Batujajar, 2 Mei 2026. Ratusan warga memadati area SPPG Pangauban, Kabupaten Bandung Barat, dalam kegiatan pengajian dan tausiah yang digelar Yayasan Azura Berkah Rezeki, acara ini menghadirkan pendakwah Derry Sulaiman, serta sejumlah figur publik seperti Elly Sugigi, DJ Amoy Karamoy, dan Saipul Jamil.
Kegiatan berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Sejumlah tokoh agama setempat turut hadir bersama masyarakat sekitar. Seluruh peserta mendapat jamuan makan yang disediakan oleh pemilik SPPG Pangauban sekaligus penggagas kegiatan, Hendrik Irawan.

Dalam tausiahnya, Derry Sulaiman menekankan pentingnya ketergantungan penuh kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan. Ia mengingatkan bahwa manusia kerap mengalami fluktuasi iman karena tidak konsisten dalam berharap kepada Tuhan.
“Kenapa iman kita turun naik, karena tidak istiqamah berharap kepada Allah. Yang utama itu hanya kepada-Nya,” ujar Derry di hadapan jamaah.
Ia menegaskan bahwa seluruh peristiwa berada dalam kuasa Tuhan. Menurut dia, menggantungkan harapan kepada manusia hanya berujung kekecewaan. “Berharap pada makhluk akan kecewa. Semua dalam genggaman Allah,” katanya.
Derry juga mengajak jamaah untuk membiasakan memulai setiap aktivitas dengan menyebut nama Tuhan. “Mulai segala urusan dengan bismillah, akhiri dengan alhamdulillah,” ucapnya.

Selain itu, ia menyoroti perbedaan mendasar antara kehidupan dunia dan akhirat. Dunia, kata dia, bersifat sementara, sedangkan akhirat bersifat kekal. Perspektif ini, menurutnya, penting untuk menjaga keseimbangan hidup.
“Dunia itu hanya sebentar saja. Akhirat itu selamanya,” kata Derry.
Ia juga mengingatkan pentingnya ibadah sebagai fondasi kehidupan. “Siapa yang memperbaiki salat, maka Allah akan memperbaiki hidupnya,” ujarnya.
Dalam konteks sosial, Derry menilai kegiatan seperti majelis ilmu memiliki dampak luas, tidak hanya secara spiritual, tetapi juga sosial. Ia menyebut langkah menghadiri pengajian sebagai investasi jangka panjang.
“Siapa yang melangkahkan kaki ke majelis ilmu, akan dimudahkan di akhirat,” katanya.

Sementara itu, Hendrik Irawan menyatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat nilai spiritual di tengah masyarakat, sekaligus mendukung program penyediaan makanan bergizi.
“Alhamdulillah, tanggapannya sangat positif. Saya juga memohon doa agar program MBG ini bisa menjadi yang utama bagi anak bangsa kita, agar tumbuh besar, kuat, dan sehat,” kata Hendrik.
Ia menyebut respons warga cukup antusias, terutama dengan kehadiran sejumlah artis. Kehadiran mereka dinilai mampu menarik partisipasi masyarakat secara lebih luas.
“Respons warga sangat bahagia. Kami juga menyediakan makanan gratis untuk warga, wartawan, dan semua yang hadir,” ujarnya.

Hendrik menambahkan, ke depan pihaknya ingin menjadikan SPPG Pangauban sebagai salah satu pusat layanan terbaik dalam penyediaan makanan bergizi.
“Harapannya, bisa menjadi percontohan dan dikenal luas. Kami akan terus menjaga kualitas menu dan pelayanan,” katanya.
Ia juga membuka ruang kritik dari masyarakat sebagai bagian dari evaluasi. “Kami terbuka terhadap kritik. Jika ada yang kurang, akan kami perbaiki,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Saipul Jamil menyoroti aspek teknis pengelolaan dapur dan kualitas makanan. Ia menilai fasilitas yang ada telah memenuhi standar kebersihan dan cita rasa.
“Dapurnya bersih dan makanan yang saya coba juga enak. Ini bisa menjadi contoh bahwa program MBG harus menyajikan makanan berkualitas,” kata Saipul.

Ia mengingatkan agar pelaku usaha tidak semata mengejar keuntungan, tetapi juga memperhatikan kualitas dan tanggung jawab terhadap konsumen, terutama anak-anak.
“Jangan hanya jadi pengusaha. Harus benar-benar memberikan makanan yang sehat dan enak,” ujarnya.
Saipul juga menyinggung pentingnya evaluasi dalam pelaksanaan program, terutama jika ditemukan masalah di lapangan. Ia menilai kualitas makanan tidak boleh dikompromikan, mengingat program ini menyangkut kepentingan publik.
“Kalau tidak mampu, lebih baik jujur. Jangan sampai anggaran negara terbuang karena makanan yang tidak berkualitas,” katanya.

Derry Sulaiman, dalam sesi terpisah, menilai pengelolaan fasilitas seperti dapur MBG membutuhkan profesionalisme. Ia mengingatkan bahwa niat baik harus diiringi dengan kompetensi.
“Kalau pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, akan membawa kehancuran. Tapi saya melihat ini dikelola oleh orang yang ahli,” ujarnya.

Ia berharap fasilitas tersebut dapat berjalan optimal dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Kegiatan pengajian ini menjadi titik temu antara pendekatan spiritual dan sosial. Di satu sisi, tausiah memperkuat dimensi keagamaan. Di sisi lain, penyediaan makanan gratis dan pengelolaan dapur bergizi menegaskan fungsi sosial yang lebih konkret.

Bagi warga yang hadir, acara ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan ruang interaksi yang menggabungkan nilai keagamaan, kebersamaan, dan pelayanan publik dalam satu rangkaian kegiatan. (aq-nk)