Lembang, 24 Sept 2026 Ratusan warga memadati Lapangan Bola Desa Wangunharja, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Di tengah riuh pawai, arak-arakan hasil bumi membawa pesan tersirat mengenai dinamika perekonomian kawasan utara Bandung tersebut. Desa Cikole hadir sebagai kontingen terbesar dalam perhelatan Farmers Fun Day 2026, sebuah acara peringatan Hari Tani Nasional yang diselenggarakan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Bandung Barat bekerja sama dengan BPP Lembang.
Konvoi Desa Cikole menarik perhatian dengan ornamen budaya, mulai dari kostum wayang dengan Lakon Bima membawa gada, topi ubur-ubur, miniatur traktor bambu, hingga onggoh-onggoh berbentuk drone. Satu unit truk dan kendaraan bak terbuka sarat komoditas sayuran dihadirkan langsung oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Cipta Mekar sebagai bentuk representasi potensi hortikultura desa tersebut.

Kepala Desa Cikole, Tadjudin, menegaskan bahwa partisipasi luas warga menunjukkan tingginya solidaritas sosial masyarakat pedesaan. Namun, di balik semarak parade, terdapat tumpuan harapan fundamental mengenai masa depan mata pencaharian mereka.
”Masyarakat sangat antusias membawa potensi pertanian desa. Harapannya semoga hujan cepat datang dan produktivitas pertanian dapat terus meningkat,” ujar Tadjudin saat ditemui di sela acara.

Harapan tersebut mencerminkan kerentanan struktural yang dialami para petani hortikultura di Cikole. Terletak di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, Desa Cikole selama ini dikenal melalui dua sektor utama: pertanian sayur dan pariwisata alam. Transformasi kawasan Lembang menjadi pusat destinasi wisata seperti hadirnya taman konservasi anggrek, kompleks rekreasi terpadu, hingga tren penginapan berbasis glamping yang menciptakan ruang ekonomi baru namun sekaligus memberikan tekanan terhadap alih fungsi lahan dan stabilitas sektor agraris.

Dinamika itu berimbas pada pola hidup dan produksi masyarakat setempat. Meski Cikole menjadi salah satu penyokong utama pasokan komoditas sayuran nasional, para petani kerap berhadapan dengan ketidakpastian harga pasar, lonjakan harga sarana produksi (saprotan), hingga gangguan pola tanam akibat pergeseran iklim.
Isu kepastian harga dan perlindungan pasar juga menjadi sorotan utama dalam mimbar aspirasi. Perwakilan penyelenggara acara dari BPP Lembang, Jamaluddin, menumpahkan keresahan yang selama ini dialami para pelaku usaha tani di lapangan. Menurutnya, intervensi kebijakan tidak boleh sebatas berhenti pada tingkat perencanaan atau peningkatan produksi semata.

”Jangan sampai ketika petani sedang menanam, kita ramai-ramai memberikan program. Namun saat petani panen, mereka dibiarkan mencari pasar sendiri. Petani tidak hanya membutuhkan Bantuan sesaat, melainkan kepastian harga, akses teknologi, dan perlindungan usaha,” kata Jamaluddin.

Sektor hortikultura Lembang memang memegang peranan krusial dalam rantai pasok pangan regional. Dalam perhelatan ini, pencatatan Rekor MURI untuk instalasi gugunungan hortikultura terbesar yang menampilkan 117 jenis sayuran menjadi simbol kelimpahan hasil bumi kawasan tersebut. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Bandung Barat, Ahmad Fauzan Azima, serta Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian KBB, Heru Budi Purnomo, menyampaikan apresiasi atas kontribusi petani dalam menjaga ketahanan pangan daerah.

Kendati demikian, tantangan di tingkat hilir tetap membutuhkan solusi konkret. Direktur PT Pasar Komoditas Nasional (Paskomnas Indonesia), Soekam Parwadi, menilai bahwa keunggulan produksi sayur Lembang harus diimbangi dengan strategi penguasaan pasar yang kompetitif dan kooperatif. Tanpa adanya jaminan penyerap hasil panen dengan harga seimbang, kapasitas produksi yang tinggi berisiko memicu anjloknya harga di tingkat petani.

Anggota Komisi II DPRD Bandung Barat sekaligus Ketua KTNA Jawa Barat, Dedi Hernawan, menambahkan bahwa forum seperti ini semestinya menjadi sarana dialog strategis untuk mempertemukan petani dengan produsen sarana produksi serta pengambil kebijakan.

Di tengah bergulirnya modernisasi ekonomi daerah dan pergeseran lanskap pedesaan Cikole, perayaan Hari Tani ini memancarkan pesan yang jelas: keberlanjutan sektor pertanian tidak cukup diukur dari riuhnya festival atau besarnya angka produksi. Keberlanjutan tersebut sangat bergantung pada hadirnya kebijakan berkeadilan yang mampu menjamin kesejahteraan, stabilitas harga, serta kepastian hidup para petani di lahannya sendiri.
Di akhir perhelatan, kemeriahan warga Desa Cikole makin lengkap setelah Gapoktan Cipta Mekar dari Desa Cikole dinobatkan sebagai Juara 1 Kategori Karnaval berkat kekompakan dan kreasi kebudayaan yang ditampilkan. Desa Cikole berhasil mengungguli Desa Gudangkahuripan yang meraih posisi kedua dan Desa Wangunsari di urutan ketiga. Sementara itu, untuk Kategori Stand Pameran, gelar Juara 1 diraih oleh Desa Wangunsari, disusul Desa Cibodas sebagai Juara 2, dan Desa Mekarwangi di peringkat 3. (aq-nk)