagi masyarakat desa. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *