Kemarau Berkepanjangan Ancam Ketersediaan Pakan, Bandung Barat Perkuat Cadangan Ternak

Bandung Barat

Bandung Barat, 24 Sept 2026 Kemarau berkepanjangan yang berlangsung sejak pertengahan tahun mulai menekan ketersediaan hijauan pakan ternak di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Kondisi tersebut terutama dirasakan peternak ruminansia yang masih mengandalkan rumput segar sebagai sumber utama pakan.

Kondisi ketersediaan air untuk ternak berdasarkan pemantauan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat masih relatif aman. Namun, berkurangnya hijauan menjadi persoalan yang perlu diantisipasi karena dapat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak dan biaya produksi peternak.

Dampak kemarau mulai dirasakan sejak Juni hingga Juli 2026 dan memasuki periode yang lebih kering pada Agustus-September. Dalam kondisi tersebut, sebagian peternak dilaporkan mengurangi pemberian hijauan hingga sekitar 50 persen dan menggunakan jerami padi kering sebagai bahan pakan alternatif.

Jerami padi dapat membantu memenuhi kebutuhan bahan pakan, tetapi kualitas nutrisinya berbeda dibandingkan hijauan segar. Karena itu, perubahan pola pemberian pakan perlu dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi ternak agar tidak berdampak terhadap kondisi tubuh maupun produktivitas.

Keterbatasan hijauan juga dipengaruhi belum optimalnya pengelolaan sebagian kebun rumput. Jumlah peternak yang secara khusus menanam hijauan unggul masih terbatas. Pada musim penghujan, kebutuhan rumput relatif lebih mudah dipenuhi. Sebaliknya, saat kemarau panjang, sebagian peternak harus mencari pakan hingga ke luar Kabupaten Bandung Barat.

Daerah yang menjadi tujuan pencarian pakan antara lain Subang, Purwakarta, dan Sumedang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pakan tidak hanya berkaitan dengan jumlah hijauan yang tersedia di tingkat peternak, tetapi juga dengan kemampuan menyediakan cadangan sebelum memasuki musim kering.

Tekanan terhadap pasokan turut tercermin dari perubahan harga sejumlah bahan pakan. Harga tebon jagung yang sebelumnya sekitar Rp800 per kilogram meningkat menjadi sekitar Rp900 per kilogram. Sementara itu, harga rumput odot naik dari sekitar Rp750 menjadi Rp900 per kilogram.

Kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya menjamin ketersediaan pakan. Produsen rumput juga menghadapi penurunan stok akibat kondisi lahan dan cuaca. Dengan demikian, peternak menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni meningkatnya biaya memperoleh pakan dan semakin terbatasnya pasokan.

Komoditas yang berpotensi terdampak mencakup sapi potong, sapi perah, kambing, dan domba. Berdasarkan data sementara 2026, populasi sapi potong di Kabupaten Bandung Barat mencapai 5.960 ekor, sapi perah 26.717 ekor, kambing 14.744 ekor, dan domba 184.123 ekor.

Sapi potong tersebar di 16 kecamatan. Populasi terbesar antara lain berada di Kecamatan Cisarua sebanyak 2.046 ekor dan Lembang sebanyak 1.464 ekor. Adapun sapi perah tersebar di empat kecamatan, yakni Lembang, Parongpong, Cisarua, dan Ngamprah, dengan populasi terbesar di Lembang sebanyak 15.714 ekor.

Di tengah keterbatasan hijauan, produksi ternak secara umum masih cenderung stabil. Peternak melakukan penyesuaian melalui penggunaan pakan alternatif dan meningkatkan pemanfaatan konsentrat berprotein tinggi sebagai pelengkap atau pengganti sebagian hijauan.

Namun, penggunaan pakan alternatif membutuhkan pengelolaan yang tepat. Penambahan konsentrat memang dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi peningkatan penggunaannya juga dapat menaikkan biaya produksi. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan penting bagi peternak agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengganggu keberlanjutan usaha.

Gambaran kondisi tersebut terlihat pada Kelompok Tani Jaya Siliwangi di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua. Kelompok tersebut mengelola sekitar 70 ekor sapi perah dan mulai menghadapi kesulitan memperoleh hijauan untuk memenuhi kebutuhan ternaknya.

Produktivitas kebun rumput pada musim kemarau dilaporkan turun drastis dan diperkirakan hanya sekitar 30 persen dibandingkan produksi pada musim penghujan. Untuk memenuhi kebutuhan pakan, peternak mencari rumput ke wilayah lain, membeli jerami padi kering, serta menambah ampas tahu dan konsentrat sapi perah.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat drh. Wiwin Aprianti, M.Si., mengatakan kondisi tersebut perlu direspons melalui perencanaan pakan yang lebih baik, terutama sebelum periode kemarau berlangsung.

“Kondisi kemarau yang berlangsung saat ini mulai memberikan dampak terhadap ketersediaan hijauan pakan, khususnya bagi peternak yang masih mengandalkan rumput segar sebagai sumber pakan utama,” kata Wiwin.

Menurut dia, persoalan yang dihadapi peternak bukan hanya berkurangnya volume pakan. Penurunan kualitas hijauan juga perlu diperhatikan karena rumput yang terlalu tua atau mengalami kekeringan dapat memiliki nilai nutrisi berbeda dibandingkan hijauan dalam kondisi optimal.

Wiwin mengimbau peternak mulai menyiapkan cadangan pakan dan tidak menunggu sampai pasokan hijauan benar-benar sulit diperoleh. Sumber pakan lokal dapat diolah menjadi pakan awetan, antara lain dalam bentuk silase atau hay.

Kabupaten Bandung Barat memiliki sejumlah sumber bahan pakan dari sektor pertanian dan kegiatan agroindustri. Jerami padi, tebon jagung, limbah agroindustri, ampas tahu, dan konsentrat merupakan sejumlah bahan yang telah dimanfaatkan peternak sebagai bagian dari strategi menghadapi keterbatasan hijauan.

“Dinas akan memperkuat pemantauan kondisi pakan dan air di sentra-sentra peternakan melalui UPTD, BPP, dan penyuluh, sehingga apabila terjadi kekurangan pakan yang signifikan, dapat diketahui dan ditangani lebih awal,” ujar Wiwin.

Penguatan pemantauan tersebut diarahkan agar persoalan pakan dapat diketahui sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih besar terhadap kondisi ternak. Selain ketersediaan bahan pakan, kondisi air minum juga tetap menjadi perhatian, terutama ketika suhu lingkungan meningkat dan curah hujan rendah.

Ke depan, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat akan memperkuat sosialisasi penyimpanan cadangan pakan pada musim penghujan. Peternak juga akan didorong mengenali dan memanfaatkan bahan pakan alternatif sesuai kebutuhan masing-masing jenis ternak.

“Kita perlu membangun sistem ketahanan pakan ternak, sehingga cadangan pakan sudah tersedia sebelum memasuki periode kemarau,” kata Wiwin.

Langkah tersebut menempatkan pengelolaan pakan sebagai bagian dari perencanaan usaha peternakan, bukan hanya tindakan ketika terjadi kekurangan. Ketersediaan cadangan pakan dapat membantu peternak mengurangi ketergantungan terhadap pasokan rumput segar yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca.

Dinas juga mengingatkan peternak untuk memastikan ketersediaan air minum yang cukup serta memantau kondisi tubuh dan produktivitas ternak. Apabila terjadi penurunan kondisi ternak atau kesulitan memperoleh pakan, peternak diminta segera berkoordinasi dengan penyuluh atau petugas peternakan di wilayah masing-masing.

Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung pada September, penguatan cadangan pakan menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan di Kabupaten Bandung Barat. Upaya tersebut sekaligus menuntut pengelolaan sumber daya lokal yang lebih terencana agar kebutuhan pakan tetap dapat dipenuhi ketika produksi hijauan menurun. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *